Kupu-Kupu Xerces, Serangga AS Pertama yang Punah

oleh -125 views

ZETIZEN RADAR CIREBON – Sudah sekitar 80 tahun sejak kupu-kupu biru Xerces terakhir terlihat terbang melintasi bukit pasir pesisir California. Para peneliti dalam publikasi Biology Letters melaporkan bahwa spesies Xerces (Glaucopsyche Xerces) adalah spesies serangga AS pertama yang diketahui punah karena manusia. (cva)

Kupu-kupu ini dulu hanya hidup di Semenanjung San Francisco, Tetapi pada awal 1940-an, ia telah menghilang. Kepunahannya yang cepat dikaitkan dengan hilangnya habitat dan makanan tanaman asli. Sebagai akibat dari pembangunan perkotaan dan mungkin, masuknya semut invasif yang menyebar melalui pengiriman barang.

Walau demikian, tidak jelas apakah kupu-kupu biru Xerces adalah spesiesnya sendiri, atau hanya populasi terisolasi dari spesies kupu-kupu biru lain yang lebih tersebar luas.

Penelitian

Guna mengetahuinya, Moreau dan rekan-rekannya beralih ke spesimen Xerces berusia 93 tahun yang ditempatkan di Chicago’s Field Museum. Mereka mengekstraksi DNA dari sedikit jaringan serangga.

Meskipun DNA terdegradasi dari usia, tim dapat membandingkan gen Xerces yang dipilih dengan kupu-kupu biru lain yang terkait erat.P

Para peneliti juga membandingkan genom, atau buku instruksi genetik, dari mitokandria serangga. Namun Akito Kawahara, seorang ahli lepidoptero di Florida Museum of Natural History berpendapat bahwa hasilnya “cukup meyakinkan” bahwa kupu-kupu biru Xerces adalah spesiesnya sendiri.

Para peneliti membuat evolusi dengan menggunakan den dan mitogenom dan hasilnya menunjukkan bagaimana semua spesies kupu-kupu terikat satu sama lain. Tetapi kupu-kupu Xerces biru yang punah secara genetik berbeda, sehingga memerlukan klasifikasi sebagai spesies.

“Kami seperti kehilangan sepotong teka-teki keanekaragaman hayati yang membentuk permadani di wilayah Teluk San Francisco ketika spesies ini menuju kepunahan,” kata Moreau.

Spesies kupu-kupu yang punah menjadi kandidat untuk dibangkitkan, dengan kloning atau manipulasi genetik lainnya. Tapi Moreau memperingatkan untuk tidak melakukannya.

“Mungkin kita harus menghabiskan waktu dan energi dan uang. Untuk memastikan bahwa kita melindungi si biru yang sudah terancam punah yang kita ketahui,” katanya.

Populasi kupu-kupu kian hari semakin terancam oleh perubahan iklim, perubahan penggunaan lahan, dan penggunaan pestisida. Bagi Felix Grewe, seorang ahli biologi evolusioner di Field Museum, penemuan Moreau dan lainnya menggambarkan mengapa koleksi museum jangka panjang amat penting. Kegunaan sebenarnya dari spesimen mungkin tidak jelas selama bertahun-tahun. Lagi pula teknik genetik yang digunakan dalam penelitian untuk menjelaskan identitas asli kupu-kupu biru Xerces tidak ada ketika serangga itu punah.

Sumber: National Geographic Indonesia

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.