Cuplikan Novel Field of Gold Bab 6

oleh -118 views

ZETIZEN RADAR CIREBON – Halo sobat, seletah membawakan yang sebelumnya kami kembali membawakan cuplikan dari novel China berjudul Field of Gold atau ladang emas, yuk simak. Kini kita akan mengintip bab 6. (Nindi)

Cuplikan Field of Gold Bab 6

“Kenapa ia pingsan? Apa kata dokter?” Yu Tua tahu menantu keduanya memang kurang istirahat.

“Nenek melarang memanggil dokter. Ka berkata Ibu akan baik-baik saja setelah tidur!” Yu Xiaocao menemukan kesempatan untuk mengadu.

“Tidak masuk akal! Selesai makan, panggil Dokter You. Jangan biarkan penyakit kecil berubah menjadi parah,” Yu Tua mengerutkan kening saat memaksakan diri menghabiskan sup pasta kacang lalu menyeka mulutnya.

Nyonya Zhang dengan enggan bergumam, “Kita harus mengeluarkan uang jika memanggil dokter! Putera ketiga akan mengikuti ujian wilayah ibukota! Jika kita menghabiskan uang untuk keluarga Yu Hai sehingga tidak memiliki cukup uang untuk biaya perjalanannya, ia pasti akan marah kepadamu…”

Yu Tua mengerutkan kening, membanting sumpitnya ke meja, dan berkata, “Keluarga kita tidak semisikin itu! Setiap tahun, penghasilan Yu Hai lebih dari selusin tael [1] dari berburu, apalagi penghasilannya dari memancing setiap hari! Putera ketiga sudah belajar bertahun-tahun, tetapi ia bahkan belum lulus ujian tingkat kabupaten. Aku rasa ia harus berhenti belajar. Seharusnya kita bisa menghemat uang agar dapat membeli beberapa hektar tanah untuk diolah.”

Dengan kondisi Keluarga Yu saat ini, jika tidak membiayai studi putera ketiga selama lebih dari satu dekade, mereka bisa hidup lebih nyaman. Bahkan jika mereka makan nasi putih dan tepung gandum setiap hari dengan bebas, mereka masih berkelimpahan makanan. Namun, pembayaran untuk guru privat dan biaya hidup cukup menguras keluarga petani kelas menengah. ”

Apa? Pria tua! Peramal pernah mengatakan bahwa seseorang dalam keluarga kita mendapat takdir untuk menjadi pejabat pemerintah! Aku masih mengandalkan putera ketiga memberiku gelar ‘nyonya yang mulia’! Bahkan kalaupun harus menyerahkan segalanya, aku akan tetap membiayai studinya!” Meskipun Nyonya Zhang sedikit takut pada suaminya, ia memutuskan untuk berjuang keras untuk masa depan puteranya dan kebanggaannya sendiri.

Yu Tua memelototi istrinya, tetapi tidak melanjutkan pembicaraan. Ia melemparkan mangkuknya dan berbicara dengan suara meredam amarah, “Aku akan mengolah tiga hektar tanah pertanian kita! Ngomong-ngomong, Xiaolian, masak semangkuk mie untuk ibumu dan tambahkan dua telur goreng. Ia pasti kelelahan beberapa hari belakangan ini!”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.