Energi Baru Terbarukan (EBT) di Indonesia

oleh -614 views

ZETIZEN RADAR CIREBON – Indonesia merupakan negara kepulauan dengan potensi Energi Baru Terbarukan (EBT) Salah satu terbesar ke-10 dunia. Dengan potensi panas bumi terbesar ke-2 dunia. Namun dengan pernyataan ini apakah masyarakat luas sudah mengerti akan dampak dari EBT itu sendiri? (nisa)

Berikut adalah fakta bahwa pada tahun 2025 bauran EBT nasional sebesar 23%. Namun hingga saat ini pada pemanfaatan Energi Baru Terbarukan berada kurang dari 15%. Yang terbesar dari itu ialah pemanfaatan aliran sungai atau PLTA  yang sudah puluhan tahun lalu berkembang di Indonesia. Realisasi tersebut masih mini. Hingga saat ini realisasi listrik EBT baru sebesar 10,4 Gigawatt (GW) atau hanya 2,4% dari total potensi EBT Indonesia yang kira2 mencapai 442 GW.

 

Baca Juga : Lawan Hoax, Berikut Cara Ketahui Situs yang Kredibel

 

Pada sisi lain, ada target bauran EBT yang harus terkejar sebesar 23% pada tahun 2025. Hingga saat ini, total bauran EBT baru mencapai 9,15%. Khususnya pada sektor kelistrikan, hingga Mei 2020 baru sekitar 14,21% porsi EBT dari produksi listrik nasional.

“Sehingga ini gap-nya signifikan, dan ini perlu ada upaya percepatan. Inilah tantangan kami, harus mempunyai extra ordinary effort untuk mencapai kesana,” jelas Toto dalam webinar pekan lalu.

Oleh sebab itu, sambungnya, pemerintah melakukan restrukturisasi dan refocusing program EBT, termasuk di dalamnya membuat kebijakan yang lebih menarik bagi investasi dan pengembangan listrik EBT. Sehingga bisa semakin kompetitif untuk bersaing dengan energi fosil.

 

Diagram Prospek Pengembangan EBT – RUPTL dan Strategi Penciptaan Pasar Energi, Image Source : EBTKE

 

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) saat ini masih menanti persetujuan Presiden Joko Widodo atau Jokowi terkait beleid yang mengatur mengenai harga beli energi dari pembangkit listrik berbasis energi baru dan terbarukan (EBT). Ia berharap dengan hadirnya aturan baru ini investasi pada sektor EBT akan semakin menarik. Apalagi mengingat target investasi pada sektor EBT hingga 2024 mencapai US$ 20 miliar atau sekitar Rp 280 triliun (asumsi kurs Rp 14.400/US$). Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM FX Sutijastoto mengatakan draft perpres EBT tersebut saat ini telah tersampaikan kepada Presiden. “Sudah berada pada tangan Presiden, tinggal menunggu tandatangan. Untuk proses data draftnya sudah kami serahkan ke Setneg,” ujarnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *