Misteri dan Keberadaan Kampung Pitu

oleh -361 views

ZETIZEN RADAR CIREBON –Kota Yogyakarta, kota yang merupakan ibukota dan pusat pemerintahan Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, Indonesia. Selain kaya akan kebudayaan dan sejarah yang dijunjung tinggi, Yogyakarta juga memiliki kekayaan alam yang beragam dan melimpah. Beberapa dari kekayaan alam tersebut memiliki daya tarik dan nilai historis tersendiri, salah satunya yang masih terkenal karena sejarah dan misterinya adalah Gunung Api Purba Nglanggeran. (sabrina)

 

Gunung di Bawah Lautan

Gunung Api Purba Nglanggeran menjadi satu dari berbagai objek wisata yang ada di Kota Yogyakarta. Objek wisata yang satu ini terkenal karena asal muasal keberadaannya yang sangat unik karena dahulunya gunung ini berada di dasar lautan, dan juga merupakan gunung berapi yang aktif. Gunung Api Purba Nglanggeran saat ini memiliki bentuk seperti gugusan batu – batu raksasa yang menjulang tinggi yang diisi dengan berbagai macam tumbuhan dan hewan.

 

Hasil gambar untuk Gunung Api Purba Nglanggeran
Source: Okezone Lifestyle

Baca juga : Gunung Merapi Dan Mitos Menyeramkannya

Keberadaan Kampung Pitu

Seperti objek wisata di Yogyakarta lainnya, di balik keindahan serta mempunyai sejarah yang unik, gunung tersebut masih menyimpan beberapa hal serta kisah misteri di dalamnya. Salah satunya yang akan dibahas kali ini adalah keberadaan sebuah kampung yang dijuluki Kampung Tujuh atau Kampung Pitu di puncak Gunung Api Nglanggeran. Kampung ini terbilang unik karena, ada satu kepercayaan yang sudah ada dan diterapkan sejak dahulu dan dipercaya secara turun menurun sampai sekarang.

Hasil gambar untuk kampung pitu di gunung api Nglanggeran
Source: Boombastis.com

Kepercayaan tersebut adalah aturan di wilayah kampung ini hanya boleh dihuni oleh tujuh kepala keluarga, tidak boleh lebih dan kurang. Jika lebih dari tujuh maka kepala keluarga yang ke delapan akan menderita penyakit dan konon akan berujung kematia. Jika kurang dari tujuh maka akan ada wabah penyakit yang akan menyerang seluruh warga.

Kepercayaan ini menyebabkan Kampung Pitu hanya boleh dihuni oleh tujuh orang. Jika terdapat anak dari satu kepala keluarga menikah maka ia akan dikeluarkan dari Kampung Pitu. Mereka yang keluar dari kampung tersebut akan menetap di bawah atau lereng gunung.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *