Mengenal Presistent Depressive Disorder (Dysthymia)

oleh -187 views

ZETIZEN RADAR CIREBON – Gangguan depresi persisten (PDD), sebelumnya di kenal sebagai dysthymia, adalah diagnosis yang cukup baru yang di tandai dengan depresi kronis. Edisi terbaru dari Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (DSM-5). Mengkonsolidasikan dysthymia dan gangguan depresi mayor kronis di bawah payung gangguan depresi persisten, yang mencakup depresi kronis yang berjalan pada spektrum dari ringan hingga berat. (herdi)

Perubahan diagnostik ini di buat untuk mencerminkan fakta bahwa tidak ada perbedaan yang bermakna secara ilmiah antara gangguan depresi mayor kronis dan apa yang sebelumnya di kenal dalam DSM-IV sebagai gangguan dysthymia.

Gejala Dysthymia

Gejala gangguan depresi persisten sangat mirip dengan gangguan depresi mayor. Namun, gejala ini bersifat kronis, yang berarti bahwa orang memiliki gejala depresi ini hampir setiap hari untuk jangka waktu setidaknya dua tahun untuk orang dewasa dan satu tahun untuk anak-anak dan remaja. Gejalanya meliputi:

  • Produktivitas menurun
  • Perasaan bersalah
  • Tidak berdaya
  • Perasaan sedih
  • Keputusasan
  • Menambah atau mengurangi nafsu makan
  • Sifat lekas marah
  • Kurang energi atau kelelahan
  • Kehilangan minat dan kesenangan dalam aktivitas sehari-hari
  • Suasana hati yang buruk

Penyebab Dysthymia

Seperti bentuk depresi lainnya, penyebab pasti PDD tidak di ketahui, tetapi ada sejumlah faktor yang di yakini berperan, termasuk:

  • Kimia otak: Keseimbangan neurotransmiter di otak dapat berperan dalam timbulnya depresi. Beberapa faktor lingkungan, seperti stres berkepanjangan, mungkin sebenarnya dapat mengubah bahan kimia otak ini. Antidepresan bekerja dengan mengubah neurotransmiter ini untuk meningkatkan mood.
  • Faktor lingkungan: Variabel situasional seperti stres, kehilangan, kesedihan, perubahan besar dalam hidup, dan trauma juga dapat menyebabkan depresi.
  • Genetika: Penelitian menunjukkan bahwa memiliki anggota keluarga dekat dengan riwayat depresi menggandakan risiko seseorang juga terkena depresi.

Dalam banyak kasus, faktor-faktor ini berinteraksi dengan tujuan meningkatkan risiko mengembangkan depresi.

Terapi Bicara

Psikoterapi mungkin melibatkan berbagai teknik yang berbeda, tetapi dua yang sering di gunakan adalah terapi perilaku kognitif (CBT) dan terapi interpersonal (IPT).

  • CBT: Jenis terapi ini berfokus pada pembelajaran untuk mengidentifikasi dan mengubah pola pikir negatif yang mendasari yang sering berkontribusi pada perasaan depresi.
  • IPT: Terapi ini mirip dengan CBT tetapi berfokus pada mengidentifikasi masalah dalam hubungan dan komunikasi lalu kemudian menemukan cara untuk melakukan perbaikan dalam cara Anda berhubungan serta berinteraksi dengan orang lain.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.