Para Ilmuwan Muslim di Era Islamic Golden Age (part 2)

oleh -566 views
Para Ilmuwan di era Islamic Golden Age
(Gambar: Zenius Education)

ZETIZEN RADAR CIREBON – Di part sebelumnya, kita udah ngupas secara singkat seluruh dinamika era peradaban emas Islam. Tentunya ada banyak hal yang mungkin di lewatkan, karena gak mungkin dong semua hal yang terjadi dalam kurun waktu kurang lebih 500 tahun bisa dirangkum hanya dengan sebuah artikel. (az)

Nah, yang belum baca part sebelumnya, coba deh mampir dulu, karena di artikel sebelumnya kita akan bareng-bareng kenalan dari awal tentang apa sih Islamic Golden Age itu? Kalo kalian mau tau, kalian bisa baca disini!

Oke, di part kali ini gue bakal lanjutin sekaligus ngejawab pertanyaan yang ada di part sebelumnya nih.

Siapa aja sih tokoh-tokoh dalam Islamic Golden Age? Terus ilmu pengetahuan dan budaya apa saja yang berkembang pesat di masa itu?

1. Ibn Sina

Ini dia nih yang kemungkinan besar lo udah pada tau. Ibn Sina atau Avicenna adalah seorang polymath jenius asal Uzbekistan yang bener-bener mendalami hampir semua ilmu pengetahuan, dari mulai filsafat, kedokteran, astronomi, sekaligus ilmuwan.

Dijuluki Bapak Kedokteran Modern. Bukunya “The Canon of Medicine” jadi buku pegangan medis Eropa sampai abad ke-18. Ibn Sinna dikenal sebagai orang yang berpikiran sangat logis dan rasional. Perkembangan intelektualnya sangat dipengaruhi dari ajaran Aristoteles dan Plato. Ia juga mendalami Fisika, Kimia, Astronomi, Geologi, dan Psikologi.

Ibn Sina nggak cuma mengembangkan banyak ilmu pengetahuan aja lho, tapi juga mengkritik banyak perkembangan ilmu yang keliru dan masih nyampur-nyampur sama hal-hal mistis dan supranatural.

2. Al Kindi

Al Kindi bisa disebut sebagai ilmuwan Muslim terbesar sepanjang masa. Awalnya, Al Kindi dipercaya sama Khalifah Al Ma’mun buat jadi ketua tim penerjemah naskah-naskah filsafat kuno dari Yunani dan Romawi di Bayt al Hikmah. Kebayang dong, berarti dia sambil nerjemahin itu juga sambil baca macem-macem ilmu pengetahuan dari berbagai sumber paling awal peradaban filsafat klasik.

Pada zaman keemasan peradaban Islam, Bayt al-Hikmah yang terletak di Bagdad dan jadi pusat ilmu pengetahuan paling maju seantero dunia. Semasa hidupnya, Al Kindi sudah menulis 260 buku tentang filsafat, matematika, kedokteran, fisika, astronomi, kimia, sampai teori tentang musik. Ia juga dikenal sebagai orang pertama yang mengadaptasi sistem bilangan Hindu-Arab (0-9) yang kita pakai sampai saat ini.

3. Al Khwarizmi

Ini dia nih yang juga paling mendunia namanya. Al Khwarizmi adalah Ilmuwan asal Khwarezm, Uzbekistan, ini berasal dari keluarga dengan latar belakang penganut agama Zoroastrianisme (Majusi).

Kontribusi terbesar Al Khwarizmi adalah mengembangkan pendekatan khusus untuk memecahkan persamaan linear dan kuadrat, yang kita kenal dengan nama Aljabar. Selain itu, Al Khwarizmi juga memetakan pergerakan matahari, bulan, dan kelima planet yang ia tulis dalam Kitab Zij al-Sindhind. Membuat peta dunia, sekaligus mengukur keliling bumi secara matematis melalui proyeksi gerakan matahari. Proyek ini ia tulis dalam Kitab surat al-Ardh, yang di Barat lebih dikenal dengan judul “Geography”.

4. Omar Khayyam

Al-Khayyam atau Omar Khayyam adalah seorang matematikawan, astronom, dan sastrawan. Dikenal sebagai orang yang pertama kali secara lengkap ngejabarin konsep Segitiga Pascal. Sehingga saat ini banyak ahli matematika yang sebenernya nyebut penjabaran binomial ini sebagai “Segitiga Khayyam-Pascal”.

Dalam dunia astronomi, Khayyam bisa membuktikan bahwa Bumi berputar pada sumbunya. Terakhir jangan lupa sama buku puisinya yang paling terkenal, yaitu Rubaiyat of Omar Khayyam. Rubaiyat ini udah diterjemahin ke puluhan bahasa di dunia lho! Jadi siapa yang bilang ilmuwan gak romantis nih?

5. Al Tusi

Tunggu! Siapa nih Al Tusi? Ilmuwan Persia abad ke 13 ini merupakan ilmuwan yang lumayan terakhir nongol di dunia Islam, setelah Baghdad diluluhlantakkan oleh bangsa Mongol dibawah kepemimpinan Hulagu Khan.

Tusi juga merupakan orang yang berjasa dalam memberikan jalan untuk munculnya era Renaissance di Eropa, karena dialah yang menyelamatkan 400,000 buku ketika Bayt al Hikmah dihancurkan oleh Mongol.

Dia juga seorang polymath yang nguasain banyak banget bidang ilmu kaya matematika, astronomi, fisika, kimia, biologi, serta sastra. Tapi yang paling bikin ilmuwan ini adalah teorinya tentang mekanisme Seleksi Alami yang membentuk keanekaragaman hayati di dunia, yang dia kemukain 750 tahun sebelum Charles Darwin dan Alfred Wallace, duet pengungkap rahasia Seleksi Alami.

Apa sih yang menjadi penyebab hancurnya masa peradaban emas Islam?

Nah, sekarang kita bahas tentang apa sih yang menjadi pemicu berakhirnya era emas ini. Ada dua hal signifikan yang menjadikan pemicu berakhirnya era emas ini.

Pertama adalah kritik dari Al Ghazali yang menentang pengaruh dari filsafat Yunani yang mejunjung tinggi logika dalam penalaran ilmu dalam peradaban dunia Islam. Kendati Ibn Rushd bersikeras bahwa tidak ada kontradiksi antara filsafat Avicenna dan Al Farabi dengan ajaran agama. Sejak perubahan filosofi pemurnian itulah, Zaman Keemasan Islam mengalami kemunduran drastis, sehingga jarang sekali menghasilkan ilmuwan-ilmuwan besar seperti pada abad 9-11 silam.

Kedua, faktor lain yang turut mendorong runtuhnya era emas ini adalah serbuan dari bangsa Mongol yang akhirnya meluluhlantakkan Baghdad bersama dengan perpustakaan sekaligus pusat ilmu pengetahuan paling lengkap saat itu, Bayt Al Hikmah. Untungnya, ratusan ribu manuskrip dari Bayt Al Hikmah sempat diselamatkan oleh Al-Tusi ke Observatorium Maragheh, Azerbaijan yang kemudian menjadi sumber referensi dan inspirasi para ilmuwan Eropa pada zaman Renaissance dan Enlightenment.

Nah, akhirnya kita nyampe juga di penghujung artikel nih! dari artikel ini, gue harap kita semua bisa paham betul bahwa peradaban Islam pernah begitu maju karena peradaban Islam saat itu sangat menjunjung tinggi akses ilmu pengetahuan yang terbuka dari berbagai macam sumber.

Mereka bisa maju karena menghargai perbedaan serta terbuka dengan kelompok lain seperti Yahudi, Nasrani, Sabian, dan Zoroaster (Majusi) untuk ikut bersama-sama membangun dunia ini dan berkontribusi mengembangkan ilmu untuk menjadikan dunia ini lebih baik.

Sumber : Zenius

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.