Sejarah Mangkuk Ayam Jago yang Legendaris

oleh -250 views

ZETIZEN RADAR CIREBON – Semangkuk mi ayam atau mi bakso, rasanya kurang autentik jika tersaji bukan dengan mangkuk bergambar ayam jago. Jika di era 70-an hingga 90-an, gambar ini hanya terpatri di sebuah mangkuk, generasi milenial hingga gen-Z justru lebih kreatif lagi dengan mengimplementasikannya ke topi, kaus, hingga tote bag. (cva)

Kembali ke mangkuk ayam jago, sejarah mangkuk ini tidak kalah menarik, sob. Tentu, akan menjadi sebuah percakapan yang memiliki daya tarik tersendiri. Bagaimana kisah mangkuk ini bisa sampai di Indonesia? Baca terus, ya!

1. Permintaan Kaisar Chenghua

Melansir dari tionghoa.info, awalnya, Kaisar Chenghua periode Dinasti Ming (1465-1487 M), memesan empat buah mangkuk bergambar ayam jago dan ayam betina. Kaisar memesannya kepada seorang perajin keramik yang memang menjadi langganan istana. Perajin asal daerah Jingdezhen (Provinsi Jiangxi) tersebut, memang terkenal akan kualitas keramiknya sejak abad ke-6.

Kaisar Chenghua memesan 4 mangkuk keramik dengan teknik doucai. Mangkuk-mangkuk itu khusus terbuat untuk dirinya dan permaisurinya sebagai tanda cinta. Cawan tersebut terkenal dengan Jigangbei atau “cawan ayam”, yang terdiri dari gambar ayam jago, betina, dan anak ayam yang bermakna kemakmuran. Banyak anak, banyak rezeki.

2. Makna gambar ayam di mangkuk

Melansir dari nusadaily.com, mangkok tersebut terkenal dengan sebutan Jigangbei, yang artinya ‘mangkuk ayam’. Pada mangkuk tersebut, ada lukisan ayam jago, ayam betina, serta sepasang anak ayam yang bermakna kemakmuran, banyak anak, banyak rejeki.

Mangkuk ayam ini pun memiliki makna simbolis. Kata Ji , yang berarti ‘ayam’, mirip bunyinya dengan kata Jia yang bermakna rumah atau keluarga. Sementara itu, gambar tanaman peony melambangkan kekayaan, serta gambar pohon pisang dengan daun lebar bermakna keberuntungan untuk keluarga.

3. Si ayam jago yang semakin sensasional

Pada periode Kekaisaran berikutnya, mangkuk ayam ini terus mendapat apresiasi dan menarik minat setiap Kaisar yang berkuasa, hingga mematok harga yang cukup mahal untuk mangkuk ini. Bahkan, pada tahun 1776, Kaisar Qian Long (1735-1796), membuat puisi khusus yang memuja mangkuk tersebut.

Kemudian pada masa Dinasti Qing, mangkuk ayam jago pun mulai diproduksi massal. Dalam perkembangan selanjutnya, mangkuk ayam jago merupakan lambang kerja keras bagi petani di Tiongkok, untuk mendapat kemakmuran. Hal ini mengingat peran ayam jago yang selalu membangunkan mereka di pagi hari untuk segera bekerja di ladang.

4. Penyebaran mangkuk ayam jago

Sekitar awal abad 20, mangkuk ini mulai merambah dunia. Konon, awalnya dibawa oleh para perantau, kemudian pabriknya dimulai di Provinsi Guangdong. Lalu, mulailah penyebaran ke beberapa negara di Asia Tenggara. Mangkuk ayam jago pun semakin banyak diproduksi. Mulai dari menggunakan teknik gambar tangan hingga menggunakan mesin.

5. Masuknya mangkuk ayam jago ke Indonesia

Meski punya sejarah panjang, jangan sembarangan memproduksi barang dengan gambar ini, ya, sob. Karena, sudah ada satu perusahaan yang memiliki hak cipta atas gambar itu. Pada surat kabar Kompas tanggal 4 September 2017, terdapat pengumuman dari PT Lucky Indah Keramik, bahwa hanya perusahaan ini yang memiliki hak untuk memproduksi barang-barang dengan gambar ayam jago.

PT Lucky Indah Keramik juga memperingatkan bagi para produsen, importir, distributor, agen ataupun pengecer untuk tidak membeli, menyimpan, mengimpor dan memperdagangkan barang-barang yang bergambar ayam jago. PT Lucky Indah Keramik hanya menunjuk PT Kencana Makmur Mitra Abadi sebagai distributor tunggal.

6. Mangkuk yang menjadi barang incaran para kolektor

Saat ini, mangkuk ayam jago yang berasal dari masa kekaisaran Tiongkok, menjadi buruan para kolektor barang antik di seluruh dunia. Cirinya, di bagian bawah mangkok ada stempel cap, atau nama dan tahun dinasti pembuatan.

Mangkuk Chenghua asal Dinasti Ming yang sudah berusia 500 tahun, hanya tersisa 16 buah di dunia. Empat di antaranya dimiliki oleh perorangan, sisanya terdapat dalam museum publik.

Bahkan, mangkuk ini pernah dilelang beberapa kali oleh badan lelang Sotheby’s di Hong Kong pada tahun sejak tahun 1960 hingga tahun 2014. Tidak tanggung-tanggung, nilai lelang tertingginya mencapai US$36,3 juta atau setara dengan Rp508,2 miliar. Wow!

Nah, bagaimana? Menarik bukan? Mangkuk yang merupakan simbol keberuntungan, kerja keras, dan kemakmuran ini bisa menjadi salah satu pilihan piranti makan di rumah kita. Juga sebagai benda nostalgia masa lalu saat menikmati semangkuk mi ayam atau soto di warung makan bersama keluarga.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *