Sejarah Koryo Saram di Asia Tengah

oleh -153 views
Source: vogue

ZETIZEN RADAR CIREBON- Koryo Saram adalah etnis Korea yang terdapat di Asia tengah. Setelah Perang Dunia kedua, dan terutama setelah kematian Stalin, citra Koryo saram pulih. Mereka kemudian umumnya bernasib baik. Mereka berintegrasi ke dalam masyarakat domestik, mengalami kemajuan sosial, mengejar pendidikan tinggi, berpindah tempat dengan bebas, dan memperoleh pekerjaan dalam posisi yang baik di masyarakat (pasca) Soviet. (IND)

Namun, kompleksitas identitas koryo saram berkembang di Asia Tengah pada periode Soviet dan pasca-Soviet – mereka mempertahankan bagian penting dari kebiasaan lama yang masih membentuk rutinitas sehari-hari mereka, dan yang awalnya berasal dari budaya asli Korea generasi yang lalu. Kebiasaan lama yang terpelihara dengan baik ini terdiri dari makanan, pesta, sebutan kerabat, dan aspek lain dari kehidupan sehari-hari.

Meskipun hampir setiap Koryo-saram yang tiba di Uzbekistan pada tahun 1937 berbicara bahasa Korea (di alek khusus yang di sebut Koryo-mar yang mengarah ke bagian timur laut semenanjung Korea, yaitu Hamgyong Utara dan Hamgyong Selatan), setelah deportasi, kebijakan pendidikan Soviet segera menjadikan bahasa Rusia sebagai bahasa utama di sekolah. Dialek asli mereka hampir tidak digunakan saat ini; hanya Koryo-saram di Uzbekistan yang berusia lebih dari 60 tahun yang masih dapat menggunakannya, setidaknya dalam beberapa bagian.

Baca Juga: Uzbekistan, Negeri Para Ilmuan Muslim

Motif utama dari literatur tertulis Koryo saram menceritakan topik terkait migrasi dengan cara yang bersyukur. Berterima kasih kepada orang Kazakh, Uzbek, dan orang lain atas sikap ramah mereka di masa-masa sulit. Penulis Korea-Kazakh, Lavrentij Son, misalnya – perhatikan nama khas dari Koryo-saram. Dengan nama awal Rusia dan nama belakang yang khas bersuku kata satu (satu-satunya suku kata yang tersisa dari identitas Korea Seperti yang di katakan penyair Stanislav Li dengan muram ). Penulis Lavrentij Son mengingat kesendirian masa kecilnya, kesepian dan di tinggalkan setiap hari karena orang tuanya yang miskin di paksa untuk bekerja keras di tanah baru mereka di Asia Tengah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.