Biografi Abdul Haris Nasution “Pak Nas” Part 2

oleh -234 views

ZETIZEN RADAR CIREBON – Lanjutan dari biografi Pak Nas part 1. Perang dingin di antara keduanya muncul ketika ia tidak bisa menerima intervensi politisi sipil dalam persoalan internal militer. Ia lalu mengajukan petisi agar Bung Karno membubarkan Parlemen (Peristiwa 17 Oktober 1952). (Indah)

Karena dianggap menekan Presiden akhirnya Pak Nas dicopot dari jabatannya. Tapi, konflik internal AD tak kunjung reda, sehingga tahun 1955 Bung Karno memberikan lagi jabatan yang sama. Hubungan keduanya pun mulai membaik. Bahkan KSAD jadi co-formateur dalam pembentukan Kabinet Karya dan Kabinet Kerja.

Selanjutnya, giliran Pak Nas yang menyeberang ke pentas politik. Tahun 1957, terjadi pemberontakan PRRI Permesta, Bung Karno menyatakan SOB (negara dalam keadaan perang). Ia ditunjuk sebagai Penguasa Perang Pusat dan pemberontakan bisa dipatahkan dengan cepat. Tapi, di konstituante, para anggota parlemen terus berdebat tentang UUD baru.

Hubungan Pak Nas dan Presiden Soekarno

Pertengahan 1959, perdebatan menjurus pada perpecahan. Sebagai Penguasa Perang, Pak Nas mengajukan gagasan pada Bung Karno untuk “kembali ke UUD 1945”. Tangga15 Juli 1959, keluarlah Dekrit Presiden yang bersejarah itu. Tapi bulan madunya dengan Soekarno tidak berlangsung lama.

Sejak awa11960-an, hubungan kedua tokoh itu mulai renggang. Ia tak bisa menerima sikap Bung Karno yang dekat dengan PKI. Pertentangan antara keduanya akhirnya menjadi rivalitas terbuka pasca peristiwa G 30 S. Pak Nas bekerja sama dengan Pangkostrad Mayjen Soeharto, menumpas habis PKI. Bung Karno tidak mau “menyalahkan” PKI. Akhirnya Pemimpin Besar Revolusi itu pun terguling. Nasution nyaris menjadi korban G 30 S.

Namanya termasuk dalam daftar penculikan. Beruntung, ia dapat lolos dari kepungan, walaupun kehilangan putrinya, Ade Irma Suryani. Pak Nas memang sosok yang berani terang-terangan menentang komunis. Pada tahun 1948 ia memimpin pasukan Siliwangi menumpas pemberontakan PKI di Madiun. Ia juga aktif menghalangi manuver-manuver PKI, antara lain menentang usul mempersenjatai buruh dan tani.

Baca Juga: Biografi Ilmuwan Muslim Ibnu Sina dan Ibnu Rusyd

Awal pemerintahan Orde Baru, Pak Nas sempat berperan. Semula, beberapa tokoh AD, seperti Kemal ldris, H.R.Dharsono, dan Sarwo Edi, mendesaknya untuk menjadi presiden. Tetapi, Pak Nas hanya menjadi Ketua MPRS. Tahun 1968, lewat keputusannya, MPRS mengangkat Soeharto menjadi presiden. Kemesraan Nasution-Soeharto juga tidak lama. Setelah Soeharto berkuasa, Nasution malah tersingkirkan.

Keterlibatannya dalam Petisi 50 dianggap sebagai biang keladinya. Puncaknya, 1972, setelah 13 tahun memimpin angkatan bersenjata, Nasution dipensiunkan dini dari dinas militer. Sejak saat itu Nasution tersingkir dari panggung politik. Dalam masa tuanya, Pak Nas sempat dibelit persoalan hidup.

Akhir kehidupan Sang Jenderal

Rumahnya di JI. Teuku Umar Jakarta, tampak kusam dan tidak pernah ada renovasi. Secara misterius pasokan air bersih ke rumahnya terputus, tak lama setelah Pak Nas pensiun. Namun, setelah 21 tahun dikucilkan, tiba-tiba Nasution dirangkul lagi oleh Soeharto. Tanggal 5 Oktober 1997, bertepatan dengan hari ABRI, prajurit tua yang dikenal taat beribadah itu dianugerahi pangkat Jenderal Besar bintang lima. Selain Nasution, ada dua jenderal yang menyandang bintang lima sepanjang sejarah RI: yaitu Soedirman dan Soeharto. Abdul Haris Nasution tutup usia di RS Gatot Soebroto, pukul 07.30 WIB, pada tanggal 6 September 2000.

Sumber: 100 Tokoh yang Mengubah Indonesia

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.