WHO Menemukan 6 Fakta Terkait Asal-Usul Corona Virus!

oleh -90 views
Foto : Tim WHO dan pihak terkait sedang berada di dekat Wuhan Institute of Virology

ZETIZEN RADAR CIREBON – Setelah satu tahun lebih tidak terungkap, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) resmi merilis hasil investigasi asal usul Corona. Tim investigasi WHO sebelumnya menjalankan misi untuk menguak sumber Corona ke China. Kemudian, tim WHO tersebut menemukan 6 fakta baru terkait asal-usul Corona Virus! (jerrell)

Berdasarkan penelitian dari 16 hingga 24 Februari 2021 tersebut, ditemukan beberapa hal yang belum terjawab, berikut rangkumannya dikutip dari laman resmi WHO, Selasa (30/3/2021)!

COVID-19 berasal dari kelelawar

Dari analisis filogenetik yang WHO lakukan dengan whole genome sequencing, kelelawar terbukti menjadi asal usul Corona, ia merupakan reservoir virus SARS-CoV-2 atau COVID-19. Namun, host perantara yang lantas menularkan virus dari kelelawar ke manusia belum bisa WHO identifikasi.

Rute penularan COVID-19 di awal merebak

Seperti diketahui, rute penularan COVID-19 paling umum terjadi melalui percikan droplet dari orang yang terinfeksi Corona. Saat pertama kali Corona merebak di Wuhan, tidak ada bukti COVID-19 bisa menular lewat udara atau airborne transmission.

Sementara jejak COVID-19 pada feses memang ditemukan di beberapa pasien Corona China, tetapi hingga saat ini tidak ada bukti hal tersebut juga bisa menjadi media penyebaran Corona.

Penularan di Wuhan

Sejumlah kasus Corona awal yang teridentifikasi di Wuhan WHO meyakini terinfeksi dari hewan, banyak sumber yang melaporkan ke WHO para pasien terpapar Corona mengunjungi atau bekerja di pasar basah Wuhan.

Sementara hewan yang menginfeksi pasien dan WHO menduga menjadi perantara dari kelelawar belum WHO ketahui. Angka reproduksi COVID-19 yang WHO temukan juga relatif tinggi yaitu 2 hingga 2,5 sementara pengetatan mobilitas di awal wabah Corona merebak di Wuhan belum Pemerintah China lakukan saat itu.

Wabah dipicu klaster keluarga

Di China, penularan Corona antarmanusia sebagian besar terjadi di lingkungan keluarga. Tim pakar investigasi WHO menyebut dari 344 klaster dengan total 1.308 kasus (dari total 1.836 kasus yang terlaporkan) di Guangdong China dan Provinsi Sichuan, 85 persen di antaranya berasal dari keluarga.

Sampel post mortem pasien COVID-19 China

Sampel post mortem pasien Corona pria berusia 50 tahun mengambil organ paru-paru, hingga jantung. Pemeriksaan histologis menunjukkan kerusakan alveolar difus bilateral dengan eksudat fibromyxoid seluler. Paru-paru menunjukkan pasien mengalami gangguan pernapasan akut sindrom (ARDS).

Gejala COVID-19

Gejala COVID-19 yang terungkap di awal wabah Wuhan juga tak spesifik, ada yang tak bergejala hingga mengalami pneumonia berat dan meninggal dunia. WHO mencatat beberapa gejala COVID-19 di China dalam dokumen asal usul Corona hasil investigasi Februari lalu.

Berdasarkan 55.924 kasus yang terkonfirmasi di laboratorium China, tanda dan gejala khas meliputi:

  • Demam (87,9 persen)
  • Batuk kering (67,7 persen)
  • Kelelahan (38,1 persen)
  • Berdahak (33,4 persen)
  • Sesak napas (18,6 persen)
  • Sakit tenggorokan (13,9 persen)
  • Sakit kepala (13,6 persen)
  • Mialgia atau artralgia (14,8 persen)
  • Menggigil (11,4 persen)
  • Mual atau muntah (5,0 persen)
  • Hidung tersumbat (4,8 persen)
  • Diare (3,7 persen)
  • Hemoptisis (0,9 persen)
  • Konjungtiva (0,8 persen).

“Pengidap COVID-19 umumnya mengalami gejala ringan rata-rata 5-6 hari setelah infeksi (rata-rata masa inkubasi 5-6 hari, kisaran 1-14 hari),” jelas WHO.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *