Skizofrenia! Gejala, Jenis, Penyebab, dan Penanganan

oleh -134 views
schizophrenia disorder
portrait of a crazy paranoid girl with mental disorders on a dark background

ZETIZEN RADAR CIREBON – Skizofrenia adalah suatu kondisi yang di tandai dengan kegagalan dalam membedakan hal yang nyata dan yang tidak nyata. Gangguan ini mempengaruhi keberfungsian otak yang berdampak pada cara berpkir, bertindak, dan merasa. (herdi)

Umumnya, pengidap skizofrenia mengalami gejala psikosis, yaitu kesulitan membedakan antara kenyataan dengan pikiran pada diri sendiri. Hal ini yang membuat skizofrenia di samakan dengan psikosis, padahal keduanya ternyata berbeda. Psikosis hanya salah satu gejala dari beberapa jenis gangguan mental, termasuk skizofrenia.

Gejala yang Di alami Pengidap Skizofrenia

  • Memiliki kepercayaan yang salah (delusi)
  • Mendengar atau melihat sesuatu yang tidak di alami orang lain atau tanpa stimulus yang nyata (halusinasi)
  • Memunculkan perilaku atau cara berbicara yang mulai tidak tertata (disorganized thinking dan  motor behaviour)
  • Tidak tertarik melakukan kegiatan yang bertujuan (avolition)
  • Tidak bisa merasakan kesenangan dari pengalamannya (anhedonia), serta kurangnya ketertarikan terhadap interaksi sosial (asociality)

Umumnya gejala-gejala ini biasanya muncul pada usia remaja akhir dan usia dewasa. Orang-orang dengan penyakit ini seringkali menunjukan afek yang tidak tepat atau tidak sesuai misalnya tertawa tanpa seba. Mereka biasanya tidak menyadari bahwa apa yang terjadi pada diri nya merupakan hal yang abnormal atau aneh.

Jenis-jenis skizofrenia

Ada beberapa jenis atau tipe dari penyakit ini yang mungkin terjadi pada seseorang. Berikut adalah jenis yang dimaksud:

  • Skizofrenia paranoid, merupakan jenis yang paling umum terjadi. Gejala paling khas dari jenis ini adalah delusi dan halusinasi akan suatu ketakutan tertentu (waham paranoid). Tidak hanya itu, penderita kondisi ini pun tidak dapat mengendalikan perilakunya. Akibatnya, pengidap skizofrenia paranoid sering berperilaku tidak pantas, sulit mengendalikan emosi, hasrat, serta keinginannya.
  • Skizofrenia katatonik, Kebalikan dari paranoid, skizofrenia katatonik adalah jenis yang paling langka. Kondisi ini umumnya di tandai dengan gerakan yang tidak biasa, terbatas, dan tiba-tiba. Penderitanya mungkin sering beralih dari sangat aktif ke sangat diam dan sebaliknya. Mereka pun mungkin tidak banyak bicara, tetapi juga sering meniru ucapan atau gerakan lain.
  • Skizofrenia tidak terdiferensiasi, Jenis ini di tandai dengan berbagai gejala dari tipe skizofrenia lainnya. Penderitanya mungkin menjadi tidak banyak bicara atau mengekspresikan diri, tetapi mereka juga bisa menjadi bingung atau paranoid.
  • Schizoaffective disorder, Penderita schizoaffective disorder umumnya mengalami delusi (waham) dan gejala skizofrenia lainnya, tetapi juga di sertai dengan satu atau lebih gejala gangguan mood. Ini termasuk depresi serta mania atau hipomania.

Penyebab Skizofrenia

Meskipun penyebab utama skizofrenia belum di temukan, ada beberapa faktor yang di sinyalir menjadi penyebab dari masalah kesehatan ini, antara lain:

  • Faktor Genetik. Keturunan dari pengidap memiliki risiko 10 persen lebih tinggi untuk mengalami kondisi serupa. Risiko tersebut meningkat 40 persen lebih besar ketika kedua orangtua sama-sama pengidap. Sementara itu, anak kembar yang salah satunya mengidap skizofrenia akan memiliki risiko hingga 50 persen lebih besar.
  • Komplikasi Kehamilan dan Persalinan. Skizofrenia dapat di sebabkan oleh beberapa kondisi yang mungkin terjadi ketika hamil dan dampaknya akan terlihat saat anak lahir. Kondisi ini, seperti paparan racun dan virus, ibu seorang pengidap diabetes, perdarahan dalam masa kehamilan, serta kekurangan nutrisi.  Selain dari kehamilan, komplikasi yang terjadi ketika persalinan juga dapat menyebabkan seorang anak mengidap skizofrenia. Contohnya, berat badan rendah saat lahir, kelahiran prematur, dan asfiksia atau kekurangan oksigen saat di lahirkan.
  • Faktor Kimia pada Otak. Ketidakseimbangan kadar serotonin dan dopamin pada otak dapat menjadi salah satu penyebab dan meningkatkan risiko seseorang pasien. Keduanya merupakan zat kimia yang berfungsi untuk mengirim sinyal antara sel-sel otak sebagai bagian dari neurotransmitter.

Cara Menanganinya

Biasanya berlagsung seumur hidup dan di tangani baik secara psikologis dan medis. Secara medis, pasien akan di berikan obat-obatan antipsikotik untuk membantu mengontrol gejala-gejalanya.

Setelah gejala-gejalanya mulai lebih terkontrol, individu bisa di berikan psikoterapi seperti terapi kognitif perilaku untuk mengubah pola pikirnya.

Edukasi untuk keluarga agar dapat memberikan support yang di butuhkan, mengikutsertakan dalam support group agar mendapakan dukungan positif lebih anyak.

Rehabilitasi serta pelatihan keterampilan sosial untuk membantunya kembali berfungsi baik dalam berinteraksi  dengan orang lain.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.