Data Pengguna Facebook Dijual Rp 280.000 di Telegram

oleh -14 views
Source: bgr.com

ZETIZEN RADAR CIREBON – Sebanyak 533 juta data pengguna Facebook, seperti user ID dan nomor telepon (HP) diperjualbelikan secara ilegal oleh hacker, dengan memanfaatkan bot aplikasi pesan instan Telegram. (Indah)

Kasus ini pertama kali terungkap oleh Alon Gal, Chief Technical Officer pada perusahaan keamanan siber Hudson Rock. Menurut Gal, ini adalah imbas dari kebocoran data Facebook yang terjadi pada Agustus 2019 lalu.

Gal turut memaparkan bahwa sang hacker memanfaatkan bot yang tersedia pada aplikasi Telegram. Bot ini memungkinkan seseorang mengetahui user ID pengguna Facebook, apabila mereka sudah mempunyai nomor telepon pengguna yang mereka cari.

Sebaliknya, apabila calon pembeli sudah memiliki user ID Facebook seseorang, maka bot akan mencari nomor telepon pengguna yang bersangkutan.

Agar bisa mengakses data-data ini, peminat harus membeli kredit. Satu kredit perlu untuk setiap satu nomor telepon atau identitas pengguna Facebook yang ingin dapat akses. Adapun patokan harga untuk satu kredit adalah 20 dollar AS (sekitar Rp 282.000).

Sang hacker turut menawarkan pembelian dalam jumlah banyak, yakni sebesar 5.000 dollar AS (sekitar Rp 70,5 juta) untuk setiap 1.000 kredit yang terjual.

Baca Juga: Microsoft Mematenkan Teknologi Chatbot AI dari Kepribadian Manusia

Terkutip dari KompasTekno dari Motherboard, Rabu (27/1/2021), bot ini mengklaim telah menampung ratusan juta data pengguna yang tersebar di berbagai negara, mulai dari AS, Kanada, Inggris, Australia, serta puluhan negara lainnya.

Meski seperti yang tercantum kebanyakan nomor telepon yang bocor berasal dari kebocoran data Facebook pada 2019 lalu, namun kasus ini tetap mengancam risiko pengguna. Sebab, tidak banyak orang yang rutin mengganti nomor pribadi mereka.

Hingga saat ini belum ada kejelasan secara pasti apakah bot yang itu telah dihapus oleh pihak Telegram atau belum. Namun apabila sudah, ironisnya para hacker masih bisa mengakses data-data tersebut melalui internet.

Source: Kompas.com

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *