Pamali: Definisi, Jumlah, dan Nilai yang Terkandung

oleh -120 views

ZETIZEN RADAR CIREBON- Saat kita kecil, pasti pernah mendengar kata pamali, bukan? Biasanya, orang tua kita sering menyebut pamali untuk melarang suatu tindakan tertentu. Lantas, apa definisi pamali, ada berapa, sejak kapan, dan apa nilai-nilai yang terkandung di dalamnya? (arfan)

 

Definisi

Pamali: Definisi, Jumlah, dan Nilai yang Terkandung
Gambar: Kompasiana.com

Pamali menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) adalah tabu; pantangan; larangan. Dengan begitu, pamali dapat dimaknai sebagai pantangan yang harus masyarakat setempat hindari. Bila masyarakat setempat melanggar pantangan tersebut, maka bisa timbul berbagai ‘teguran’ yang sering berkaitan dengan hal-hal mistis.

Baca juga: Tradisi Unik Mandi dari Berbagai Negara, Menarik!

Jumlah Pamali yang Ada di Masyarakat

Ada banyak macam pamali yang beredar di Indonesia
Gambar: TribunJogja

Tak ada yang tahu persis jumlah ‘pantangan’ yang beredar di masyarakat. Namun, berdasarkan jurnal penelitian yang berjudul Pamali Dalam Kehidupan Masyarakat Kecamatan Cigugur Kabupaten Kuningan menjelaskan bahwa ada 188 pamali yang terkumpul dari 10 desa yang terbagi lagi menjadi enam klasifikasi:

  1. 30 untuk wanita hamil,
  2. 14 untuk anak-anak,
  3. 79 untuk kebiasaan sehari-hari,
  4. 24 untuk pengaturan waktu,
  5. 13 untuk laki-laki dan perempuan, serta
  6. 28 hanya berlaku di daerah/desa tertentu.

Sebenarnya, ada lebih dari 188 pamali, jika kita hitung dari seluruh daerah di Indonesia. Beberapa di antaranya tentu ada yang pernah kita dengar, seperti Jangan duduk di depan pintu! Nanti kita akan sulit mendapatkan jodoh dan Jangan menggunting kuku pada malam hari, nanti umur kita menjadi singkat. Tentunya masih banyak lagi yang pernah kita dengar.

 

Nilai yang Tekandung di Dalamnya

Meski terkesan mistis dan mengekang penganutnya, ternyata pamali mempunyai nilai-nilai positif, lho. Salah satu contohnya adalah “Jangan duduk di depan pintu! Nanti akan sulit mendapatkan jodoh” yang sebenarnya duduk di depan pintu akan menghalangi jalan bagi orang yang ingin keluar atau masuk. Selain itu, ada juga yang berbunyi seperti ini, “Jangan berkeliaran di waktu Maghrib, nanti bisa diculik Wewe Gombel!” yang sebenarnya Maghrib merupakan waktunya untuk sholat dan beristirahat.

Hal ini juga berkaitan dengan Hadits Rasulullah yang menganjurkan jika akan tiba waktu Maghrib maka hendaknya pintu-pintu rumah ditutup. Rasulullah bersabda: “Jika masuk waktu sore, maka tahanlah anak-anak kalian karena setan sedang berkeliaran di waktu itu. Jika sudah lewat waktu sesaat setelah malam, bolehlah kalian lepaskan anak-anak. Tutuplah pintu-pintu dan sebutlah nama Allah karena setan tidak bisa membuka pintu yang tertutup.”

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *