Social Exclusion! Pahami Lebih Dalam Tentangnya

oleh -24 views

Secara sederhana, Social exclusion adalah perasaan dimana seseorang selalu merasa asing atau justru mengasingkan dirinya di dalam pergaulan sosialnya.

Perilaku ini disebabkan oleh ejekan atau penilaian buruk orang lain, pengalaman pernah diasingkan karena berbeda, dibully karena kondisi fisik, agama, ekonomi, sosial, ataupun perlakuan yang menyakitkan oleh seseorangnya.

Seseorang dengan Social Exclusion biasanya merasa tidak bisa diterima oleh lingkungan karena ada yang aneh atau berada dalam dirinya. Oleh karena itu ia cenderung takut masuk ke dalam lingkungan yang baru.

Perilaku yang bisa muncul karena perasaan ini adalah suka mengasingkan diri, takut mengalami perubahan, cemas untuk memulai sebuah hubungan pertemanan dan berada di kelompok sosial yang baru.

Jika kamu merasakan hal tersebut, pertama-tama kamu perlu “membenahi diri” dari dalam dan kemudian mulai terkoneksi lagi secara sehat dengan orang lain. Berikut adalah beberapa langkahnya!

Self Acceptance

Mulailah untuk menerima diri sendiri

“kenapa nasibku tidak seberuntung dia?” Pertanyaan itu akan muncul ketika kita merasa orang lain lebih beruntung dalam banyak hal daripada kita.

Sebelum orang lain bisa menerima kamu, kamu harus melakukannya terlebih dahulu. Terima diri kamu sendiri dengan “satu paket” masa lalu dan proses hidup , baru kemudian kita bisa memperbaiki dan mengubahnya.

Self Awareness

Kembangkan suatu hal dalam dirimu

Selain menerima, kita juga harus bisa menyadari setiap potensi dalam diri sendiri, cari tahu mengenai apa yang menjadi minat, bakat, kelebihan, dan hal yang perlu dikembangkan.

Salah satu cara membangun self awareness adalah dengan menciptakan keharmonisan kebersamaan dalam bekerja. Disadari atau tidak, lingkungan kerja yang kondusif rekan kerja dan lingkungannya, akan membuat karyawan lebih produktif dibandingkan yang karyawannya sikut-sikutan.

Self Discovery

mencoba suatu hal dan temukan kelebihanmu

Beranikan diri untuk mencoba dan belajar berbagai hal baru, pada awalnya memang berat, tapi lama-kelamaan kita akan menemukan, bahkan menciptakan kualitas yang lebih baik.

Untuk mengatasinya kamu harus tahu tentang diri kamu sendiri. Jika belum tahu, tanya pada diri sendiri. Kemudian cari tahu juga dari orang lain, kamu itu seperti apa orangnya. Jika sudah tahu, tahap selanjutnya adalah mengetahui apa yang diharapkan orang lain dan apa harapan diri sendiri.

Connected

tetaplah bersosialisasi dan perluas pertemananmu

Menurut terapis kognitif Young dan Klosko, salah satu penyebab Social Exclusion adalah kebutuhan atau koneksi dengan orang lain yang perlu kita mulai kembali.

Dasarnya kamu hanya perlu melatih kemampuan komunikasimu, memiliki komunikasi yang baik dengan orang penting dilakukan untuk menaikan kesan di mata orang lain, terutama kamu lebih memahami dan menerima kepribadian orang lain.

Jika kamu termasuk orang yang sulit berkomunikasi, maka mulailah dengan tindakan seperti saling tolong menolong. Memiliki inisiatif untuk menolong orang akan memberikan kesan kalau kamu adalah tipe orang yang bisa diandalkan dan baik hati.

“Luka” yang kita miliki ternyata tidak hanya berupa luka fisik, tapi mental dan psikologis juga. Dan jika dibiarkan terlalu lama, hal tersebut bisa berdampak negative bagi kehidupan sehari-hari, hubungan dengan orang lain maupun aktifitas pekerjaan kita.

Kita bisa berpikiran negatif akan diri sendiri, menyalahkan orang lain atau malah memiliki emosi yang meledak-ledak tanpa diduga. Bisa jadi hal tersebut disebabkan karena jebakan masa lalu, perasaan bersalah atau malah believe yang salah namun terlanjur tertanam dalam diri kita terlalu lama.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *