Tokoh Pejuang 45, Pemimpin Gerakan Separatis

oleh -375 views
Tokoh Mantan Pejuang 45
Source: kanalpengetahuan.com

ZETIZEN RADAR CIREBON – Nama Abdul Qahhar Mudzakar lebih terkenal sebagai tokoh pemberontak. Namun apabila kita mencermati lebih dalam latar belakang di balik sikap politiknya, kita akan tahu bahwa ia adalah “korban” di balik proses alamiah pembentukan tentara sebagai organisasi yang profesional. (Indah)

Nasibnya seolah mewakili nasib orang- orang daerah yang tidak bisa menentukan nasib sendiri. Qahhar lahir tanggal 24 Maret 1921 di Kampung Lanipa, Distrik Ponrang. Ayahnya bernama Malinrang, keturunan bangsawan yang cukup kaya dan terpandang. Setelah tamat sekolah rakyat di Lanipa, Qahhar melanjutkan studi ke Jawa. Ia memilih Solo dan masuk Sekolah Muallimin yang dikelola Muhammadiyah. Masa studinya hanya berjalan tiga tahun (1938-1941), kemudian terputus karena ia terpikat dengan perempuan asal Solo yang lalu ia nikahi.

Perjuangan Qahhar Mudzakar

Ia kembali ke Lanipa. Keluarga besarnya gempar karena ia membawa istri orang Jawa. Di kampung halarnan, Qahhar aktif dalam organisasi kepanduan yang berafiliasi dengan Muhammadiyah, yaitu Hizbul Wathan. Jepang masuk ke Indonesia, dan Qahhar tertular euforia yang berharap Jepang bisa membebaskan Indonesia dari Belanda. Begitu bersemangatnya, sampai ia rela naik sepeda ke Rappang hanya untuk bertemu pemimpin pasukan Jepang. Singkatnya, ia berhasil menarik hati para saudara tua.

Selama pendudukan Jepang di Sulawesi Selatan, ia bekerja sebagai pegawai Nippon Dohopo di Makassar. Namun di tengah keluarga besar, sikap Qahhar yang anti-feodal membuatnya tersingkir. Ia dituduh memicu permusuhan di kalangan kaum bangsawan Luwu, sehingga terkena hukuman ri-paoppangi tana, atau diusir dari Palopo, tanah kelahirannya.

Baca Juga: Kuliner Khas Indramayu yang Wajib Kamu Cicipi

Qahhar pun kembali ke Solo untuk mendirikan perusahaan dagang dengan nama Usaha Semangat Muda. Ia meluaskan usahanya sampai ke Jakarta dengan mendirikan Toko Luwu. Di tokonya ini, Qahhar beberapa kali mengadakan pertemuan politik. Pasca proklamasi, Qahhar mendirikan Gerakan Pemuda Indonesia Sulawesi (GEPIS) yang lalu berubah menjadi Angkatan Pemuda Indonesia Sulawesi (APIS), bagian dalam Angkatan Pemuda Indonesia (API). Qahhar bersama API ikut terlibat dalam rapat besar Ikada, Jakarta, 19 September 1945. Dalam rapat raksasa yang bersejarah itu, Qahhar bersenjatakan sebilah golok membela Soekarno dan Hatta dari kepungan tentara Jepang.

Source: 100 Tokoh yang Mengubah Indonesia

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.