Euthanasia Coaster, Bunuh Diri Dengan Euphoria

oleh -734 views
Source: H Positive (Gambar hanyalah ilustrasi)

ZETIZEN RADAR CIREBON – Praktik euthanasia sendiri masih menjadi kontroversi. Namun hal tersebut tidak menghalangi beberapa orang untuk berkreatif menciptakan euthanasia yang tidak biasa dan terkesan unik. Seperti seniman bernama Julijonas Urbonas asal Lithuania dengan Euthanasia Coaster yang memberikan arti baru kepada “killer coaster“. (Zhorif)

Source: Wikipedia

Euthanasia Coaster adalah roller coaster yang di desain untuk mengakhiri hidup manusia dengan euforia secara manusiawi. Walaupun terdengar aneh dan terkesan tidak mungkin, namun realitanya memang begitu. Secara teori, mereka yang menaikkinya akan mengalami kematian yang cepat dan tidak akan merasakan rasa sakit, justru kemungkinan akan merasakan euforia.

Baca juga: Gustave, Buaya Raksasa Pembunuh 300 Manusia

Source: Julijonas – Urbonas

Roller Coaster yang merupakan ide Julijonas Urbonas ini di mulai dengan menaikki tanjakan nyaris vertikal setinggi 510 meter. Setelah sampai puncak yang memerlukan waktu 2 menit (bertujuan untuk memberikan penumpang pikiran kedua), kereta coaster akan terjun dengan kecepatan 360 kilometer per jam dan melewati 7 vertical loop yang semakin mengecil dengan G-Force yang cukup tinggi untuk membunuh manusia.

Source: Telemachus Unedited

Penyebab utama kematian dari Euthanasia Coaster adalah tidak adanya oksigen yang masuk ke otak akibat G-Force setinggi 10 g selama 1 menit penuh. Sehingga berujung kematian cepat yang pasti. Riset membuktikan bahwa ketika otak manusia kekurangan oksigen, penderita akan mengalami euforia. Maka dari itu, Urbonas mengklaim bahwa ini adalah cara yang baik untuk melakukan euthanasia.

Baca juga: Hutan Aokigahara dan Misteri-Misterinya

Source: Pinterest

Banyak yang tidak terima jika kita sendiri yang mengendalikan kematian, karena di anggap melawan kehendak. Walaupun begitu, ada juga yang menginginkan kematian yang spektakuler, dan Euthanasia Coaster merupakan salah satu cara yang sempurna. Kita hanya perlu menunggu sampai ada yang membangun dan membuatnya menjadi kenyataan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *