,

Inilah 10 Sneakers Legendaris Dunia, Kamu Punya? (part 2)

oleh -122 views

ZETIZEN RADAR CIREBON – Di part sebelumnya, fakta-fakta menarik dari lima Sneakers legendaris udah dikupas singkat nih gengs. Dan di part kali ini, kita bakal tuntasin sekaligus ngupas sejarah singkat dari Sneakers-sneakers sepanjang masa yang kece abis! (az)

Baca part sebelumnya disini.

6. NIKE AIR FORCE 1

Nike Air Force (1982)

Pertama kali diperkenalkan pada tahun 1982, sepatu ini dinamakan mengikuti pesawat terbang Presiden Amerika Serikat dan merupakan langkah pertama Nike ke dunia basket.

Melalui Air Force 1, perancang sepatu Nike legendaris, Bruce Kilgore, ingin memperkenalkan teknologi Air kepada pemain basket.

Dia pun mengambil inspirasi dari sepatu mendaki gunung yang lebih rendah di belakang daripada di depan untuk menambahkan fleksibilitas pada Air Force 1. Setelah itu, Kilgore juga menciptakan sepatu tersebut dengan motif alas kaki yang melingkar (cupsole).

Berbagai teknologi tersebut membuat Air Force 1 sebagai sepatu basket paling mutakhir pada masanya.

Pemain NBA, yaitu Moses Malone (Philadelphia 76ers), Michael Cooper (LA Lakers), Bobby Jones (Philadelphia 76ers), Calvin Natt (Portland Trail Blazers), Mychal Thompson (Portland Trail Blazers), dan Jamal Wilkes (LA Lakers) sebagai bintang iklan Air Force 1 gemar mengenakan sepatu ini.

Tidak mengherankan bila sepatu tersebut langsung sukses di pasaran. Sayangnya, Nike sempat menghentikan produksi sepatu ini pada tahun 1984. Namun, permintaan dari para fans memaksa Nike untuk memproduksi Air Force 1 kembali pada tahun 1986.

Kini, Air Force 1 telah menjadi salah satu sneakers paling legendaris dalam sejarah.

7. ADIDAS SUPERSTAR

Adidas Superstar (1969)

Ketika kali pertama diluncurkan pada tahun 1969, Superstar merupakan sepatu basket pertama yang low-top atau yang tidak menutupi mata kaki dengan berbahan dasar kulit.

Namun, hal yang paling diingat dari Superstar adalah penutup jarinya yang terbuat dari karet. Sepatu ini bahkan diberi nama panggilan Shell Toes berkat keunikan tersebut, seperti yang didokumentasikan oleh seorang penulis, Bobbito Garcia, dalam bukunya Where’d You Get Those?: New York City’s Sneaker Culture: 1960-1987.

Untuk melakukan risetnya, Garcia datang ke Brooklyn dan menemukan bahwa hampir semua orang mengenakan Superstar. “Orang-orang bahkan tidak tahu bahwa namanya Superstar, mereka menyebutnya ‘Shell Toes’,” ucap Garcia.

Namun, transisi Superstar dari sepatu olahraga menjadi gaya hidup baru dimulai pada tahun 1980, ketika sepatu ini diadopsi oleh dunia hiphop.

Run-DMC, grup hiphop paling legendaris di AS, mengenakan sepatu ini sebagai identitas mereka. Grup tersebut mengenakannya tanpa tali dengan lidah yang menjuntai dan dalam sekejap, hampir semua anak muda di AS meniru gaya tersebut.

8. ONITSUKA TIGER CORSAIR

Onitsuka Tiger Corsair (1969)

“Inilah sepatu yang melahirkan Nike,” ujar Colin Brickley, Manager of Sales & Marketing Onitsuka Tiger, dalam video sejarah sepatu Onitsuka Tiger yang diunggah ke YouTube. Sekilas kalimat tersebut memang terdengar arogan, tetapi fakta juga berbicara sama.

Corsair lahir pada tahun 1969 dan menarik perhatian Bill Bowerman, pakar jogging dan pelari ternama asal Oregon. Pada saat itu, Bowerman baru saja berinvestasi ke sebuah perusahaan distribusi sneakers bernama Blue Ribbon Sports dan ingin membawa lini Onitsuka Tiger ke masyarakat Amerika Serikat.

Ternyata, sepatu Onitsuka Tiger laku keras dan Bowerman pun menawarkan sebuah prototipe sepatu yang menggabungkan dua sepatu Tiger yang sudah ada sebelumnya. Siapa sangka, Onitsuka Tiger menyanggupi ide ini dan menciptakan sepatu yang dinamai Cortez.

Seiring berjalannya waktu, hubungan Bowerman dan Onitsuka Tiger memburuk dan mereka memutuskan untuk berpisah.

Bowerman meluncurkan Cortez di bawah nama lininya sendiri, Nike. Rancangan tersebut sama persis dengan milik Onitsuka Tiger, kecuali motif centang yang telah menggantikan garis-garis ikonis Onitsuka Tiger.

Hal ini menimbulkan perseteruan panjang di pengadilan. Hakim memutuskan untuk memperbolehkan keduanya memproduksi Cortez. Nike pun menggunakan nama Cortez untuk menjual sepatunya dan Onitsuka Tiger meluncurkannya dengan nama baru, yaitu Corsair.

9. NEW BALANCE 574

New Balance 574 (1906)

Kisah 574 dimulai pada tahun 1906 saat New Balance didirikan oleh Wiliam J Riley. Pada masa itu, New Balance bernama New Balance Arch Support dan belum menciptakan sepatu. Sesuai dengan namanya, perusahaan Riley ini memproduksi insole dan aksesori sepatu lainnya.

New Balance akhirnya menciptakan sepatunya sendiri pada tahun 1960. Diberi nama The Trackster, sepatu tersebut adalah sepatu lari pertama di dunia yang memiliki alas bergerigi dan hadir dengan berbagai pilihan lebar.

Namun, produk ikonis New Balance, 574, baru lahir pada tahun 1988 dari sisa bahan 576. Dengan ujung yang mengotak, tumit yang sempit, dan punggung yang tinggi, 574 memiliki siluet yang sangat maskulin.

Satu hal yang membuat 574 bisa menjadi sepatu yang sepopuler sekarang adalah kemampuan untuk sepenuhnya dikustomisasi secara online.

Layanan yang hanya hadir di negara-negara tertentu ini memperbolehkan pembeli untuk memilih warna setiap bagian sepatu 574, mulai dari alas, tali, hingga lining dalam, dan membubuhkan tanda tangan mereka di belakang sepatu.

Berkat kemampuan ini, New Balance pun menjadi pilihan utama bagi pemerhati mode dan tim olahraga yang ingin memiliki sepatu seragam.

10. VANS AUTHENTIC

Vans Authentic (1966)

Pada tanggal 16 Maret 1966, Paul Van Doren dan saudaranya, Jim Van Doren, serta Gordon Lee dan Serge Dalia membuka pintu Van Doren Rubber Company untuk pertama kalinya di California, AS.

Berbeda dari sekarang, Van Doren Rubber Company adalah toko pembuat sepatu di mana setiap sepatu yang dijual baru akan dibuat setelah dipesan.

Pada hari itu, 12 pelanggan membeli sepatu #44 yang kini dikenal dengan nama Authentic.

Namun, koneksi Vans dengan skateboard baru dimulai beberapa tahun kemudian pada era ‘70-an ketika para pemain skateboard legendaris, seperti Tony Alva, Stacy Peralta, dan Z-Boys, mengenakannya untuk memenangi berbagai kompetisi.

Paul bercerita bagaimana Alva dan Peralta datang ke tokonya di Santa Monica, California, untuk membeli sepatu baru. Uniknya, mereka datang untuk membeli satu sisi sepatu saja.

“Kami selalu merusak satu sisi sepatu saja,” ujar Alva.

Papan skateboard pada masa itu cukup sempit sehingga pemain skateboard harus menggunakan satu kaki untuk mengontrol arah dan satu kaki sebagai rem. Sepatu yang digunakan sebagai rem ini sering kali rusak.

Paul pun memperbolehkan para pemain skateboard Santa Monica untuk membeli satu sisi saja untuk setengah harga.

Popularitas Vans meluas ke berbagai sub-budaya lainnya, termasuk hiphop, punk rock, streetwear, dan emo.

Namun, hingga kini label tersebut masih menjadi pilihan utama bagi para pemain skateboard.

Source: https://vik.kompas.com/sneakers/

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.