Hoarding Disorder! Apa Kamu Salah Satunya?

oleh -409 views
hoarding disorder

ZEIZEN RADAR CIREBON – Dalam medis, hoarding disorder adalah salah satu bentuk dari obsessive compulsive disorder (OCD), yang di tandai dengan kecemasan berlebihan karena tingginya hasrat untuk menyimpan barang yang sudah tidak di pakai lagi. Mereka cenderung tidak dapat membuang berbagai barang bekas, karena menganggap akan membutuhkannya nanti. (herdi)

Meski mirip dengan kemalasan, hoarding disorder nyatanya adalah sebuah gangguan, yang dapat memengaruhi kualitas hidup pengidapnya. Sama halnya seperti OCD atau bentuk gangguan mental lainnya, hoarding disorder juga perlu mendapat penanganan. Jadi, jika kamu atau orang terdekat memiliki kebiasaan menumpuk barang bekas atau sampah, dan tidak bisa menghentikannya, segera bicarakan dengan psikolog.

Baca juga : Mengenal Obsessive Compulsive Disorder (OCD)!

Jika hoarding disorder di biarkan berlanjut tanpa dapat penanganan, gangguan ini dapat membuat pengidapnya merasa stres, cemas, bahkan menutup diri dari kehidupan sosial. Mereka mungkin akan merasa malu akan kebiasaannya menumpuk sampah, tetapi tidak tahu bagaimana cara menghentikan kebiasaannya itu.

Gejala

Mereka yang mengalami hoarding disorder biasanya suka menumpuk atau menyimpan barang yang tidak di perlukan dalam jumlah berlebihan. Barang-barang yang di tumpuk kerap menimbulkan suasana kacau namun mereka seringkali merasa susah untuk membuangnya.

Selain itu, penderita hoarding disorder juga kerap mengalami gejala berikut:

  1.  cenderung perfeksioniosme
  2. kerap menghindar dan menunda seringkali memiliki masalah dengan perencanaan
  3. sulit membuat keputusan.

HD dapat menyebabkan masalah dalam hubungan, kegiatan sosial, pekerjaan dan berbagai fungsi dalam kehidupan mereka. Gangguan ini juga bisa menyebabkan masalah kesehatan serius.

Penyebab Terjadinya Hoarding Disorder

1. Ikatan dengan benda

Orang yang mengalami hoarding disorder kerap merasa benda yang mereka kumpulkan bisa sangat bermanfaat dan berharga suatu saat nanti. Terkadang, keinginan untuk menumpuk barang ini juga di landasi unsur emosional seperti mengingatkan pada seseorang atau kejadian tertentu

2. masa kecil sulit

Troubled inner child atau masa kecil yang tidak berjalan mulus juga bisa menjadi pemicu seseorang menjadi hoarding disorder. Pemicunya beragam, entah itu terbiasa melihat tumpukan barang di rumah, kerap di marahi, atau kesulitan membeli sesuatu karena keterbatasan justru bisa menjadi titik balik menjadi seseorang dengan HD.

3. Kebiasaan

Orang yang terbiasa hidup dalam lingkungan atau situasi berantakan juga bisa terbentuk menjadi HD. Lambat laun, mereka terbiasa dengan situasi serba tak teratur dan menganggapnya sebagai hal biasa. Terkadang, hoarding disorder lebih rentan terjadi pada orang yang hidup seorang diri.

4. Masalah mental

Terkadang HD juga berkaitan dengan masalah mental lainnya. Mulai dari cemas berlebih, ADHD, depresi, demensia, OCD, hingga skizofrenia. Perlu penanganan dari tenaga medis profesional jika masalah mental yang mendasari terjadinya HD

5. Fungsi eksekutif tak optimal

Menurut penelitian, HD berhubungan dengan ketidakmampuan seseorang menjalankan fungsi eksekutif, yaitu mengendalikan proses kognitif dan perilaku. Itulah sebabnya, orang dengan HD tak bisa meregulasi diri nya sendiri. Kerap kali, kondisi ini di sertai dengan kesulitan fokus, mengambil keputusan, dan mengklasifikasikan benda-benda.

HD bukan hal yang langka. Setidaknya 1 dari tiap 20 orang bisa mengalami tendensi melakukan kebiasaan hoarding secara signifikan. Baik perempuan maupun laki-laki sama-sama bisa mengalami HD.

Faktor penting terkait HD adalah usia. Orang dewasa berusia 55 tahun ke atas tiga kali lebih rentan mengalami HD ketimbang yang lebih muda. Rata-rata, orang yang merasa butuh bantuan psikiater akibat HDadalah mereka yang berusia 50 tahun.

Remaja bisa juga mengalami HD, namun gejalanya lebih tidak signifikan. Ini karena remaja biasanya masih tinggal bersama orangtua atau teman sekamar sehingga dapat menerapkan regulasi. HD bisa mulai mengintervensi kehidupan sejak usia 20-30 tahun.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *