Menteri Keuangan Sri Mulyani Pernah Takut Mata Kuliah Akuntansi

oleh -159 views

ZETIZEN RADAR CIREBON – Menteri Keuangan Sri Mulyani mengatakan meski saat ini dia bekerja mengurusi keuangan negara, ia pernah takut pada mata kuliah akuntansi. Itu ia alami waktu duduk di bangku kuliah. (jerrell)

Lulusan Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Indonesia (UI) ini bahkan mengaku pernah kesulitan untuk menyelesaikan soal neraca keuangan.

“Masuk ekonomi saya senang ada statistik, kalkulus, aku suka itu masih dekat dekat sama eksakta. Eh, tiba-tiba datang pengantar akuntansi, oh my God, apa ini makhluk aku enggak tahu, doesn’t make any sense di kepala saya, susah banget. Aku dulu takut banget sama akuntansi,” ceritanya dalam acara Cerita Parapuan, Jumat (23/4) malam.

Maklum saja, semasa duduk di bangku SMA Sri Mulyani mengambil jurusan eksakta atau sains. Namun, ia memutuskan untuk mengambil jurusan ekonomi karena tertarik pada humaniora, ilmu-ilmu yang berhubungan dengan kemanusiaan.

Jurusan yang diambil anak nomor 7 dari 10 orang bersaudara ini juga berbeda dengan kakak-kakaknya yang bergelut di bidang sains.

“Kakak saya masuknya di kedokteran atau di ITB, insinyur. Tiba-tiba, anak yang nomor tujuh ini masuk ke ekonomi, jurusan sosial padahal SMA-nya eksakta,” terangnya.

Namun, Ani, sapaan akrabnya tidak pantang menyerah terhadap ketakutannya pada akuntansi itu. Alhasil, kini ia berhasil menduduki posisi Menteri Keuangan yang setiap tahun harus menghasilkan neraca laporan keuangan negara dari semua kementerian/lembaga.

Tidak hanya itu, ia juga harus menyusun Anggaran Pendapatan dan Belanja (APBN) yang nilainya hingga ribuan triliun. Selain itu, laporan keuangan negara tersebut diaudit oleh para akuntan profesional di Badan Pemeriksa Keuangan (BPK).

“Itulah kalau kita punya komitmen jangan cepat give up (menyerah). Kalau kita lagi tidak suka, jangan kemudian menyerah, kalau tidak suka itu jangan-jangan yang kalian tidak suka baik untuk kamu,” tuturnya.

Sahabat dengan Menlu

Dalam kesempatan itu, bendahara negara juga menceritakan persahabatannya dengan Menteri Luar Negeri Retno Marsudi. Keduanya merupakan teman sekolah, yakni SMA N 3 Semarang.

“Saya dan Mbak Retno itu dari SMA yang sama di Semarang, SMA 3. Saya jurusan IPA, mbak Retno jurusan IPS, makanya beliau kemudian masuk ke UGM saya ke UI,” terangnya.

Keduanya bertemu kembali ketika Sri Mulyani menjabat sebagai Menteri Keuangan era Presiden SBY, sedangkan Retno masih menjadi diplomat di Kementerian Luar Negeri. Secara tidak sengaja, Sri Mulyani dan Retno bertemu ketika menangani kasus tsunami Aceh.

“Waktu itu kami menghadapi tsunami Aceh, kemudian kami membuat semacam pertemuan internasional kemudian ada Asia Afrika, saya lihat dia beberapa kali, saya bilang oh kamu sekarang ada di Kemenlu, so we connect again,” tuturnya.

Namun, setelah itu Sri Mulyani menjadi direktur pelaksana di Bank Dunia sehingga harus meninggalkan Indonesia. Ketika Presiden Joko Widodo menjabat, Retno ditunjuk sebagai Menteri Luar Negeri.

“Saya mengucapkan selamat, oh that’s cool, pertama kali Menlu perempuan,” ujarnya.

Ia mengaku kerap berbagi cerita dengan Retno mengenai dinamika di kabinet. Terlebih, mereka sesama menteri perempuan yang tidak banyak ditemukan dalam kabinet. Secara umum, Sri Mulyani mengaku senang bisa mendapatkan sahabat untuk berbagi cerita dan saling mendukung.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *