Suku Asmat, Titisan Para Dewa yang Mendiami Bumi Papua

oleh -93 views

ZETIZEN RADAR CIREBON – Bicara soal Suku Asmat, kita dibawa ke wilayah rimba di ujung timur Indonesia. Mereka tinggal di pedalaman dan pesisir Kabupaten Asmat yang menjadi bagian dari Provinsi Papua. Di sanalah sebuah cerita bermula untuk Suku Asmat pada ratusan bahkan ribuan tahun lalu. (az)

Sejak peradabannya bermula, Suku Asmat percaya bahwa mereka adalah titisan para Dewa. Kepercayaan tersebut mengakar kuat hingga kini. Lalu bagaimana cerita lengkapnya hingga mereka menyebut diri sebagai titisan Dewa?

Dewa Fumeripisy dan cikal bakal keahlian ukir

Suku Asmat

Tidak banyak masyarakat Indonesia yang tahu kalau ada yang spesial dari Suku Asmat, Papua. Bukan hanya karena budaya dan adat istiadatnya yang masih kental, tapi ada satu fakta yang akan mengejutkan siapa pun yang mendengarnya.

Salah satu suku terbesar di Papua ini ternyata merupakan titisan Dewa Furmeripitsy. Cerita bermula pada dahulu kala, Dewa Fumeripitsy turun ke bumi dan melakukan petualangan dari ufuk barat matahari terbenam. Ia turun ke bumi dan memulai petualangannya dari ufuk barat bumi Papua.

Saat petualangan menggunakan lesung, Dewa Fumeripisy terpaksa harus berhadapan dengan seekor buaya raksasa. Pertaruangan sengit pun terjadi dan Dewa berhasil mengalahkan buaya raksasa tersebut, walaupun harus terluka parah dan terdampar di tepi sungai Asewetsy.

Sang Dewa bertahan dalam sakit hingga seekor burung Flaminggo menemukannya, kemudian dirawatlah Sang Dewa. Saat sembuh, Sang Dewa memutuskan untuk terus tinggal di wilayah tersebut dan membangun rumah bernama Jew dan membuat dua buah patung.

Sang Dewa juga membuat genderang yang kemudian dikenal dengan Tifa atau Eme. Alat musik tabuh itu memiliki suara nyaring yang membuatnya terus menari.

Tarian Sang Dewa sangat dahsyat, hingga kedua patung yang dibuatnya menjadi hidup. Kedua patung pun menari mengikuti Dewa dan kemudian dipercaya Suku Asmat sebagai manusia pertama yang menjadi nenek moyang mereka.

Ternyata, menurut sejarah yang ditulis oleh asmatkab.go.id dan kemendikbud.go.id, Sang Dewa melanjutkan pengembaraan di pesisir selatan Papua dan masuk ke hulu sungai besar.

Dalam setiap persinggahannya, Sang Dewa selalu memahat patung manusia dan selalu membangun rumah panjang. Keajaiban berulang dengan hidupnya patung-patung yang dibuat oleh Sang Dewa dan menjadi warga suku Asmat kini.

Baca juga: Mengenal Rumah Adat Unik Khas Suku Osing

Keturunan-keturunan Fumeripitsy juga menjadi Wow-ipits dan Wow-iwir. Keturuanan tesebut adalah para pemahat Asmat yang menjadi cikal bakal keturunan selanjutnya dalam ahli ukir.

Kehidupan spiritual dalam makna ukiran Suku Asmat

Suku Asmat dikenal sangat ahli dalam mengukir, menurut mereka memahat ada campur tangan roh (leluhur). Mereka percaya bahwa Keahlian tersebut didapat sebagai keturunan dari Dewa Fumeripitsy. Ukiran menjadi media untuk menceritakan kisah-kisah kehidupan spiritual, masa lalu nenek moyang, hingga peraturan adat demi kelangsungan tradisi.

Patung Mbis adalah salah satu seni ukir patung yang sakral dan terkenal dari suku Asmat, patung Leluhur atau patung Mbis merupakan patung tonggak leluhur yang dibuat dengan ritual.

Diukir pada sebatang kayu yang dipercaya sebagai perwujudan nenek moyang. Pendahulu mereka yang sudah meninggal dapat ditemukan lagi melalui bentuk Patung Mbis. Oleh karena itu, nama orang yang meninggal menjadi nama untuk Patung Mbis.

Pembuatan Patung Mbis melewati proses yang panjang. Sebelum mulai mengukir, para pria berkumpul untuk merubuhkan pohon bakau. Mereka melakukannnya sambil berteriak. Setelah dibersihkan, batang pohon bakau dilumuri cairan warna merah.

Kemudian batang pun dibawa ke desa dan diberikan kepada wow-ipits yang merupakan ahli ukir patung. Patung membentuk beberapa manusia bertingkat. Pada bagian paling atas atau akar merupakan patung nenek moyang hingga bagian pangkal yang paling muda (baru meninggal).

Posisi tersebut berdasarkan kepercayaan suku Asmat, bahwa akar keturunan mereka berasal dari nenek moyangnya. Setelah selesai dibuat, patung diletakkan di depan rumah sebagai simbol adanya komunikasi antara dunia kematian dan dunia kehidupan.

Nilai spiritual yang terkandung membuat patung Asmat terkenal hingga ke mancanegara. Pada tahun 2013, patung-patung hasil karya pemahat Suku Asmat sempat di pamerkan di Museum etnografi Milan, Italia. Berjejer dengan ratusan benda seni lain yang telah diakui UNESCO sebagai warisan budaya.

Sumber: GNFI

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.