Bahaya! Jangan Sering Curhat Di Media Sosial

oleh -98 views
Curhat di Media Sosial

ZETIZEN RADAR CIREBON – Saat ini, ada perubahan perilaku dalam masalah mencurahkan perasaan. Kalau dulu orang melakukannya dengan menuliskan di buku harian sehingga tidak setiap orang mengetahuinya, namun kini orang senang mengatakannya di media sosial. Kebiasaan sering curhat di media sosial ini, sudah semakin lumrah terjadi. (herdi)

Curhat Online Tidak Menyelesaikan Masalah

Penelitian mengungkapkan, kebanyakan orang yang lebih rileks. Tetapi hanya ketenangan sementara yang di dapat, karena curhat online justru malah membuat emosi seseorang sulit mereda sehingga berakibat buruk dalam jangka panjang.

Bennet, seorang psikologi memiliki seorang klien yang mengaku bahwa semakin marah setelah melampiaskan emosi dan membaca kekesalan orang lain di media sosial. Cara seperti ini sebenernya merusak secara emosional. Lebih baik kita curhat secara langsung dengan sesame teman dekat karena lebih baik untuk kesehatan.penelitian pun mengungkapkan tidak melakukan apapun saat marah selama dua menit, kekesalan kita malah berkurang loh!

Lalu kenapa orang lebih memilih curhat di media sosial di bandingkan curhat secara langsung? Irna Minauli, seorang psikolog menyampaikan, terbiasa curhat di media sosial karena ada perubahan tujuan dari curhatnya itu sendiri. “Kalau di buku harian sifatnya satu arah sehingga hanya sekadar pelampiasan emosi-emosi baik yang negatif maupun positif sehingga sifatnya hanya sebagai katarsis saja,” ujarnya.

“Sedangkan saat ini banyak orang yang membutuhkan perhatian langsung sehingga menuliskannya di media sosial dengan harapan orang akan bersimpati pada masalah yang di hadapinya,” tambah Irna.

Efek Candu Media Sosial

Memang sulit membayangkan dunia tanpa media sosial. Menurut Social Media Today, rata-rata orang menghabiskan setidaknya tiga jam untuk membuka media sosial setiap harinya. Yang bikin mencengangkan, ini setara dengan waktu yang di habiskan untuk makan dan minum, bersosialisasi, dan merawat diri setiap hari. Bahkan, menghabiskan waktu untuk membuka media sosial dapat berdampak negatif pada kesehatan mental. Akibatnya, seseorang rentan mengalami kecemasan, perasaan iri dan bahkan depresi.

Melansir dari Psychology Today, gangguan kecemasan media sosial adalah kondisi kesehatan mental yang mirip dengan gangguan kecemasan sosial atau gangguan kesehatan mental pada umumnya. Apalagi, seseorang yang sudah mengidap gangguan kecemasan sosial atau depresi bisa mengalami gejala yang lebih buruk ketika terlalu sering menggunakan media sosial.

Jaringan media sosial seperti Facebook, Twitter dan Instagram memang dapat bermanfaat bagi kehidupan. Namun, sarana bersosialisasi ini juga bisa menyebabkan masalah kesehatan mental termasuk kecemasan, kesepian, dan perasaan terisolasi. Sejumlah besar waktu yang di habiskan untuk membuka media sosial juga dapat berdampak negatif pada hubungan pribadi seseorang dengan keluarga dan teman-temanya.

Jika kamu mengurangi durasi penggunaan sosial media menjadi 30 menit per hari, maka akan terjadi peningkatan signifikan dalam kesejahteraan mental. Waktu ini cukup untuk mengurangi rasa kesepian dan depresi. Kecemasan dan FOMO (fear of missing out) menurun pada setiap penikmat media sosial.

Ini dia beberapa tips untuk membatasi diri dari media sosial dan tidak ketergantungan!

  • Bertanggung Jawab. Mungkin sulit untuk bertanggung jawab pada diri sendiri, tapi ini perlu di lakukan. Kamu bisa menggunakan fitur atau aplikasi yang dapat membantu kamu membatasi waktu untuk menggunakan sosial media. Tujuannya agar kamu bersungguh-sungguh untuk mengurangi waktu untuk melihat media sosial.
  • Lebih Realistis. Jika kamu menghabiskan banyak waktu di media sosial, mulailah dengan menetapkan tujuan yang lebih kecil dan lebih dapat di capai. Langsunglah menuju apa yang kamu apa yang sebenarnya kamu cari tanpa perlu “berpelesir” lebih jauh dan lebih lama.
  • Letakkan gadget jauh dari jangkauan. Meletakkan gadget di tempat yang tidak terjangkau dapat meningkatkan endorfin dan memberikan perasaan bahagia di otak. Ini juga dapat meningkatkan suasana hati dan meningkatkan kesehatan fisik.
  • Buat zona bebas media sosial. Kamu bisa melakukan kegiatan lain, misalnya memasak, makan bersama dengan keluarga tanpa gadget, atau berolahraga.

Media sosial memang membantu kita menghilangkan kebosanan dan bisa di gunakan untuk menghilangkan depresi bila di gunakan dalam waktu yang tepat. Tapi lebih baik untuk kita take some time untuk diri sendiri daripada membuang mayoritas waktu kita di media sosial dan membagikan perasaan kita di media sosial.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *