ASI dapat Mengurangi Risiko Darah Tinggi pada Bayi

oleh -104 views

ZETIZEN RADAR CIREBON – Telah diketahui, ASI awal atau kolstrum memang dikenal kaya akan gizi. Dan juga menjadi faktor pertumbuhan, komponen imunologi, dan sel induk yang sangat bermanfaat bagi bayi yang baru lahir. (cva)

Namun, jumlah dan lamanya waktu menyusui untuk mencapai manfaat pengurangan penyakit kardiovaskular, masih belum jelas.

“Ini adalah studi pertama yang mengevaluasi hubungan menyusui pada hari-hari pertama kehidupan dan tekanan darah pada anak usia dini,” kata penulis utama studi Kozeta Miliku dalam rilis.

Bayi yang menerima ASI sejak awal dari ibu mereka dalam jumlah yang relatif kecil memiliki tekanan darah lebih rendah pada usia 3 tahun. Terlepas dari berapa lama mereka disusui atau ketika mereka menerima makanan pendamping lainnya.

Tekanan darah normal pada bayi pasca kelahiran sampai satu bulan sistoliknya sekitar 67 hingga 84, dengan diastoliknya 35 hingga 53. Selanjutnya, sampai usia 12 bulan, bayi normal tekanan sistoliknya sekitar 72 hingga 104, dengan diastolik 37-56.

Pada balita usia tiga tahun, anak-anak yang tidak pernah diberi ASI memiliki tekanan darah lebih tinggi, rata-rata 103/60 mm Hg. Sedangkan dengan yang disusui dalam jangka waktu berapapun, lebih rendah dengan rata-rata 99/58 mm Hg.

Tekanan darah yang lebih rendah terjadi pula pada bayi yang hanya menerima ASI dini secara terbatas saat berada di RS. Atau bayi yang baru lahir. Tim melaporkan kelompok bayi ini memiliki tekanan darah yang rata-ratanya adalah 99/57 mm Hg. Sehingga lebih rendah daripada mereka yang tidak pernah disusui sama sekali.

Indeks massa tubuh mereka pada usia tiga tahun, atau faktor sosial sekitar, dan kesehatan atau gaya hidup mereka tidak mempengaruhi rendahnya tekanan darah pada balita yang telah disusui.

Hasil Penelitian

“Manfaat dari menyusui berkelanjutan dan eksklusif didokumentasikan dengan baik untuk berbagai kondisi kesehatan. Termasuk infeksi pernapasan dan penyakit diare selama masa bayi, dan kondisi kronis termasuk asma dan obesitas di kemudian hari,” kata penulis studi senior Meghan B. Azad.

“Studi kami menunjukkan bahwa untuk hasil kardiovaskular seperti tekanan darah, bahkan periode menyusui yang singkat bermanfaat. Ini menunjukkan kolostrum sebagai faktor kunci dalam membentuk proses perkembangan selama periode bayi baru lahir,” terangnya.

“Untuk berbagai alasan, menyusui berkelanjutan harus sangat didukung. Dan juga penting untuk dipahami bahwa ‘setiap tetes berarti,’ terutama dalam beberapa hari pertama kehidupan yang kritis.”

Penelitian ini menggunakan data dari Canadian Child Cohort Study, yang terdiri dari 3.000 anak yang lahir sejak 2009 hingga 2012. Kemudian para peneliti mengikuti pengalaman kehidupan awal yang membentuk kesehatan, dan perkembangan mereka.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.