Gangguan Mental yang Kerap Menyerang Remaja

oleh -79 views

ZETIZEN RADAR CIREBON – Umumnya, kebanyakan orang tua hanya fokus terhadap kesehatan fisik anak remajanya. Padahal, kesehatan mental juga wajib diperhatikan. Seringkali gejala gangguan mental yang muncul tak tertangani selama berbulan-bulan, hingga bertahun-tahun. Sehingga mengakibatkan gangguan mental yang lebih serius. (cva)

Kenapa kesehatan mental remaja harus diperhatikan?

Menurut keterangan dari Badan Kesehatan Dunia (WHO), usia remaja (10-19 tahun) unik dan berkaitan erat dengan arah pertumbuhan dan perkembangan mereka.

Banyaknya perubahan fisik dan sosial, termasuk kondisi kemiskinan serta paparan terhadap kekerasan dan pelecehan, dapat membuat usia remaja rentan mengalami masalah kesehatan mental.

Memperhatikan kondisi psikis remaja dari pengalaman buruk dan faktor risiko yang dapat memengaruhi potensi mereka untuk berkembang selama masa remaja sangat penting, demi kesehatan mental dan fisiknya ketika dewasa nanti.

Ada beberapa gangguan mental yang perlu kita waspadai karena sering dialami para ABG. Apa saja?

1. Attention-Deficit/Hyperactivity Disorder (ADHD)

ADHD adalah gangguan perilaku yang bermula sejak masa kanak-kanak, dan bisa memengaruhi hingga remaja dan dewasa. ADHD bisa membuat remaja sulit konsentrasi, tidak betah belajar dalam waktu lama, hiperaktif bahkan sampai mengganggu orang-orang sekitarnya, serta perilaku impulsif.

Melansir dari WebMD, pada masa remaja, khususnya akibat perubahan hormonal yang terjadi dan aktivitas akademik sekolah, gejala ADHD bisa memburuk.

Perawatan yang tepat penting agar gejala ADHD bisa terkendali. Caranya adalah dengan terapi obat dan perilaku. Pengobatan ini dapat mengurangi hiperaktif dan impulsif, meningkatkan daya fokus, kerja, pemahaman, termasuk koordinasi fisik.

2. Gangguan makan

Melansir dari laman Verywell Mind, gangguan makan cukup banyak ditemukan pada remaja. Faktor yang berpengaruh termasuk tekanan sosial untuk punya tubuh langsing.

Media sosial, pemberitaan, dan lingkungan pergaulan sering kali membentuk kesadaran bahwa tubuh yang ideal adalah yang kurus langsing. Banyak remaja yang mengalami masalah pencitraan tubuh (body image), sehingga membuat mereka melakukan banyak cara untuk menurunkan berat badan. Misalnya olahraga gila-gilaan hingga diet ekstrem.

Ada studi yang menyebut bahwa 1-2 persen remaja mengalami gangguan makan. Bahkan, gangguan ini bisa dialami sejak usia 12 tahun. Gangguan makan yang perlu diwaspadai adalah anoreksia nervosa, bulimia, dan Binge-Eating Disorder. Pada anoreksia nervosa, penderita mengira bahwa ia gemuk, sehingga sangat membatasi asupan makanannya. Sering kali penderita olahraga berlebihan dan hanya makan dalam jumlah sangat sedikit. Kondisi ini lama-lama bisa mengakibatkan penipisan tulang, tekanan darah rendah, dan kerusakan di otak dan jantung. Pada kasus yang parah, akibatnya bisa fatal.

Pada kasus bulimia, biasanya remaja akan banyak berlebihan (binge-eating). Namun, sebagai kompensasi mereka akan memuntahkan makanan tersebut, penggunaan laksatif, atau olahraga secara berlebihan. Dampaknya secara fisik adalah dehidrasi, ketidakseimbangan elektrolit, gangguan pencernaan, dan kerusakan gigi.

3. Depresi

Bukan cuma orang dewasa, depresi juga sering terjadi pada remaja. Menurut studi yang terbit dalam “The British Medical Journal“, 8-10 persen siswa sekolah menengah memiliki gejala depresi yang parah.

Selain itu, menurut sebuah studi dalam jurnal “JAMA Psychiatry” tahun 2012, ada survei yang menemukan bahwa 8 persen remaja mengalami depresi tiap tahunnya. Ketika sudah berusia 21 tahun, ada studi dalam “Journal of the American Academy of Child and Adolescent Psychiatry” tahun 2011 yang menyebut, sebanyak 15 persen paling tidak mengalami satu episode akibat gangguan suasana hati (mood disorder).

Seperti yang sudah kita tahu, dampak buruk depresi bisa sangat mengerikan. Mulai dari kesulitan di sekolah, berhubungan dengan orang lain, tidak menikmati hidup, dan skenario terburuknya adalah tindakan bunuh diri.

Gejala yang perlu kita perhatikan antara lain:

  • Perasaan sedih atau atau suasana hati depresif
  • Merasa putus asa dan tidak berguna
  • Kehilangan minat pada hal-hal yang tadinya disukai
  • Menarik diri dari teman dan keluarga
  • Sering menangis
  • Sulit tidur
  • Kehilangan atau kenaikan nafsu makan
  • Nyeri yang tak kunjung sembuh
  • Mudah marah
  • Merasa lelah meski cukup tidur
  • Sulit konsentrasi
  • Muncul pikiran tentang bunuh diri, membicarakan bunuh diri, dan melakukan percobaan bunuh diri
4. Gangguan kecemasan

Melansir dari laman National Institute of Mental Health, kurang lebih 8 persen remaja usia 13-18 tahun mengalami gangguan kecemasan.

Remaja yang mengalami gangguan ini dapat berdampak pada kemampuannya untuk bersosialisasi dengan teman-temannnya, begitu juga pada pendidikannya. Pada kasus yang parah, gangguan kecemasan bisa membuat mereka takut untuk keluar rumah.

Bentuk dari gangguan kecemasan ini ada beberapa bentuk. Pada gangguan kecemasan umum, remaja jadi sering merasa cemas di semua bidang kehidupan. Pada gangguan kecemasan sosial, remaja mungkin kesulitan untuk bicara di kelas atau menghadiri acara sosial.

Menurut American Collehttps://www.acog.org/ge of Obstetricians and Gynecologists, gangguan kecemasan ini juga bisa mencakup gangguan panik, Obsessive-Compulsive Disorder (OCD), dan Post-Traumatic Stress Disorder (PTSD). Gejala yang penderita alami sudah pasti akan mengganggu aktivitas dan kualitas hidup remaja.

5. Gangguan bipolar

Banyak orang salah mengartikan gangguan bipolar sebagai kepribadian ganda. Faktanya, sering terdiagnosis saat remaja, gangguan mental ini menyebabkan perubahan suasana hati yang ekstrem.

Remaja bisa sewaktu-waktu mengalami lonjakan mood secara intens (episode mania atau hipomania), lalu tiba-tiba mood drop secara signifikan (episode depresif).

Meskipun hingga saat ini gangguan bipolar belum ada obatnya, tapi dengan deteksi dini dan penanganan yang tepat, seperti pemberian obat dan psikoterapi, gejala tiap episode bisa terminimalisasi. Perlu juga dukungan keluarga untuk mengoptimalkan perawatan.

Apabila kamu mengalami gejala-gejala yang terdapat di atas, sebaiknya cari pertolongan medis. Jangan abai, apalagi sok-sokan mendiagnosis sendiri. Bila masih ragu untuk menemui psikiater atau psikolog, ceritakan hal ke orang yang kamu percaya lalu minta dukungan.

Penanganan gangguan kejiwaan sedini mungkin bisa membuat kamu terhindar dari kualitas hidup yang buruk dan dampak lainnya yang fatal.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.