Sneak Peak Assassin Farmer Chapter 3

oleh -135 views

ZETIZEN RADAR CIREBON – Sebelum kalian membaca keseluruhan bagian dari novel Assassin Farmer chapter 3 ini, kamu bisa cek spoilernya dulu nih. Ini adalah kelanjutan dari episode yang lalu. (Nindi)

Sneak Peak Assassin Farmer Chapter 3

Su Shulian menggunakan batu untuk mengukir garis baru pada dinding. Ia idak bisa menahan rasa cemas dalam hatinya. Lari dari hutan ini akan menjadi kepentingan utamanya.

Awalnya, berpikir bahwa ia berada pada tepi hutan, ia melihat sekeliling terus selama enam hari ke segala arah, tapi tidak membuahkan hasil. Tidak ada perubahan pada pemandangan, tidak peduli arah mana dia habiskan setengah hari berjalan. Pada akhirnya, ia hanya bisa kembali tanpa daya.

Melihat ke bawah pada serigala-serigala bayi yang senang bermain, “Xiaochun” dan “Xiaoxue”, Su Shuilian tidak bisa menahan senyumnya. Untungnya, ia menyuruh mereka menemaninya. Jika bukan karena mereka, ia tidak akan mampu bertahan dalam sepuluh hari terakhir ini. Bahkan jika ia tidak kelaparan atau kedinginan sampai mati, ia pasti sudah menjadi makanan binatang liar.

Berpikir sampai saat ini, Su Shuilian masuk ke dalam gua dan berjalan menuju beberapa rak pengering sederhana yang terbuat dari cabang-cabang pohon, yang tergantung beberapa daging kering.

Di samping rak pengering tergerai dua potong bulu Harimau Putih, yang telah Su Shuilian kuliti.

Itu benar, itu adalah Harimau Putih yang sama, yang telah tewas bersama dua Serigala Raksasa, yang telah menghabiskan Su Shuilian dua hari untuk ia kuliti. Dua serigala bayi telah membawanya ke sumber air terdekat – aliran air kira-kira tiga puluh meter, melengkung dan sempit. Setelah mencuci bulu harimau secara menyeluruh, ia menggantungnya sampai kering.

Setelah terjemur, kulit harimau mulai perlahan menyusut, mengering dengan lembut. Berpikir tentang bagaimana malam ini ia bisa tidur beralaskan bulu Harimau Putih yang lembut dan hangat dan menghindari tertusuk oleh cabang-cabang kering yang tidak nyaman, Su Shuilian tidak bisa menahan senyum.

Dengan lembut ia memijat tangannya yang telah kasar. Karena harus mengeluarkan lebih banyak tenaga sejak datang ke sini, tangannya telah mendapatkan banyak goresan dan luka. Ia hanya bisa menghela napas dalam-dalam: tidak ada jaminan bahwa ia bisa lolos dari hutan ini, jadi ia bahkan tidak bisa mulai berpikir untuk menjahit. Ia harus bertahan hidup lebih dulu sebelum memikirkan hal lain.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.