Peradaban Kuno Afrika Termashyur dalam Sejarah (Part 2)

oleh -151 views

ZETIZEN RADAR CIREBON – Berdasarkan temuan arkeolog, Afrika menjadi tempat kelahiran umat manusia. Tanah sahara ini juga terkenal dengan keindahan alam dan budayanya. Peradaban kuno Afrika pun termashyur pada zamannya. Namun, sedikit yang mengetahui bahwa dalam sejarah panjangnya, Afrika juga memiliki kontribusi terhadap perkembangan teknologi dan inovasi. (cva)

Ini dia peradaban kuno Afrika termashyur dalam sejarah (part 2)

1. Peradaban Kuno Kekaisaran Benin

Orang Barat mengenal Afrika karena adanya perdagangan budak lintas benua. Praktik mengerikan itu kerajaan Eropa manfaatkan untuk menyelesaikan pekerjaan tanpa biaya tenaga kerja. Tetapi hal ini juga yang membuat kerajaan Afrika berkembang, seperti yang diakui Black History Month.

Banyak negara Afrika melakukan perdagangan barang-barang mewah seperti emas, bulu, dan gading melalui para budak Afrika, sebagaimana Dr. Sandra Greene dari Universitas Cornell ceritakan.

Namun, melansir dari Ancient History Encyclopedia, kekaisaran ini membangun eksistensi dan kekayaannya antara tahun 1200-an dan 1897 dengan menjual apa pun. Termasuk budak Afrika yang mereka selundupkan ke kapal Portugis dan Inggris, seperti catatan National Geographic.

Perdagangan dengan Inggris justru menciptakan peperangan di Kekaisaran Benin pada akhir 1800-an. Pasukan Inggris membakar habis ibu kota Benin pada tahun 1897, mengutip dari BBC. Namun, tradisi budaya dan praktik artistik sejak masa kejayaan Benin masih ada hingga saat ini di antara orang Edo di Afrika Barat. 

2. Peradaban Kuno Kilwa Kisiwani

Faktanya, Afrika adalah pusat barang mewah dunia selama beberapa ribu tahun. Dari gading, dupa hingga rempah-rempah, bulu, binatang eksotis, dan emas.

Dari tahun 1200-an hingga 1500-an, jaringan perdagangan di Afrika Timur yang berpusat di sebuah kota bernama Kilwa Kisiwani memanfaatkan lokasinya yang strategis di persimpangan Afrika, Mediterania, dan Timur Tengah untuk mengontrol perdagangan emas dan garam, yang termasuk dua perdagangan dunia termahal pada abad pertengahan.

Sebagaimana sorotan National Geographic, Kilwa Kisiwani di Tanzania modern, adalah kota metropolis multikultural yang berkembang pesat. Wilayah itu memadukan pengaruh Persia, Islam, dan Afrika dalam dialek, budaya, dan arsitekturnya.

Seperti yang tercatat pada UNESCO, Kilwa dan jaringan perdagangan Afrika Timur meliputi produk mewah dan mahal. Mulai dari enamel Persia hingga porselen Cina dan gading Afrika, kayu langka, hingga emas. Wilayah itu menjadi pelabuhan utama di Samudra Hindia hingga akhir abad ke-14, ketika wabah Black Death menghancurkan perekonomian dunia dan perdagangan internasional. 

3. Peradaban Kuno Kekaisaran Mali

Menurut Ancient History Encyclopedia, Kekaisaran Mali Afrika Barat berlangsung sekitar 1240 hingga 1645. Satu catatan sejarah menceritakan bahwa kekaisaran ini dipimpin oleh Mansa Musa, yang sangat kaya dan dermawan.

Mansa Musa pergi ke Mekkah untuk berhaji. Ia pun membagikan banyak emas untuk memicu inflasi selama satu dekade, melansir laman South African History Online. Menurut Oxford Research Encyclopedias, kekaisaran ini sangat terkenal dengan budaya, kekayaan, dan pencapaiannya. 

4. Peradaban Kuno Kekaisaran Songhai 

nairaland.com

Ketika Kekaisaran Mali runtuh karena pertengkaran politik internal, negara perdagangan Afrika Barat lainnya masuk. Menurut Ancient History Encyclopedia, Kekaisaran Songhai berkembang pesat dari 1460 hingga 1591.

Raja Sunni Ali memanfaatkan sengketa pengadilan Mali untuk memulai kampanye militer sistematis terhadap Mali, dengan satu-satunya armada angkatan laut di Afrika Utara. Sunni Ali memperkuat pemerintahannya dan mengambil kendali rute perdagangan, mengutip dari South African History Online. 

Kebanyakan penduduk Songhai adalah penyembah berhala, sementara elit perkotaan adalah Muslim, perbedaan ini menyebabkan ketegangan. Akan tetapi, Songhai menjadi pusat studi dan budaya, dengan kota Timbuktu yang menjadi pusatnya.

Setelah satu atau dua abad menjadi peradaban besar di wilayah tersebut, dan mampu menumpas pemberontakan dan mengkonsolidasikan kekuasaan melalui agama, perdagangan, dan perang, Songhai akhirnya runtuh oleh Kekaisaran Maroko.  

5. Peradaban Kuno Dahomey 

Loading video

Kekaisaran Dahomey, yang berkembang pesat di sekitar Benin modern dari sekitar 1600 hingga 1904, terkenal hingga saat ini karena legiun prajurit wanitanya yang menjadi bagian dari keluarga besar raja. Seperti yang ada pada Majalah Smithsonian, orang Barat sangat terkesan dengan kekuatan militer Dahomey, dan menjuluki bangsa itu sebagai “Black Sparta” dan menyebut pasukan elitnya sebagai “Amazon“. 

Para wanita Dahomey telah berlatih untuk menjadi wanita tangguh dan berperang melawan musuh. Mereka bahkan sangat berani melawan infanteri Prancis, meskipun menderita kerugian yang parah.

Melansir dari Encyclopedia Britannica, setiap pejabat pengadilan akan oleh wanita tangguh ini awasi, agar tidak melakukan kecurangan apapun dalam pemerintahan. Dahomey juga menjadi kekuatan perdagangan Afrika Barat, dengan menjual tembakau dan juga budak, menurut Dr. Toby Green.

Black History Month menunjukkan bahwa Dahomey menentang upaya Inggris untuk mengakhiri perdagangan budak Afrika Barat pada pertengahan 1800-an. Namun, Dahomey harus menyerah pada tekanan Inggris, dan pada tahun 1904, serangan Prancis mengakhiri kejayaan para pejuang wanita Afrika ini. 

6. Kerajaan Asante (atau Ashanti) 

Salah satu kerajaan besar Afrika terakhir adalah Asante (atau Ashanti), yang menguasai sebagian besar Afrika Barat yang berpusat di Ghana modern dari 1701 hingga 1900-an. Mereka sangat kaya dan memiliki kepemimpinan yang progresif, seni yang luar biasa, dan juga perdagangan budak.

Black Past menceritakan bahwa Kekaisaran Asante dapat terbentuk atas dorongan politik Osei Tutu, yang memperkuat pemerintahannya dengan beberapa upacara keagamaan baru dan satu atau dua relik suci. Raja baru itu mendominasi perdagangan emas, gading, dan budak dengan kejam, menurut Cultures of West Africa.

Melansir PBS, kekayaan membuat kerajaan ini berkembang secara artistik, menghasilkan patung, furnitur, dan kain kente yang bahkan terkenal hingga saat ini. Meskipun raja-raja Asante memiliki wawasan yang kuat tentang monopoli perdagangan dari pendahulu mereka, namun mereka tidak cukup lihai untuk menangani orang Barat. Birokrasi mereka yang sangat efisien dan kekayaan yang melimpah tidak dapat melindungi mereka dari militer Inggris. Setelah terjadi beberapa perang, pada tahun 1902, Asante secara resmi menjadi koloni Inggris, mengutip dari Encyclopedia Britannica.

Namun, raja-raja Asante secara resmi tidak pernah digulingkan. Dan raja yang terbaru dinobatkan di atas bangku emas Osei Tutu pada tahun 1999.

***

Tidak bisa dipungkiri, Afrika merupakan pusat seni, budaya, perdagangan, dan inovasi, dengan beberapa kerajaan dan peradaban yang menyaingi apa pun di Bumi.

Mengingat peradaban ini sangat terkenal dan kaya, tidak mengherankan jika para penjajah justru memanfaatkan atau bahkan merebutnya, yang membuat kerajaan-kerajaan ini runtuh. 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.