Cuplikan Sinopsis My Heroic Husband Episode 4 (3)

oleh -45 views

ZETIZEN RADAR CIREBON – Hai guys, pada kesempatan ini kami akan menyajikan potongan sinopsis drama Cina, drama ini berjudul My Heroic Husband. Berikut part 3 dari episode 4. Jika kamu belum membaca sinopsis episode pertama kamu dapat klik di sini(IND)

Cuplikan Sinopsis My Heroic Husband Episode 4 (3)

Ada apa dengan menantu? Apakah derajatnya menantu lebih rendah? Menantu juga punya hak asasi manusia. Pasangan suami istri, bagaimanapun derajatnya sama. Harus saling mencintai, tidak membedakan tinggi dan rendah,” protes Ning Yi, tidak bisa menerima ketidakadilan ini.

Mendengar perkataan itu, Li Pin dan Gao Qiu memberikan hormat mereka kepada Ning Yi. Karena Ning Yi telah mengatakan sesuatu yang ada di dalam hati mereka selama bertahun- tahun ini, jadi mereka kagum kepada Ning Yi.

“Walaupun kau sukarela datang ke sini, tak boleh di pukul dan dimarahi Guru. Jangan biarkan dia menghina kita,” kata Ning Yi, ingin menuntut keadilan.

Mendengar perkataan itu, Feng Yuan langsung berdiri. “Benar kata Saudara Ning, kami juga memiliki martabat,” katanya, setuju. Lalu semua orang didalam kelas keluar serta berseru hal yang sama dengan keras dan bersemangat. ‘Kami adalah menantu yang bermartabat.’

Mendengar keributan tersebut, Tuan Guru datang. Dengan berani, Ning Yi memberitahu Tuan Guru bahwa mereka ingin memberontak dan melawan. Sayangnya, saat Ning Yi mengatakan itu, para murid hanya diam. Dan empat teman yang menemani Ning Yi dihukum, mereka sudah berdiri di empat mereka kembali sambil mengangkat baskon di atas kepala mereka. Melihat itu, senyum percaya diri Ning Yi langsung menghilang. Dan Tuan Guru mendengus padanya.

“Kalian dihukum berdiri untuk merenungkan kesalahan kalian. Tapi kalian, malah berbincang di sini. Mau berbincang dengan istri kalian juga? Sekelompok sampah yang lemah,” hina Tuan Guru, memarahi empat teman Ning Yi. “Katakan, siapa yang suruh meletakkan baskomnya?” tanyanya, marah. Dan semuanya diam, tidak berani menjawab.

“Tuan, jangan tanya lagi. Aku yang menyuruh meletakkannya,” kata Ning Yi, mengakui dengan berani.

“Kau, ulurkan tanganmu,” perintah Tuan Guru.

“Kenapa? Kau mau memukulku?” tanya Ning Yi dengan keras.

“Ulurkan,” bentak Tuan Guru.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.