Masjid Agung Buntet Pesantren : Nilai Filosofis yang Kental

oleh -43 views
PENUH FILOSOFI: Salah satu potret sudut Masjid Agung Buntet Pesantren yang kaya akan nilai filosofi dan tradisi.

CIREBONMasjid merupakan tempat sentral dari pengajaran Islam di Indonesia. Tidak terkecuali pesantren yang memasukan masjid sebagai unsur pokok berdirinya pesantren. Salah satunya adalah Pondok Buntet Pesantren yang memiliki masjid bernama Masjid Agung Buntet Pesantren yang dibangun sekitar tahun 1833 M dan memiliki nilai filosofis yang kental.

Menurut Sesepuh Pondok Buntet Pesantren, KH Hasanuddin Kriyani, pesantren ini dibangun bersamaan dengan dibangunnya Benda Kerep dan Gedongan yang dibangun tahun 1833 M. Masjid ini mengikuti gaya dari Masjid Agung Demak.

Mulanya, masjid ini hanya sebatas padepokan dari Pangeran Cakrabuana, tepatnya sebelum menjadi Pesantren Buntet. Beberapa sesepuh juga pernah berdiam di daerah ini. Salah satunya adalah Syekh Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati yang diajak iktikaf oleh Pangeran Cakrabuana di tempat ini.

Hal tersebut diketahui menurut cerita Sesepuh Buntet Pesantren almarhum KH Abdul Hamid Anas, ketika Sunan Gunung Jati datang dari Mesir untuk menyebarkan agama Islam di Indonesia. Beliau diarahkan oleh Pangeran Cakrabuana untuk tinggal di padepokan yang sekarang menjadi masjid di Buntet.

Hingga pada tahun 1883 M ada seorang dermawan yang ingin membangunkan masjid di tiga pesantren yaitu Benda Kerep, Gedongan, dan juga Buntet. Dan pada akhirnya berdiri masjid yang pada mulanya didirikan oleh Mbah Muqoyyim.

Dahulu, bentuk dari masjid ini adalah bangunan panggung. Sebabnya untuk menghindari banjir yang datang dari sungai dekat masjid. Namun, sekarang masjid ini sudah direnovasi.

Penuh Nilai Filosofis

Sementara itu, menurut KH Ade Mohammad Nasihulumam, imam Masjid Agung Buntet Pesantren, hal yang masih dipertahankan salah satunya adalah bangunan utama yang hanya menampung 100 jamaah dengan imam. Sehingga terdapat mimbar yang tidak boleh dipindah. Untuk itu, terdapat 99 jamaah dengan 1 imam yang melambangkan 99 asmaul husna ditambah Allah menjadi 100.

“Makanya tempat mimbar terdapat di dalam bangunan utama masjid, sehingga minus 1 menjadi 99 jamaah. Sehingga, asmaul husnanya 99 ditambah Allah menjadi 100,” ujarnya.

Lebih lanjut dijelaskannya, terdapat juga 9 pintu utama yang menggambarkan Nabi Muhammad SAW, Abu Bakar As Sidiq, Umar bin Khattab, Usman bin Affan, Ali bin Abi Thalib, Imam Malik bin Anas, Muhammad bin Idris Asy’syafi’i, Ahmad bin Hambal Asy-Syaibani, dan Abu Hanifah, An-Nu’man bin Tsabit.

Kemudian susunan dari atap masjid ini juga berjumlah tiga yang melambangkan iman, Islam, ihsan. Pancatan juga berjumlah lima dan ditambah satu. Lima adalah rukun Islam dan satunya lagi adalah rukun iman.

KH Ade juga menambahkan, dalam bulan Ramadan ini, terdapat beberapa adat istiadat yang turun-temurun dilakukan setiap tahunnya. Salah satunya adalah tradisi dugdag yang biasanya dilakukan dengan cara menabuh bedug saat mulai menjelang Magrib untuk memberitahu masyarakat tentang awal Ramadan atau Idul Fitri.

“Jika di Buntet sudah dugdag, jadi masyarakat menganggap besok adalah 1 Ramadan atau awal Idul Fitri. Dahulu lebih meriah lagi, karena menggunakannya meriam,” ujarnya.

Selain itu ada kegiatan lain, yaitu tradisi ngejaburi. Tradisi ini dilakukan dengan pembuatan kue oleh warga yang akan dikirimkan pada warga lain dan juga masjid. Nantinya, kue tersebut akan dimakan pada saat Tarawih di masjid tersebut.

Hal yang terakhir dilakukan adalah tadarusan. Kegiatan ini dilakukan dengan mengaji Alquran dan disimak oleh masyarakat sekitar. Kemudian, dalam satu bulan Ramadan akan dua kali mengkhatamkan Alquran, karena setiap harinya akan dibacakan 2 juz. (jerrell)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *