Serupa Namun Taksama, Game Mobile Korea Bantah Jiplak Demon Slayer

oleh -614 views
indozone

ZETIZEN RADAR CIREBON – Jika kamu mendengar kata plagiat apa yang ada di benak kamu?, mirip?, sama?,atau jiplak?. Kata plagiat atau Plagiarisme biasa dipakai untuk meraup keuntungan sifatnya mirip kejahatan.

Hal ini juga terjadi oleh Kimetsu no Yaiba, yang belum lama ini ada sebuah game mobile asal Korea Selatan yang mirip dengannya. Dari segi animasi sudah jelas jelas mirip Demon Slayer, namun pihak game membantah tuduhan tersebut, padahal art-nya mirip sekali dengan Demon Slayer. Lantas apa alasan dibalik tuduhan tersebut?. (seno)

1. Game Sword of the Demon

Sword of the Demon dan dirilis oleh developer Tennine. Game yang dirilis di Google Play minggu lalu tanggal 24 April yang di-publish oleh Justicesoft. Justicesoft ididirikan di tahun 2014 oleh Kwon Daehyun, yang pernah meng-handle game Lost Saga dan Survival Project.

Game ini berkisahkan seorang kaka beradik bernama Tatsuya dan Kasumi yang mana keluarga miskin mereka dibantai oleh sekumpulan iblis.

2. Kesamaan dengan Demon Slayer

Selangkah dari perilisannya bagi para gamer Korea Selatan langsung menyadari kemiripan antara Sword of the Demon dengan Kimetsu no Yaiba. Baik judul maupun sinopsis cerita memiliki kesamaan dengan seri manga karangan Koyoharu Gotōge ini. Bahkan sosok Tatsuya dan Kasumi sendiri sekilas mirip dengan sang protagonis Kimetsu no Yaiba yakni Tanjiro dan Nezuko.

Game RPG ini memiliki sistem idle action dimana pertarungan berjalan otomatis. Beberapa gamer juga melihat Sword of the Demon memiliki gameplay mirip (juga diduga plagiat) dengan Sword Master Story.

Baca juga: Kimetsu no Yaiba akan Diadaptasikan kedalam Game PS4

3. Developer membantah keras Plagiat

Menanggapi tuduhan tersebut, developer Tennine dengan cepat menyangkalnya. “Terdapat kemiripan pada konsep memburu setan dan desain karakter yang mengenakan pakaian Jepang,” ujar perwakilan Tennine yang menyebutkan kemiripan tersebut hanyalah kebetulan saja.

Beberapa gamer Korea Selatan pun memproteskan kejadian tersebut. Sebagian bahkan menyebutkan predikat developer plagiat yang biasanya disematkan ke industri game Tiongkok kini berpindah ke Korea Selatan.

Sumber: idntimes

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *