3 Game Terburuk di Sepanjang Tahun 2020

oleh -322 views

ZETIZEN RADAR CIREBON – 2020 menjadi tahun yang buruk untuk semua orang. Video game menjadi salah satu pilihan banyak orang untuk membebaskan diri dari pandemi global yang hingga sekarang masih menghantui. Tahun ini dipenuhi dengan game bagus untuk menemanimu selama karantina, namun banyak juga game buruk yang harus kamu hindari sejauh mungkin. (mrg)

Pada kesempatan kali ini, kami akan membahas worst of the worst, game dengan resepsi begitu buruk yang dimana reviewer maupun gamer sama-sama setuju untuk tidak merekomendasikannya. Berikut ialah 3 game terburuk tahun ini. Check this out!

 

Fast & Furious Crossroads

 

 

Diumumkan paling terakhir di acara The Game Awards 2019, Fast and Furious Crossroads telah membuat banyak orang skeptis. Banyak yang memandang game ini seperti game mobile hanya dari visualnya semata dan yang menarik ialah game ini dikembangkan oleh Slightly Mad Studios, developer dari Project Cars yang dikenal miliki kualitas grafis fotorealistik.

Saat rilis, skeptisisme pemain memanglah benar. Fast and Furious Crossroads dapatkan review buruk karena visual, voice acting, dan kontrol yang buruk. Game ini seakan-akan seperti Slightly Mad Studios mengambil kontrak cepat kerjakan game lisensi agar dapat mendapat uang tambahan untuk proyek mereka yang sesungguhnya yaitu Project Cars 3.

 

Baca Juga : Microsoft Diserang Hacker Secara Besar-Besaran

 

The Elder Scrolls : Blade

 

 

Fans tahu jika The Elder Scrolls: Blades akan jadi sekedar game filler dengan gameplay yang sangat disederhanakan. Namun, mereka tak berharap game mobile ini menjadi game cashgrab yang paksa kamu untuk “sumbangkan” uang ke kantong Todd Howard.

Kritikus mengkritik gameplay dan combat yang terlalu simplistik dan repetitif. Tiap dungeon dibuat terlalu linear dan kamu tidak punya kebebasan dalam mengeksekusi pertarungan. Interaksi dengan NPC tak lebih dari konfirmasi transaksi dan banyak fitur di game yang mendorong pemain untuk habiskan uang. The Elder Scrolls: Blades menjadi contoh baru game mobile yang manfaatkan brand recognition untuk memancing pemain dan membuat mereka keluarkan uang untuk microtransaction.

 

Warcraft 3 : Reforged

 

 

Warcraft 3 ialah game RTS klasik yang tak hanya layak dicap sebagai klasik. Akan tetapi game ini juga menjadi fondasi lahirnya berbagai genre baru khususnya MOBA. Remake yang dinamai “Warcraft 3 Reforged” mencoba menghidupkan kembali game klasik ini, namun yang dilakukan oleh Blizzard justru sebaliknya.

Remake ini lebih membawa masalah ketimbang hal baru. Upgrade visual yang dijanjikan tidak menggugah sama sekali dan masih terlihat seperti game PC jadul, UI yang masih berantakan untuk monitor widescreen, sinematik yang masih “murahan” dan berbeda drastis dengan apa yang dijanjikan pada preview 2018 lalu, serta remake ini jauh lebih buggy dari versi original.

Untuk memperparah keadaan, Blizzard dengan lancang membuat aturan baru dimana user-generated content akan menjadi hak milik mereka. Keputusan ini seakan Blizzard tak mau proyek sukses seperti DOTA tercipta lagi. Hal ini disebabkan karena mereka tidak mendapat royalti atau kompensasi apapun sebagai penyedia level editor. Maka, mereka merubah aturan biar apabila terjadi lagi fenomena baru dari level editor. Oleh karena itu mereka akan dapatkan untung setidaknya dengan mengambil hak milik ide yang tercipta.

Tak cukup dengan membuat remake ini hanya sekedar “cashgrab” nostalgia. Mereka juga lakukan praktek bisnis anti-consumer yang membuat Warcraft 3 Reforged pantas untuk masuk dalam list ini meski gameplay dan cerita tidak tersentuh.

 

Sumber : Gamebrott

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.