Unsur Budaya Dari Film Cahaya Dari Timur: Beta Maluku

oleh -18 views

ZETIZEN RADAR CIREBON – Dalam Film Cahaya Dari Timur: Beta Maluku kita bisa belajar tentang Budaya Indonesia khususnya Budaya Maluku. Selain itu, kita juga bisa belajar tentang sejarah yang pernah terjadi di maluku. Cahaya Dari Timur: Beta Maluku adalah sebuah film karya Visinema Picture Production. Film ini rilis pada 9 Juni 2014 dengan Glenn Fredly dan Gita Wirjawan sebagai produser dan Angga Dwimas Sasongko sebagai sutradaranya. Ceritanya berasal dari kisah nyata berdasarkan pengalaman Irvan Ramly sebagai penulisnya. (Indah)

Berlatar Maluku khususnya Ambon, Cahaya dari timur: Beta Maluku mengisahkan tentang konflik Maluku yang terjadi pada tahun 1999. Film tersebut mengandung nilai-nilai sosial budaya dan ketepatan fakta sebagai elemen penting. Meski awalnya bercerita tentang konflik, namun film ini tidak terfokus pada cerita konfliknya.

Chico Jericho memerankan sosok Sani Tawainella, ia melatih anak-anak bermain sepak bola setiap hari hingga meraih gelar juara sepak bola nasional Jakarta. Cahaya dari Timur: Beta Maluku mengandung pesan toleransi dan mampu menggambarkan cerita persatuan.

Berikut ini nilai pengetahuan budaya dan sejarah yang bisa kita ambil dalam film Cahaya Dari Timur: Beta Maluku. Mari kita simak..

Baca Juga: WhatsApp Bakal Punya Fitur Baru, Secanggih Apa?

1. Dialognya menggunakan Bahasa Maluku

Secara keseluruhan bentuk komunikasi antar pemerannya menggunakan Bahasa Maluku. Bahkan, tokoh-tokoh yang memainkannya pun orang-orang yang asli berdarah Maluku. Dari film ini kita bisa mengetahui seperti apa Bahasa Maluku. Tentu memiliki perbedaan dengan bahasa daerah lain. Akan tetapi, seiring berjalannya waktu Bahasa Daerah asli Maluku bercampur dengan Bahasa Melayu.

2. Mata pencaharian utamanya adalah nelayan

Karena sebagian besar letaknya pesisir pantai. Maka, mayoritas para penduduk bekerja sebagai nelayan. Mereka mencari ikan dan menjualnya di pasar.

3. Tarian adat Maluku

Sekilas dalam film ini menayangkan sebuah tarian adat Maluku. Tarian ini terlihat seperti tarian cakalele. Tarian ini biasanya ada saat acara acara sakral seperti menyambut tamu istimewa atau mengiringi orang-orang yang akan bepergian untuk tujuan agar mendapat keberhasilan.

3. Sejarah Konflik 1999

Konflik pernah terjadi pada tahun 1999. Hal ini terjadi karena berbagai macam faktor. Ada yang mengatakan bahwa konflik ini terjadi karena adanya perbedaan agama. Namun, konflik antara Maluku dan Maluku Utara ini sebenarnya terjadi karena faktor lain juga, seperti politik, ekonomi dan adanya perselisihan antara TNI dan Polri

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *