Resensi Buku : Midnight Sun (Stephenie Meyer)

oleh -92 views


ZETIZEN RADAR CIREBON – Oit readers! What’s up? Yep. I did it. I finished reading Midnight Sun. Kalau kalian berekspektasi akan membaca ulasan yang koheren, nonbias, dan informatif tentang buku ini, siap-siap saja untuk kecewa. Karena seserius apapun selera bacaanku akhir-akhir ini, aku tetaplah Twihard. Lebih spesifiknya, aku Tim Edward harga mati! Aku udah siap pasang badan buat membela buku yang sempat delay 10 tahun lamanya ini. Yang mendadak terbit di tengah-tengah masa sulit karena pandemi. We ain’t here for bashing Mrs. Stephenie Meyer, okay? We’re here to SHOW our gratitude. (cva)

Identitas Buku

Judul Buku: Midnight Sun

Kategori: Fiksi, Fantasi, Romantis

Penulis: Stephenie Meyer

Penerbit: Gramedia Pustaka Utama

Jumlah Halaman: 1020 halaman

Sinopsis

Edward Cullen bisa merasakan dirinya jatuh cinta ketika melihat Bella Swan tiba di Forks. Gadis itu tak seperti manusia lain yang isi kepalanya membuat Edward pening. Bella justru membuatnya takut karena dia benar-benar tak terbaca.

Midnight Sun mengisahkan pertemuan Edward dan Bella serta menggambarkan bagaimana kisah cinta mereka terjalin dari sudut pandang Edward, sang vampir. Detail masa lalu serta benak Edward yang rumit semakin menunjukkan mengapa cintanya pada Bella merupakan pertentangan hidupnya yang terbesar. Bagaimana mungkin ia begitu egois mengikuti kata hatinya jika itu berarti membahayakan hidup Bella?

Ringkasan

Midnight Sun adalah Twilight dari sudut pandang Edward Cullen. Tidak ada perubahan plot, yang ada hanya penyegaran perspektif. Menurutku, Midnight Sun memang tertuju untuk fans serial Twilight. Karena aku masuk dalam kategori fans, perjalananku membaca buku ini tidak sekritis ketika aku membaca fiksi-fiksi lainnya. Yaa, masih kritis sedikit, tapi lebih banyak senang-senang dan nostalgianya, hehe.

Meyer memposisikan Edward sebagai tokoh yang penuh dengan kekhawatiran, pemikiran yang dalam, kekosongan, dan juga kesendirian. Meski Edward tergambar sebagai sosok yang keren, dan selalu digandrungi oleh semua perempuan, namun dalam novel ini kita akan melihat sosoknya yang rapuh tapi sekaligus kuat. Midnight Sun bagaikan sebuah diary mengenai bagaimana perasaan Edward setiap saat. Apa yang ia pikirkan, perasaannya semua tertuang dengan sangat rinci sekali. Menurutku, tokoh Edward dalam buku ini benar-benar adalah tokoh yang baru kita kenal, sisi baru dari seorang Edward Cullen.

Pengalaman Membaca

Unik, lucu, dan terasa lambat itu yang kurasakan saat membaca buku ini. Buku ini penuh dengan cerita dari sisi ke-aku-an seorang Edward Cullen, bagaimana ia berpikir, memikirkan semua hal. Sisi yang mungkin tidak bisa kita temukan dalam seri-seri sebelumnya.

Midnight Sun tak dapat kita bandingkan dengan seri-seri sebelumnya. Buku dengan tebal 1000 halaman lebih ini memiliki kekuatannya sendiri dalam membuat pembacanya merasa melayang. Sekali lagi Stepahine Meyer mampu mengobrak-abrik hati pembaca dengan cerita cinta Edward dan Bella.

Hal yang aku syukuri yaitu detail-detail kehidupan keluarga Cullen yang akhirnya terkuak. Nggak perlu bergantung sama fanfiction lagi, kita dapat langsung dari penulisnya. Paling jelas sih Alice ya, yang makasih banget lho dapat lebih “dalam” dari ekspektasi. Tapi, ternyata hubungan brotherly Edward dan Emmet menarik juga untuk diikuti. Pasangan Emmet, di sisi lain, sepertinya sengaja Stephenie Meyer ciptakan untuk dibenci. Jutek banget sih Mbak Rosalie! Menurutku karakternya di buku ini terlalu hitam putih.

Overall, aku menikmati sekali pengalaman membaca ini. Takut ngarep, tapi aku nggak nolak lho kalau sekuelnya terbit. Asalkan masih dalam periode yang dekat-dekat, ya. Kan nggak lucu kalau 10 tahun lagi baru terbit. Yang pasti, penasaran banget sama gimana cara Stephenie Meyer menangkap dan menyampaikan “penderitaan batin” Edward ketika berpisah dengan Bella dalam mirror-nya New Moon. Untuk sekarang sih, kayaknya harus berpuas diri sama versi fanfictionnya dulu.

Well readers, sekian ulasan singkatku mengenai Midnight Sun. Terimakasih sudah menyempatkan diri membaca artikel ini. Next, bahas buku apalagi, nih?


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.