Kahar, Kisah Perjuangan Hingga Akhir Hidupnya

oleh -490 views
Kahar Muzakkar
Source: smartcitymakassar.com

ZETIZEN RADAR CIREBON – Dalam perkembangannya, APIS meleburkan diri ke dalam usaha perlawanan secara fisik menentang kembalinya penjajah, dengan nama Kebaktian Rakyat Indonesia (KRIS). Daerah operasinya mencakup Karawang, Subang, Tangerang, beberapa daerah di Jawa Tengah serta Jawa Timur. Kahar tidak bertahan lama di KRIS. (Indah)

Sejak awal pembentukan KRIS di Jakarta pada tahun 1945, Kahar sudah menunjukkan ke tidak setujuannya. Tapi, bersama KRIS ia sempat berperan membebaskan 800 tahanan di Nusakambangan, sebagian besar adalah laskar yang berasal dari Bugis-Makassar. Laskar ini kemudian menjalani pelatihan militer di Pingit, Yogyakarta, dan menjadi bagian Angkatan Perang RI yang membantu urusan pada Markas Besar Tentara.

Karir Kemiliteran Kahar

Karir militer Kahar mulai cerah ketika ia mendapat tugas menjadi Komandan Persiapan TRI (Tentara Republik Indonesia) di Sulawesi. Kesatuan tentara di luar Jawa menjadi satu dalam Brigade XVI. Masalah mulai muncul ketika ia mulai tersingkir oleh perwira-perwira yang memang mempunyai pendidikan formal dan kemampuan teknis militer yang memadai, walaupun mereka kurang memiliki kharisma dalam kalangan prajurit.

Bagaimanapun ia adalah tentara yang lahir karena proses “kebetulan”, walaupun pengaruhnya sangat kuat pada anak buahnya. Ia hanya mendapat posisi menjadi orang kedua dalam brigade ini. Dari pengangkatan Letkol J.F Warouw sampai Letkol Lembong sebagai pemimpin brigade, ia menolak mengakui mereka. Bahkan ia memberi instruksi untuk tidak berhubungan mereka “jika tidak seizin atau persetujuannya”.

Selain masalah popularitas kalangan para prajurit, konon pertentangan itu juga dilatarbelakangi oleh persaingan etnis. Kahar merasa orang-orang Manado-Minahasa yang menjadi anak emas dalam kemiliteran yang formal. Kebetulan kedua letkol itu memang berasal dari Minahasa. Kahar pun melepaskan jabatannya sebagai wakil komandan Brigade XVI. Ia mendapat tugas membentuk Komando Seberang yang meliputi Kalimantan, Sunda Kedl, Maluku, dan Sulawesi.

Pimpinan Komandan Grup Seberang lalu diserahkan padanya. Kesatuan inilah yang kemudian menjadi basis kekuatannya dalam gerakan DI/TII di Sulawesi Selatan. Ketika kedudukan Komandan Grup Seberang hapus, Kahar menjadi perwira tanpa jabatan. Ia sempat mendapat tugas ke Sulawesi Selatan, 1950. Sejak saat itu ia tidak pernah lagi kembali dalam lingkungan angkatan perang Republik Indonesia. Ia memutuskan untuk menempuh jalannya sendiri.

Bergabung dengan DI/TII

Ketika merasa semua pengabdiannya tidak mendapat balasan sepadan. Kemarahan makin memuncak saat pemerintah Soekarno menolak masyarakat Bugis-Makasar untuk bergabung dengan angkatan perang RI dalam suatu kesatuan yang mandiri bernama Hasanuddin, pahlawan kebanggaan mereka. Pada tahun 1952, Kahar membentuk brigadenya sendiri. 7 Agustus 1953, secara resmi ia menggabungkan kekuatannya dengan Kartosoewirjo yang memiliki basis pengikut di Jawa Barat. Ia dan para pengikut fanatiknya pun menjadi bagian dari Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII).

Baca Juga: Tokoh Pejuang 45, Pemimpin Gerakan Separatis

Pada paruh pertama dekade 1950-an, gerakan separatisme pimpinan Kahar di Sulawesi Selatan sempat menyulitkan aparat keamanan RI. Tapi seiring berjalannya waktu, kekuatan Kahar makin melemah. Namun ia tetap bertahan di hutan belantara dan tak mau menyerah.

Menurut Anhar Gonggong, pemberontakan Kahar, dalam setiap babak memiliki tipikal yang berbeda. Periode 1950-1952, merupakan wujud dari akumulasi kekecewaan yang ia alami. Mulai 1953 hingga kematiannya, pemberontakannya sudah terlandasi oleh semangat keagamaan Islam. Bersama Kartosoewirjo dan Daud Beureuh, ia menjadi ikon gerakan separatis yang bernuansa agama Islam.

Kahar juga menjadi simbol resistensi daerah terhadap dominasi pusat, yang pernah menjadi ancaman serius bagi perpecahan bangsa pada dekade 50-an. Pemberontakan Kahar yang melibatkan 15.000 pengikut itu berakhir dengan kematian Kahar pada tanggal 2 Februari 1965. Kahar, presiden/khalifah Republik Persatuan Islam Indonesia (RPII), tewas ditembak Kopral Sadeli dari Divisi Siliwangi di pinggir Sungai Lasalo.

Source: 100 Tokoh yang Mengubah Indonesia

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.