Everywhere at the End of Time, Arti dan Penjelasan Setiap Stage Part 1

oleh -1.063 views
Source: Ivan Seal

ZETIZEN RADAR CIREBON – Everywhere at the End of Time, sekumpulan album yang indah namun mengerikan ciptaan The Caretaker alias Leyland James Kirby, adalah penggambaran tentang bagaimana rasanya mengalami dementia melalui media musik. Setiap stage menjelaskan langkah-langkah menuju dementia, yang merupakan sindrome di mana penderitanya perlahan-lahan kehilangan fungsi otak yang di mulai dari kehilangan memori sampai lupa cara melakukan apapun. Mulai dari stage 1 yang berisi jazz tahun 30s/40s sampai stage 6 yang hampa. (Zhorif)

Stage 1

Source: Ivan Seal

“Here we experience the first signs of memory loss. This stage is most like a beautiful daydream. The glory of old age and recollection. The last of the great days.”

Stage pertama Everywhere at the End of Time ini merupakan representatif dari gejala-gejala awal dementia, sebelum semuanya mulai memburuk bagi penderita sindrom tersebut. Bagian yang di sebut sebagai lamunan yang indah oleh Leyland James Kirby ini juga menggambarkan penderita yang mengalami hari-hari terakhir dapat mengingat memori-memori dalam hidup. Bahkan, bisa di bilang juga hari-hari terakhir dari “hidup” sang penderita sebelum jiwa, ingatan, dan memorinya perlahan tergerus. Hari-hari indah terakhir.

Stage 2

Source: Ivan Seal

“The second stage is the self realisation and awareness that something is wrong with a refusal to accept that. More effort is made to remember so memories can be more long form with a little more deterioration in quality. The overall personal mood is generally lower than the first stage and at a point before confusion starts setting in.”

Pada stage ini, sang penderita mulai menyadari apa yang sedang terjadi. Namun masih tidak terima bahwa ada yang salah. Ingatan dan memori pun terasa mulai memburuk, di tandai dengan kualitas musik yang menurun akibat sedikit distorsi. Akibatnya suasana hati dan mental penderita akan menurun dan seiring waktu mengalami depresi. Tetapi sebelum pada titik di mana kebingungan yang menyakiti diri mulai muncul. Musik-musik tersebut memanipulasi sampel musik yang positif untuk menciptakan style yang tegang.

Stage 3

Source: Ivan Seal

“Here we are presented with some of the last coherent memories before confusion fully rolls in and the grey mists form and fade away. Finest moments have been remembered, the musical flow in places is more confused and tangled. As we progress some singular memories become more disturbed, isolated, broken and distant. These are the last embers of awareness before we enter the post awareness stages.”

Stage ke-3 melambangkan pikiran kohesif terakhir dari penderita sebelum semuanya mulai kacau. Sang penderita mulai mengingat momen-momen paling indah dalam hidupnya, tapi sayangnya memori tersebut telah berubah menjadi mengganggu, terisolasi, rusak, dan terasa sangat “jauh”. Lama-kelamaan, penderita mulai kehilangan jati diri dan semangat, seiring dengan suara yang rusak dan penuh distorsi mulai mendominasi. Setelah ini, penderita akan masuk stage pasca kesadaran.

Part 2 dapat di baca di sini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.