Mengenal Rumah Adat Unik Khas Suku Osing

oleh -760 views

ZETIZEN RADAR CIREBON – Rumah adat merupakan salah satu warisan leluhur yang perlu di lestarikan. Suku Osing merupakan suku asli di Banyuwangi. Selain memiliki budaya dan adat istiadat yang begitu kental. Masyarakat Suku Osing juga memiliki rumah adat yang begitu khas dan menarik untuk di kunjungi. (cva)

Jenis Rumah Osing

Salah satu kekhasan dari rumah adat Osing dapat kita lihat dari bentuk atap rumah. Menurut Arif Wibowo, arsitek asal Banyuwangi yang juga pendiri Arsitek Muda Banyuwangi kepada Kompas.com, Sabtu (16/2/2019) rumah adat Osing memiliki tiga bentuk atap yaitu Tikel Balung, Baresan dan Cerocogan.

1. Tikel Balung

Bentuk Tikel Balung merupakan bentuk dasar rumah adat Osing yang terdiri dari empat rab (bidang) atap. Satu unit Tikel Balung biasanya dimiliki setiap keluarga yang menaungi aktivitas penghuninya.

Pembentukan ruang-ruang di dalamnya berdasarkan jumlah orang yang menghuninya.

2. Baresan

Sementara bentuk Baresan adalah bentuk yang lebih sederhana dari Tikel Balung. Dengan menghilangkan satu rab di belakangnya, sehingga terdiri dari riga rab (bidang).

Menurut Arif, Baresan bukan termasuk unit rumah sendiri karena muncul sebagai penambahan ruang. Satu unit Tikel Balung tidak cukup menampung kebutuhan ruang karena penambahan fungsi ruang dan anggota keluarga.

“Jadi jika kurang luas, maka bagian belakang akan ditambahi Baresan. Sangat jarang kami temukan tipe Baresan yang berdiri sendiri,” jelas Arif.

3. Cerocogan

Sementara bentuk atap Cerocogan adalah bentuk atap yang paling sederhana dari tipe arsitektur Osing. Dan jarang masyarakat gunakan sebagai fungsi utama sebuah rumah hunian.

Karena bentuknya yang sederhana terdiri dari dua rab (bidang), bentuk Cerocogan berguna untuk menaungi pawon (dapur) yang biasanya terdapat di bagian belakang rumah.

“Strata sosial masyarakat Osing bisa kita lihat dari bentuk atapnya. Jika jumlahnya lengkap terdiri dari Tikel Balung, Baresan dan Cerocogan atau lebih banyak, itu berarti dia orang kaya dan terpandang di wilayahnya,” kata Arif.

Struktur Rumah Osing

Dia juga menjelaskan bagian-bagian struktur rumah adat Osing antara lain Sangga Tepas, Gelandar, Saka, Ubag, Ampig-ampig, Jait Cendhek, Doplak, Suwunan, Ander, Penglari, Jait Dhawa, Reng dan Dur.

Sementara untuk dinding samping dan belakang rumah, masyarakat Osing memilih menggunakan bambu yang bernama ghedeg pipil. Dan untuk bagian depan menggunakan gebyog yang terbuat dari kayu.

Selain itu, keunikan rumah adat Osing adalah konstruksi bangunan yang dapat dibongkar pasang. Rumah adat ini menggunakan sistem tanding tanpa paku tapi menggunakan sasak pipih yang bernama paju.

“Saat anak menikah, biasanya orang tua akan membangunkan rumah tikel balung baik lama atau pun baru karena rumah Osing ini kan bisa bongkar pasang dan tanpa menggunakan paku sehingga mudah untuk dipindahkan,” kata Arif.

Untuk bagian dalam, rumah adat Osing terbagi dalam beberapa bagian, yaitu amper atau bagian depan rumah. Bale yang merupakan ruang tamu atau ruang kegiatan adat, “njerumah” atau “njero omah” yang berarti bagian dalam rumah tempat aktivitas pribadi pemilik rumah. Dan pawon atau dapur, serta ampok yang berada di kanan dan kiri rumah.

Untuk menuju ke dapur, biasanya tamu akan melewati samping rumah, dan masuk melalui pintu dapur sehingga tidak perlu melewati bagian njerumah.

Bahan Dasar Pembuatan

Rata-rata kayu yang masyarakat gunakan untuk membangun rumah Osing berasal dari Pohon Bendo.

Tentunya, pohon yang mereka pilih adalah pohon Bendo yang cukup tua sehingga rumah lebih awet.

Desa Kemiren

Rumah adat Using juga masih kita di wilayah Sukosari Desa Kemiren Banyuwangi. Untuk menuju ke Sukosari, kita harus berjalan kaki karena tempatnya agak jauh dari jalan utama desa. Terdapat 10 rumah Using yang tertata rapi selaras dengan alam yang masih asri. Gebyok rumah juga seragam dengan bahan kayu yang berwarna coklat.

Desa Kemiren adalah salah satu desa yang masih terdapat rumah adat Osing yang berfungsi sebagai rumah tinggal.

Buang (55), salah satu warga Kemiren mengaku jika rumah yang dia tempati saat ini adalah warisan dan kakeknya.

Rumah yang berada tepat di pinggir jalan Desa Kemiren tersebut memiliki lima atap yang terdiri dari Tikel Balung dan Baresan, sementara Cerocogan untuk bagian belakang. Tikel Balung bagian depan berukuran 10 meter dan ukurannya sama dengan ruang bagian belakang yang digunakan njerumah dan pawon.

“Jadi tinggal di sini ya di sana di rumah gedong. Tapi kalau saya banyakan disini,” katanya.

“Jumlahnya tidak banyak hanya beberapa, kadang mereka juga mampir untuk ngopi. Rumah kami terbuka untuk siapa pun yang datang kesini,” katanya.

Seiring dengan majunya industri wisata di Banyuwangi, Arif Wibowo mengakui rumah adat Using menjadi tren di masyarakat Banyuwangi baik untuk rumah huni, penginapan, kedai atau rumah makan.

“Tapi yang terpenting adalah bagaimana rumah Using tetap masyarakat fungsikan sebagai hunian bukan hanya sekadar mengikuti tren. Dan tentunya bangunan yang ada harus sesuai dengan budaya, tradisi dan iklim masyarakat di sekitar,” pungkasnya.

Go to video page

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.