Sneak Peak Novel Lucia Episode 1

oleh -334 views

ZETIZEN RADAR CIREBON – Mari kita lanjut intip kisah hidup Lucia dalam novelnya. Sstt ini juga bisa jadi spoiler buat webtoonnya lho. Kamu bisa cek pembahasan sebelumnya berikut. (Nindi) 

Cover Novel Lucia
Source: Novel Update

Sneak Peak Lucia Episode 1

Lucia benci membuka matanya setiap pagi. ‘Ah … migrain sialan ini. Kenapa aku harus mengalami rasa sakit yang sama dua kali dalam kehidupanku?’

Lucia bangun sambil memegangi kepalanya yang sakit. Kehidupannya berjalan persis seperti mimpinya. Begitu ia mulai mengalami menstruasi pada usia 15 tahun, ia mulai menderita migrain parah setidaknya sekali dalam sebulan dan paling parah akan terjadi sekitar tiga sampai empat kali sebulan. Walaupun itu bukanlah hal yang serius, tapi akan menjadi penyakit kronis yang menyiksanya selama sisa hidupnya.

Baca Juga: Manhwa Baru, Sesungguhnya Akulah yang Asli

Pada saat Lucia berusia 18 tahun, ia benar-benar percaya bahwa ia telah melihat masa depannya sendiri melalui mimpinya. Ia telah berusaha keras mengubah kehidupannya. Banyak hal telah berubah saat masa depannya.

Tetapi terkadang, lari dari masa depan adalah hal yang mustahil dan tidak ada yang yang dapat ia lakukan untuk mengubahnya. Contohnya saja pada saat musim panas ketika dia berusia 13 tahun, telah terjadi hujan yang lebat, hal itu telah membanjiri seluruh lantai pertama istana. Musim dingin berikutnya, akibat banjir telah menyebabkan kekurangan kayu bakar. Ia menghabiskan seluruh musim dingin menggigil dalam kedinginan.

Ketika ia berusia 15 tahun, ia mulai menstruasi dan menderita migrain. Itulah keajaiban masa depan. Bahkan walaupun mengetahui apa yang akan terjadi, tidak ada hal yang dapat ia lakukan untuk mengubahnya.

Ketika ia berusia 19, Raja akan meninggal. Lucia akan menikah dengan Count Matin si babi. Itu adalah bagian dari masa depan yang tidak bisa Lucia ubah. Ketika ia menyadari hal ini, ia merasa putus asa. Apa gunanya mengetahui masa depan? Rasanya seperti surga menarik kakinya, lalu mengubah segalanya menjadi lelucon.

Ia terpaku dalam kamar dalam keputusasaan, tetapi pada akhirnya ia menerima nasibnya. “Bahkan jika aku mati kelaparan, tidak ada yang akan mengetahuinya.” Itu seperti menghirup udara segar, ia tidak lagi merasakan kesedihan yang membebani hatinya.

Lucia membuka jendela kamarnya. Udara pagi yang sejuk mengalir dan memenuhi ruangan. Ia bersandar pada ambang jendela dan membiarkan angin yang membekukan meniup seluruh tubuhnya. Hal itu seolah ia sedang menghadapi nasib buruknya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.