Runtuhnya Peradaban Pueblo Kuno Beri Peringatan Keras untuk Dunia

oleh -75 views

ZETIZEN RADAR CIREBON – Di daerah tempat perbatasan Colorado, Utah, Arizona, dan New Mexico kini bertemu, peradaban Pueblo kuno sempat berkembang pesat. Suku bangsa Pueblo kuno itu kemudian mengalami pasang surut keruntuhan beberapa kali selama rentang 800 tahun. (cva)

Setiap kali mereka pulih, budaya mereka berubah. Sejarah yang berubah ini terlihat pada tembikar-tembikar mereka dan tempat-tempat tinggal berbahan batu dan tanah luar biasa yang mereka ciptakan. Selama 300 tahun tersebut, beberapa suku Pueblo, yang juga menggunakan tato tinta, diperintah oleh dinasti matrilineal.

Seperti dalam keruntuhan peradaban kuno lainnya, keruntuhan sosial Pueblo kuno sejalan dengan periode perubahan iklim. Para petani Pueblo kuno sebenarnya sering bertahan melewati kekeringan, menunjukkan bahwa keruntuhan mereka lebih dari sekadar kondisi lingkungan.

Analisa Arkeolog

Jadi para arkeolog melihat lebih dekat apa yang terjadi di masyarakat ini. Menggunakan analisis lingkaran pohon balok kayu pada konstruksi bangunan-bangunan yang masyarakat kuno itu terdiri, memungkinkan para peneliti untuk membangun rangkaian waktu produktivitas masyarakat Pueblo tersebut.

Periode-periode puncak konstruksi Pueblo kuno ini terkelompok di sekitar musim-musim tanam jagung yang baik. Namun umumnya, masa-masa saat ada konstruksi tersebut sebenarnya secara iklim tidak lebih baik untuk menanam jagung. Daripada masa saat ada jeda dalam konstruksi tersebut.

Hasil sebuah penelitian baru yang terbit di jurnal PNAS menemukan bahwa sementara masyarakat Pueblo kuno sering bangkit kembali dengan cukup cepat setelah masa konstruksi terjeda. Ada perlambatan nyata dalam pemulihan yang bertepatan dengan peningkatan tanda-tanda kekerasan.

Perlambatan sistem semacam ini juga dapat terlihat pada keruntuhan-keruntuhan regional masyarakat kuno lainnya. Seperti Neolitikum Eropa, yang tidak memiliki kaitan dengan perubahan iklim. Menurut para peneliti, perlambatan menuju keruntuhan tiap peradaban ini menunjukkan sistem kompleks seperti kompleksnya hutan hujan tropis dan otak manusia.

“Sinyal-sinyal peringatan (keruntuhan suatu peradaban) itu ternyata sangat universal,” ujar Marten Scheffer, ilmuwan kompleksitas dari Wageningen University.

Scheffer dan para koleganya menduga ketegangan sosial yang terakumulasi perlahan –seperti ketidaksetaraan kekayaan, ketidakadilan rasial, dan keresahan umum. Hal ini tampaknya terjadi pada masyarakat Pueblo sekitar tahun 700, 900, dan 1140 Masehi.

Namun, selama akhir tahun 1200-an, kombinasi kekeringan dan konflik eksternal mendorong orang-orang Pueblo kuno untuk meninggalkan wilayah tersebut secara permanen.

“Masyarakat yang kompak seringkali dapat menemukan cara untuk mengatasi tantangan iklim,” jelas Tim Kohler, arkeolog dari Washington State University.

Hasil

Orang-orang Pueblo kuno menemukan cara untuk berkembang di tempat lain, mungkin dengan secara dramatis mengubah budaya mereka sekali lagi. Dan saat ini keturunan mereka tinggal di tanah-tanah kesukuan yang mengelilingi tempat-tempat kosong yang dulunya merupakan pusat dunia Pueblo. Sejarah mereka memberi kita peringatan yang signifikan.

“Hari ini kita menghadapi berbagai masalah sosial termasuk meningkatnya ketidaksetaraan kekayaan bersama dengan perpecahan politik dan ras yang dalam. Seperti halnya perubahan iklim tidak lagi bersifat teoritis,” kata Kohler.

Jika kita tidak siap menghadapi tantangan perubahan iklim sebagai masyarakat yang kohesif, akan ada masalah nyata.

Jika kita ingin menghindari pengulangan sejarah semacam itu, sebaiknya kita perlu memperhatikan dengan serius ancaman tersebut.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *