Kesederhanaan dan Keluhuran Ilmu Muhammad Hatta

oleh -130 views

┬áZETIZEN RADAR CIREBON – Muhammad Hatta adalah seorang tokoh yang berpengaruh dalam sejarah kemerdekaan Indonesia. Beliau adalah adalah seorang pemimpin bangsa yang gagah berani dan cinta keluarga. Kesederhanaan dan ketinggian ilmunya membuat ia mendapat kepercayaan menjadi wakil presiden pertama Indonesia.(Indah)

Mohammad Hatta lahir di Aur Tajungkang Mandianin, Bukittinggi, Sumatra Barat, 12 Agustus 1902 saat mentari pagi menyingsing. Walau latar belakang pendidikan agamanya kental, pendidikan modern tidak beliau tinggalkan.

Sembari bersekolah di HIS Bukittinggi, ia mengaji secara teratur di bawah ajaran Syeikh Muhammad Djamil Djambek, salah seorang pembaharu Islam di Minangkabau. Saat menempuh pendidikan di MULO, ia memperoleh bimbingan agama dari Haji Abdullah Ahmad, yang juga seorang pelopor pembaharu Islam di daerah tersebut.

Riwayat Pendidikan

Kemudian ia menempuh pendidikan sekolah dagang menengah, Prins Hendrik School, Jakarta. Ia menjadi bendahara Jong Sumatranen Bond (Persatuan Pemuda Sumatra) di Padang, kemudian sebagai bendahara pengurus pusat JBS di Jakarta. Lewat buku-buku yang ia baca, Hatta mampu memilih haluan politiknya menghadapi kolonialisme.

Metode nonkooperatif mulai ia kibarkan tahun 1918 ketika menjabat Ketua Perhimpunan Indonesia, sebuah organisasi pelajar dan mahasiswa Indonesia di Belanda. Saat itu buah pikirannya mulai terkenal lewat berbagai tulisan di media. Karena aktivitas politiknya, sering ia berurusan dengan penguasa Belanda.

Sebelum pengasingan ke Digul dan baru bebas ketika Jepang menduduki Indonesia (Februari 1942), pada 1927, Hatta bersama Ali Sastroamidjojo, Nazir Pamoentjak, dan Abdulmadjid Djojohadiningrat, pernah ditangkap pemerintah Belanda. Mereka mendapat tuduhan jadi anggota perkumpulan terlarang, serta menghasut untuk menentang Kerajaan Belanda. Ia mendapat tuntutan hukuman tiga tahun.

Baca Juga: Biografi Ilmuwan Muslim Ibnu Sina dan Ibnu Rusyd

Tapi, karena pembelaannya berjudul Indonesia Merdeka di pengadilan Belanda, Hatta pun akhirnya bebas. Dalam pledoi itu, lagi-Iagi ia mengecam kolonialisme Belanda di Indonesia. Hatta terkenal sebagai seorang penganut sosialis.

Ia menulis di buletin kaum sosialis macam De Vlain, De Socialist, Recht in Vrijheid. Cita-cita Hatta tak lain adalah Indonesia merdeka yang demokratis. “Daulat tuanku” (idiom yang melambangkan kolonialisme dan feodalisme) dalam kehidupan Indonesia lama harus diganti dengan “daulat rakyat” (idiom yang melambangkan kehidupan demokrasi). Tetapi kedaulatan rakyat yang dicita-citakan Hatta tidak berdasarkan individuc:l.1isme, melainkan rasa kebersamaan. Menjelang Indonesia merdeka, Hatta duduk sebagai anggota BPUPKI.

Sumber: 100 Tokoh yang Mengubah Indonesia

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.