Sejarah dan Pengertian Hari Ibu di Indonesia

oleh -470 views

ZETIZEN RADAR CIREBON – Hari Ibu merupakan sebuah hari peringatan atau perayaan terhadap peran seorang ibu dalam keluarganya, baik untuk suami, anak-anak, maupun lingkungan sosialnya. (fattah)

Cara merayakan peringatan ini biasanya dengan membebastugaskankan ibu dari tugas sehari-hari yang beranggap bahwa tugas tersebut merupakan kewajibannya. Contohnya seperti memasak, merawat anak, dan urusan rumah tangga lainnya.

Di Indonesia, perayaan hari ibu jatuh pada tanggal 22 Desember dan ditetapkan sebagai perayaan nasional.

 

Lihat Juga : Baru Buka Gerai di Indonesia, Taco Bell Langsung Banjir Pelanggan

 

Sementara di Amerika dan lebih dari 75 negara lain, seperti Australia, Kanada, Jerman, Italia, Singapura, Taiwan, dan Hong Kong. Mereka merayakan Hari Ibu atau Mother’s Day (dalam bahasa Inggris) pada hari Minggu di pekan kedua bulan Mei. Pada beberapa negara Eropa dan Timur Tengah. Peringatan Hari Perempuan Internasional atau International Women’s Day jatuh setiap tanggal 8 Maret.

 

Sejarah

 

Hari Ibu di Indonesia dirayakan pada ulang tahun hari pembukaan Kongres Perempuan Indonesia yang pertama, yang digelar dari 22 hingga 25 Desember 1928. Kongres ini diselenggarakan di sebuah gedung bernama Dalem Jayadipuran, yang kini merupakan kantor Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional di Jl. Brigjen Katamso, Yogyakarta. Ada sebanyak 30 organisasi wanita yang berasal dari Jawa dan Sumatra yang hadir pada kongres ini.

Di Indonesia, organisasi wanita telah ada sejak 1912, terinspirasi oleh pahlawan-pahlawan wanita Indonesia pada abad ke-19 seperti Kartini, Martha Christina Tiahahu, Cut Nyak Meutia, Maria Walanda Maramis, Dewi Sartika, Nyai Ahmad Dahlan, Rasuna Said, dan sebagainya. Kongres dimaksudkan untuk meningkatkan hak-hak perempuan di bidang pendidikan dan pernikahan.

Indonesia juga merayakan Hari Kartini pada 21 April, untuk mengenang aktivis wanita Raden Ajeng Kartini. Ini merupakan perayaan terhadap emansipasi perempuan. Peringatan tanggal ini diresmikan pada Kongres Perempuan Indonesia 1938. Pada saat Presiden Soekarno menetapkan Kartini sebagai pahlawan nasional emansipasi wanita dan hari lahir Kartini sebagai memperingati hari emansipasi wanita nasional. Tetapi banyak warga Indonesia yang memprotes dengan berbagai alasan. Salah satunya karena Kartini lebih pro-Belanda daripada tokoh wanita seperti Cut Nyak Dien, dll.

Karena Soekarno sudah terlanjur menetapkan Hari Kartini. Maka Soekarno berpikir bagaimana cara memperingati pahlawan wanita selain Kartini seperti Cut Nyak Meutia, Dewi Sartika, Nyai Ahmad Dahlan, dll. Akhirnya Soekarno memutuskan membuat Hari Ibu Nasional sebagai hari mengenang pahlawan wanita alias pahlawan kaum ibu-ibu dan seluruh warga Indonesia menyetujuinya.

 

Sumber : Ketiks.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *