Biografi Abdul Haris Nasution Part 1

oleh -330 views

ZETIZEN RADAR CIREBON – Abdul Haris Nasution adalah seorang tokoh yang berpengaruh dalam sejarah revolusi Indonesia. Ia adalah seorang perwira yang gagah berani dan cinta keluarga. Keberuntungan membawanya selamat dari kejaran PKI. Ia menjadi salah satu saksi peristiwa mengerikan itu.(Indah)

Berikut biografi singkat Abdul Haris Nasution yang bersumber dari Buku 100 Tokoh yang Mengubah Indonesia karya Floriberta Aning S.

Abdul Haris Nasution lahir 3 Desember 1918, di Kotanopan, Tapanuli Selatan, Sumatera Utara. Anak petani ini bergelut di dunia militer setelah sebelumnya sempat menjadi guru di Bengkulu dan Palembang. Tahun 1940, ketika Belanda membuka sekolah perwira cadangan bagi pemuda Indonesia, ia ikut mendaftar.

Selanjutnya, ia menjadi pembantu letnan di Surabaya. Tahun 1942 ia mengalami pertempuran pertamanya saat melawan Jepang di Surabaya. Pasukannya bubar. Bersepeda, ia lari ke Bandung. Di kota ini ia bekerja sebagai pegawai pamong praja.

Tidak betah dengan pekerjaan sebagai priyayi, tahun 1943 ia masuk militer lagi dan menjadi Wakil Komandan Barisan Pelopor di Bandung. Setelah Jepang kalah perang, Nasution bersama para pemuda eks-Peta mendirikan Badan Keamanan Rakyat. Karirnya langsung melesat dan Maret 1946, ia menjadi Panglima Divisi Ill/Priangan.

Jadi Wakil Pangsar Sebulan

Mei 1946, Presiden Soekarno melantiknya sebagai Panglima Divisi Siliwangi. Februari 1948, ia menjadi Wakil Panglima Besar TNI (orang kedua setelah Jenderal Soedirman). Tapi, sebulan kemudian jabatan “Wapangsar” dihapus dan ia ditunjuk menjadi Kepala Staf Operasi Markas Besar Angkatan Perang RI. Di penghujung 1949, ia diangkat menjadi KSAD.

Baca Juga: Biografi Ilmuwan Muslim Ibnu Sina dan Ibnu Rusyd

Dalam Revolusi Kemerdekaan 1(1946-1948), ketika memimpin Divisi Siliwangi, A.H. Nasution betul-betul mempelajari arti dukungan rakyat dalam suatu perang gerilya. Dari sini lahir gagasannya tentang metode perang gerilya sebagai bentuk perang rakyat. Metode perang ini dengan leluasa ia kembangkan setelah Pak Nas menjadi Panglima Komando Jawa pada masa Revolusi Kemerdekaan II (1948-1949).

Ia menyusun Perintah Siasat No. I, yang berisi Ujuklak” tentang persiapan perang gerilya. Instruksi tersebut kemudian dikenal sebagai doktrin pertahanan rakyat total”. Doktrin itu sampai hari ini masih dianut militer Indonesia. Pak Nas merupakan sosok yang bisa mengambil jarak terhadap kekuasaan. Meski mengaku mengagumi Soekarno, ia tidak menyangkal kalau sering terlibat kont1ik dengan presiden pertama RI ini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.