Profil Ibnu Sutowo, Mantan Dirut Pertamina Part 2

oleh -190 views

ZETIZEN RADAR CIREBON – Saat membenahi ladang minyak di Pangkalan Brandan, Riau, cikal bakal Pertamina, Ibnu tidak sendirian. Ia minta bantuan J.M. Pattiasina yang sudah berpengalaman dalam keuangan di Shell pada zaman Belanda. Selain itu, Ibnu juga meminta bantuan dua kawan baiknya, Mayor Harijono dan Mayor Geudong. (Indah)

Pekerjaan itu tidak mudah. Banyak pipa minyak tidak terpakai karena tertimbun di hutan hingga penuh karat. Setahun setelah berbenah, ia berhasil mengekspor minyak mentah 1.700 ton senilai US$ 30 ribu ke Amerika Serikat. PI EMSU merupakan tonggak awal perusahaan minyak Indonesia.

Belakangan, perusahaan itu berubah menjadi Permina. Perusahaan inilah yang kemudian menjadi cikal bakal Pertamina. Pada saat yang sama, Ibnu bergerak di bidang lain, seperti real estate, angkutan udara, pabrik baja, dan rice estate. Pada 1960, Ibnu melontarkan ide bagi hasil (production sharing) dengan investor asing yang berminat mengeksplorasi sumber daya alam Indonesia. Ide orisinal itu awalnya dianggap lelucon.

Setelah Orba berkuasa, idenya bisa terealisasi. Ibnu Soetowo memimpin Pertamina dalam era oil booming, sehingga perusahaan milik negara itu bergelimang uang. Pertamina berperan penting sebagai sumber dana Orde Baru. Begitu kayanya, sehingga muncul julukan sinis N negara dalam negara terhadapnya.

Namun suasana bulan madu itu segera berakhir. Pertamina yang ia bangun dengan susah payah, menanggung utang dalam jumlah besar. Rupanya, suasana oil booming menciptakan optimisme berlebihan sehingga Pertamina terlibat ke dalam proyek-proyek yang akhirnya tidak mampu dibiayai.

Baca Juga: Profil Ibnu Sutowo, Mantan Dirut Pertamina Part 1

Ibnu tidak dapat memenuhi kontrak-kontrak yang diteken. Begitu pula dengan komitmen pembayaran. Era Ibnu Soetowo di Pertamina menjadi tonggak memuncaknya inefisiensi akibat kebocoran dan penyelewengan di segala lini. Namun, ia lolos dari jerat hukum. Mensesneg Soedharmono tahun 1980 berkata, “Semua tindakan Ibnu lakukan dengan amat baik. Hanya karena kelemahan di bidang manajerial serta melesetnya dugaan terhadap situasi ekonomi internasional, usahanya itu gagal”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.