Waspada, Ini Tren Kejahatan Siber Selama 2021

oleh -42 views

ZETIZEN RADAR CIREBON – Aktivitas Work From Home (WFH) sudah berjalan hampir satu tahun, mengikuti anjuran masa pandemi untuk social distancing. Hal ini menimbulkan risiko dan keresahan baru, yakni kejahatan siber (cyber crime). Pasalnya, pekerjaan dilakukan dengan menggunakan perangkat jaringan rumah dan perangkat pribadi. (cva)

Keamanan data cloud juga perlu kita perhatikan lebih serius pada masa sekarang. Para penjahat siber akan menyasar perangkat-perangkat dan jaringan rumahan yang kita gunakan.

1. Tersebarnya data pribadi karena travelling

Apa hubungannya travelling dengan tersebarnya data pribadi? Dalam kondisi normal, mungkin memang tak ada hubungannya. Namun dalam kondisi pandemi seperti ini, banyak negara yang mewajibkan contact tracing untuk para wisatawan.

Negara tertentu akan meminta contact tracing. Artinya, banyak data yang harus dibagikan wisatawan ketika mereka memutuskan untuk traveling. Misalnya nama, alamat pribadi, lokasi, riwayat kontak. Ini semua adalah data pribadi.

Hal ini tak akan menjadi masalah untuk negara yang sudah punya undang-undang perlindungan data pribadi (PDP). Namun untuk negara seperti Indonesia, yang saat ini masih menunggu UU PDP, hal ini akan jadi masalah tersendiri. Perusahaan perlu mengumpulkan data dengan cara yang aman dan memastikan adanya proteksi terhadap data yang terkumpul.

2. 5G

Sudah banyak negara yang mulai menggelar jaringan 5G, namun perusahaan perlu berhati-hati dalam menggelar jaringan generasi ke-5 ini. Utamanya dalam hal keamanan siber, yaitu jangan sampai masalah keamanan siber yang ada di 3G dan 4G ikut terbawa ke 5G.

Ditambah lagi, akan semakin banyak yang terhubung lewat jaringan 5G, maka perusahaan perlu memasang lapisan keamanan yang lebih banyak.

Bukannya tidak aman, dari segi kecepatan, 5G lebih baik dari 4G. Namun konektivitas dengan banyak perangkat menjadi pertanyaan tersendiri. Bagaimana keamanannya?

3. Keamanan Cloud

Semakin banyak perusahaan yang menggabungkan cloud dalam model bisnis mereka karena kenyamanan dan skalabilitas yang  ditawarkan.

Namun, ini menjadi permukaan serangan yang relatif baru dan meningkat seiring semakin banyaknya bisnis yang bergabung.

Mungkin ada jumlah pelanggaran yang meningkat pada infrastruktur jika perusahaan membuat kesalahan pemula. Jika mereka tidak menerapkan langkah-langkah serta solusi keamanan tepat, ini dapat menjadi kasus bagi pengguna baru.

4. Industrial Control Systems (ICS)

Pada tahun ini, Asia Tenggara telah menjadi salah satu wilayah yang paling parah terkena serangan ICS menurut beberapa peringkat.

Badan Enkripsi Siber Nasional (BSSN) Indonesia juga nampaknya giat meningkatkan strategi ketahanan siber melalui kemitraan dengan negara-negara seperti Australia sejak tahun lalu.

Demikian pula, Filipina juga telah mengadopsi strategi di mana ia bermitra dengan sektor swasta untuk pertahanan dunia maya yang lebih efektif.

Antisipasi

Setelah menjelaskan beberapa ancaman yang akan terjadi, berikut ini kami sarankan langkah-langkah untuk mengantisipasi terjadinya kejahatan siber.

Pertama, mendorong edukasi dan pelatihan karyawan untuk lebih memahami tentang bagaimana cara terbaik dalam menjaga keamanan perusahaan ketika membawa pekerjaan ke rumah, termasuk pelarangan untuk menggunakan perangkat pribadi.

Lalu, mempertahankan kontrol akses yang ketat untuk jaringan perusahaan maupun jaringan rumah, termasuk zero trust atau tidak mudah mempercayai sumber.

Kemudian, menggandakan praktik terbaik keamanan dan program manajemen patch. Terakhir, meningkatkan deteksi ancaman dengan ahli keamanan untuk melindungi pekerjaan di cloud, email, PC, jaringan, dan server sepanjang waktu.

Aplikasi juga harus diunduh menggunakan store resmi. Melihat review aplikasi, positif atau negatif, dan juga reputasi penyedia. Perlu bersikap semakin kritis.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *