Mengenal Ahmad Dahlan Ulama Pendiri Muhammadiyah

oleh -203 views
Source: djawanews.com

ZETIZEN RADAR CIREBON – Umat Islam harus bisa menerima berbagai ilmu pengetahuan dari mana pun sumbernya. Jika sikap mengharamkan sekolah umum itu dipertahankan, ulama akan ditinggalkan umatnya karena tidak bisa menerjemahkan keagamaan secara kontekstual dalam menjawab permasalahan realitas kehidupan. Inilah kegelisahan yang berkecamuk dalam benak Ahmad Dahlan ketika masih muda. Berbekal pendirian ini, Dahlan mulai mendobrak segala tatanan yang sudah mapan. Ialah yang merintis organisasi Islam modern, Muhammadiyah. (Indah)

Sejak zaman kolonial, organisasi sosial umat Islam ini aktif mendirikan sekolah-sekolah umum. Muharnmadiyah telah memberi andil dalam meningkatkan kualitas hidup umat, khususnya lewat pendidikan.

Ahmad Dahlan lahir tahun 1868 dengan nama Mohammad Darwis di kampung Kauman, Yogyakarta. Ia belajar kaidah-kaidah agama dari ayahnya, K.H. Abubakar, penghulu Masjid Agung Yogyakarta.

Sebagaimana umumnya anak Kauman ketika itu, juga kalangan muslim lainnya, Dahlan hanya mendapatkan pendidikan formal lewat pesantren. Sekolah gubernemen alias sekolah umum “haram” hukumnya. Pada usia lima belas, tepatnya pada tahun 1883, Dahlan berangkat ke tanah suci Mekkah guna menunaikan ibadah haji dan sekaligus menimba ilmu agama seperti kiraat, tafsir, tauhid, fikih, tasauf, dan ilmu falak.

Perjuangan Ahmad Dahlan Mencari Ilmu

Lima tahun berada di negeri itu, ia rajin mempelajari pandangan dan sikap tokoh-tokoh pembaharu Islam seperti Ibnu Taimiyah, Jamaluddin Al Afghani, Rasyid Ridla, dan Muhammad Abduh. Bagi Dahlan, mereka adalah ulama-ulama yang mampu mempertahankan prinsip keterbukaan pintu ijtihad yang ada untuk kemudian memilih pendapat yang kebenarannya lebih mendekati petunjuk Alqur’ an dan sunah.

Pada 1902, umtuk kedua kalinya Dahlan berangkat ke Mekkah. Dalam kesempatan ini ia bertemu tokoh yang ia kagumi, yaitu Rasyid Ridla. Pada pertemuan itu mereka banyak mendiskusikan berbagai masalah pembaharuan Islam di dunia.

Dahlan semakin yakin bahwa pengajaran Islam di tanah airnya sudah jauh ketinggalan zaman dan harus ada perubahan  dengan cara yang lebih modern. Keinginan mengajarkan pendidikan agama Islam yang modern mulai ia rintis pada 1911 di Yogyakarta. Ia mendirikan sekolah agama bernama “Muhammadiyah”.

Selain ilmu agama, para siswa juga belajar ilmu umum, macam ilmu berhitung dan dalam tidak tersumber membaca huruf latin. Proses pengajarannya juga tidak dilakukan di surau-surau, namun di kelas-kelas yang mirip sekolah yang didirikan pemerintah kolonial Belanda waktu itu.

Baca Juga: Adam Malik, Pendebat Ulung Mantan Menlu RI

 

Organisasi atau perserikatan “Muhammadiyah” baru resmi berdiri pada 18 November 1912. Melalui organisasi ini, Dahlan menginginkan umat Islam kembali pad a ajaran yang termaktub dalam Alquranulkarim dan ajaran yang tergaris sunah Rasul, sedangkan hal-hal lain yang dari hal itu hendaknya ditinggalkan.

Untuk melaksanakan tujuannya, Muhammadiyah membuka berbagai sekolah dan madrasah. Pada perkembangannya, organisasi ini pun banyak mendirikan lembaga sosial macam panti asuhan dan rumah sakit.

Lebih dari setengah abad setelah berdiri, Muhammadiyah berkembang menjadi organisasi yang berperan penting dalam perubahan politik Indonesia. Muhammadiyah pula yang berhasil menjadikan agama Islam sebagai pegangan dan kepercayaan yang hidup dan aktif di masyarakat. Termasuk memasukkan pelajaran agama dalam kurikulum sekolah dan mengajarkan pengetahuan umum di pesantren-pesantren.

Source: 100 Tokoh yang Mengubah Indonesia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.