Konsumsi Makanan Ultra Proses Memiliki Risiko Kesehatan

oleh -144 views

ZETIZEN RADAR CIREBON – Di dunia modern sekarang ini, kita sangat mudah menjumpai makanan ultra proses (ultra-prosessed food/UPF) atau secara mudah Sobat pahami sebagai makanan kemasan. Padahal, konsumsi makanan ultra proses ini memiliki sejumlah risiko kesehatan yang patut Sobat waspadai. (Jerrell)

Dokter Ahli Gizi sekaligus penulis, Dr. dr. Tan Shot Yen, M.Hum, menjelaskan makanan ultra proses adalah bagian dari makanan yang terproses dan telah tertambahkan food addivities, seperti gula, garam, lemak, perisa, penguat rasa, dan lain sebagainya dalam pembuatan makanan ini.

Makanan ultra proses juga bisa Sobat pahami sebagai pangan praktis dan Sobat sukai lidah (palatable) atau makanan hasil pengolahan industri untuk “menyerupai” keaslian bahan alaminya.

Berbagai contoh makanan ultra proses di antaranya, yakni:

  • Es krim
  • Minuman ringan
  • Kecap
  • Saus
  • Sereal berperisa
  • Cokelat kemasan
  • Pasta
  • Biskuit
  • Permen
  • Mi instan
  • Nugget
  • Sosis
  • Selai
  • Margari
  • Yogurt berbagai rasa

“Makanan ultra proses, istilahnya adalah makanan yang terproses kebangetan. Makanan ultra proses bersifat addictive karena makanan ini diciptakan agar orang yang mengonsumsinya kecandungan,” jelas dr. Tan saat menjadi narasumber dalam Sesi Bincang Santai membahas tema “Kenali Bedanya Makanan Orang & Dagangan Orang: Apakah Produk Pabrikan sebuah Kebutuhan atau Kecanduan” yang diadakan Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia (AIMI) secara daring, Minggu (25/4/2021).

dr. Tan pun memberikan pemahaman reflektif mengenai perbedaan antara “makanan orang” dengan “dagangan orang” untuk bisa dipertimbangkan dan dimengerti oleh masyarakat.

Berikut garis besar perbedaanya:

Makanan orang:

  • Yang mau Sobat makan ada dulu
  • Jumlahnya lebih banyak dari yang makan
  • Sobat makan sebagai kebutuhan
  • Memenuhi kebutuhan
  • Tidak butuh pembeaan ahli karena sudah baik dari asal mulanya
  • Tidak butuh daftar kompoisis
  • Memenuhi prinsip kodrat

Dagangan orang:

  • Yang mau makan ada dulu, menjadi produk “budaya” dan “peradaban”
  • Jumlahnya tergantung permintaan
  • Produsen jual agar kecanduan
  • Memanuhi prinsip ekonimi
  • Butuh pembelaan dan penjelasan agar tampak “sehat”-nya di mana
  • Ada persyaratan label dan komposisi
  • Sejalan prinsip teknokrat, yakni tepat, cepat, akurat, efisiensi, praktis, murah

“Gampangnya begini, ambil contoh terong. Terong itu ‘makanan orang’. Beda cerita dengan boba yang populer sekarang ini. Itu ‘dagangan orang’ sebagai produk budaya. Tidak ada orang tua zaman dulu minum teh ditambahkan dengan bola-bola,” jelas dr. Tan.

Bahaya makan makanan ultra proses

Dia menjelaskan, ketimbang makanan uprpocessed food atau makanan tidak terproses seperti buah-buahan, sayuran, padi-padian, kacang-kacangan, telur, daging, dan lain sebagainya, makanan ultra proses jelas lebih tidak sehat ketika Sobat konsumsi.

Hal yang membuat makanan ultra proses tidak sehat bukan hanya kandungan zat gizi yang pakar anggap berisiko, melainkan juga terkait dengan perubahan fisik dan kimia yang terjadi akibat proses pengolahan tingkat tinggi.

Berdasarkan penelitian, dr. Tan menyebut beberapa masalah pangan ultra proses yang bisa terjadi, di antaranya yakni:

  • Sebagai pencetus obesitas
  • Pencetus gangguan gizi pada tumbuh kembang anak
  • Pencetus penyakit tidak menular, seperti diabetes, hipertensi, sindom metabolik
  • Mudah Sobat dapat, praktis, ekonomis, atau bersifat adiktif karena makanan ini terrancang untuk menciptakan kecanduan

“Nah, selanjutnya, yang perlu diperhatikan adalah, apakah Anda sebenarnya selama ini sudah benar-benar masak atau cuma memproses produk ultra proses? Jangan-jangan Anda bikin sop, tapi proteinnya dari sosis. Pernah baca daftar komposisinya?” tutur dr. Tan.

Dia mengungkapkan, bahwa tidak aneh jika banyak orang, termasuk anak-anak doyan makan makanan ultra proses karena makanan ini dirancang agar bisa membuat kecanduan.

“Kenapa anak doyan (makanan ultra proses)? Lidahnya dibentuk begitu, agar kecanduan. Hal ini menjadi ajaran masif di seluruh dunia, sehingga 25 persen kalori manusia bisa berasal dari produk ultra proses,” tutur dr. Tan.

Dia menekankan hingga saat ini belum ada penelitian yang menemukan manfaat konsumsi makanan ultra proses bagi kesehatan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *