Insomnia Atau Sulit Tidur? Inilah Beberapa Alasannya

oleh -88 views
alasan insomnia

ZETIZEN RADAR CIREBON – Insomnia adalah gangguan tidur yang ditandai dengan kesulitan untuk memulai tidur, sering terbangun di malam hari dan sulit untuk tidur kembali, serta bangun lebih awal dari jam biasanya dan susah untuk tidur kembali setelah terbangun. (herdi)

Insomnia bukan hanya penyakit, tapi juga gejala dari suatu penyakit. Bagaimana bisa? Jika gangguan tidur ini terjadi tanpa diikuti oleh masalah kesehatan lain, insomnia disebut sebagai penyakit atau insomnia primer. Biasanya ini terjadi akibat penggunaan alkohol atau efek samping obat-obatan tertentu.

Dan melansir dari laman Health, Tessa Blanken dan tim penelitinya dari instisute of Neuroscience Belanda menemukan ada beberapa kepribadian yang cenderung sering insomnia .

Kepribadian yang Membuat Orang Insomnia

Sensitif

Tipe yang mudah tertekan ini jadi kepribadian yang tingkat insomnia lebih tinggi dari lainnya karena ia mudah stress saat menerima kabar buruk. Mereka akan lebih mudah menerima emosi bahagia atau hal yang membuatnya senang.

Tidak peka

Biasanya mereka berkepribadian pesimis dan tidak bisa menangkap perasaan bahagia dengan mudah. Karena itu, saat tidur dengan kondisi tertekan kualitas tidur mereka jadi bernatakan.

Ekspresif

Mereka bisa sangat aktif, tapi bisa cemas berlebih saat mendengar berita yang kurang menyenangkan menjelang waktu tidur. Mereka juga dikatakan orang yang rentan depresi.

Emosional

Mereka lebih reaktif pada kondisi yang kurang menyenangkan. Butuh waktu lama untuk meredakan amarahnya. Hal ini membuatnya jadi sering tidur dalam kondisi tertekan.

Pasif-Agresif

Mereka mudah menyimpan trauma mengenai kejadian yang kurang menyenangkan, seperti memori buruk di masa kecilnya. Mereka juga puya tingkat motivasi rendah dan cenderung sering insomnia di usia 40an.

Usahakan menyelesaikan masalah yang ada sebelum tidur, agar kualitas tidur lebih baik dan tidak mengalami insomnia.

Itu tadi beberapa alasan kepribadian yang membuat orang insomnia, sementara itu jika insomnia muncul akibat adanya kondisi medis tertentu, insomnia disebut sebagai insomnia sekunder. Umumnya gejala insomnia ini terjadi pada orang dengan penyakit asma, radang sendi, atau masalah mental.

Masalah Mental yang Menimbulkan Gejala Insomnia

Depresi

Sekitar tiga perempat dari pasien depresi memiliki gejala insomnia. Gejala ini berdampak besar pada kualitas hidup dan dapat mendorong pasien untuk melakukan percobaan bunuh diri. Depresi merupakan gangguan mood yang menyebabkan seseorang merasa sedih, putus asa, tidak berdaya, dan tidak berharga. Semua emosi negatif tersebut menyita pikiran Anda sehingga membuat Anda kesulitan untuk tidur

Gangguan Kecemasan

Hampir 90% orang dewasa dengan gangguan kecemasan melaporkan mengalami gejala insomnia sedang hingga parah. Orang dengan gangguan kecemasan cenderung lebih mudah cemas, mengekspresikannya secara berlebihan, dan kesulitan untuk mengatasinya. Meski tubuh sudah kelelahan, rasa takut, waspada, dan khawatir yang terus muncul membuat seseorang sulit untuk mencoba tidur dengan nyenyak.

Serangan Panik

Serangan panik menyebabkan jantung berdetak cepat, gemetar, pusing, keringat berlebihan, dan sesak napas. Mayoritas pasien dengan gangguan ini biasanya pernah mengalami serangan panik nokturnal, yaitu serangan panik yang terjadi selama tidur. Serangan panik nokturnal dapat mengembangkan gejala insomnia karena pasien merasa takut dan berusaha untuk menghindari tidur.

Gangguan Bipolar

Gangguan bipolar menyebabkan seseorang mengalami perubahan mood yang ekstrem, dari depresi (tertekan) ke mania (aktif tidak terkendali). Sebuah studi menunjukkan bahwa selama episode depresi maupun mania, hampir semua pasien merasakan gejala insomnia. Sama seperti depresi pada umumnya, pasien bipolar yang sedang mengalami episode ini juga tidak bisa tidur dengan tenang. Sementara selama episode mania, kemungkinan membuat mereka melupakan rasa lelah sehingga tidak bisa memulai tidur.

Tidur adalah waktu bagi tubuh untuk beristirahat. Jika waktu tidur tidak cukup, Anda jadi mengantuk, lelah, dan mudah marah. Apalagi pada orang dengan masalah mental. Gangguan insomnia yang tidak kunjung membaik, akan menurunkan kualitas hidup pasien.

Orang dengan depresi, misalnya. Mereka yang cenderung tidak makan dengan baik, tentu akan semakin menurun sistem kekebalan tubuhnya. Berbagai infeksi dari virus, jamur, atau bakteri jadi lebih rentan terjadi. Gejala depresi lainnya pun jadi semakin parah.

Kunci untuk mengatasi gejala insomnia terkait masalah mental adalah dengan mengobati masalah mental yang dimiliki. Jika tidak, kualitas tidur mungkin tidak akan membaik secara maksimal atau akan mudah kambuh.Nah, untuk mengatasi masalah mental biasanya, Anda akan mengikuti terapi obat, terapi perilaku kognitif (CBT), terapi inhalasi dengan visualisasi, dan terapi lainnya yang di rekomendasikan psikolog.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.