Takut Akan Kesuksesan? Yuk Kita Pahami Tentangnya

oleh -17 views
takut akan kesuksesan

ZETIZEN RADAR CIREBON – Rasa takut akan kesuksesan melibatkan rasa takut akan pencapaian, seringkali sampai pada titik di mana orang akan menyabotase diri mereka sendiri. Walaupun kesuksesan umumnya dipandang sebagai sesuatu yang diinginkan, ada beberapa alasan mengapa orang mungkin takut melakukannya dengan terlalu baik. (herdi)

Penting untuk diketahui bahwa orang sering tidak takut pada kesuksesan itu sendiri. Sebaliknya, ketakutan mereka terpusat pada konsekuensi potensial dari kesuksesan.

Karakteristik

Takut akan kesuksesan tidak selalu mudah dikenali. Beberapa tanda bahwa seseorang mungkin memiliki ketakutan ini meliputi:

  • Kurangnya tujuan: Dengan memiliki harapan yang sangat rendah, orang memastikan bahwa mereka tidak pernah membuat kemajuan nyata menuju kesuksesan.
  • Menyerah: Dalam banyak kasus, orang menggagalkan kesuksesan mereka sendiri dengan berhenti tepat sebelum tampaknya mereka akan berhasil.
  • Penundaan: Menunda sesuatu sampai menit terakhir berarti bahwa orang tidak melakukan pekerjaan mereka yang terbaik atau paling bijaksana, yang dapat secara serius merusak peluang mereka untuk berhasil.

Mungkin sulit untuk melihat ini sebagai tindakan yang di motivasi oleh rasa takut akan kesuksesan. Dalam banyak kasus, mereka mungkin terlihat sebagai kemalasan, kurangnya motivasi, dan disiplin yang buruk.

Mengidentifikasi Takut Akan Kesuksesan

Jika Anda menduga bahwa Anda mungkin takut sukses, ada beberapa hal yang dapat Anda cari. Ini termasuk:

  • Takut apa yang akan terjadi jika Anda menjadi sorotan
  • Khawatir akan meninggalkan orang lain jika Anda maju karena kesuksesan Anda
  • Merasa cemas untuk mendapatkan tanggung jawab baru sebagai hasil dari kesuksesan Anda
  • Khawatir bahwa segala sesuatunya akan menjadi lebih rumit daripada yang dapat Anda tangani
  • Takut komentar dari penentang atau khawatir mengalami masalah sosial lainnya

Kadang-kadang orang menyadari beberapa kekhawatiran ini, tetapi banyak yang mungkin kurang memahami penyebab sebenarnya dari perilaku sabotase diri mereka.

Penyebab Rasa Takut Akan Kesuksesan

Takut akan kesuksesan dapat memiliki sejumlah penyebab yang berbeda. Beberapa di antaranya adalah:

  • Sindrom penipu: Terkadang orang yang mengalami kesuksesan takut bahwa prestasi mereka tidak layak atau bahwa mereka tidak sebaik orang lain di bidangnya. Orang mungkin takut bahwa mereka tidak akan dapat memenuhi harapan atau bahwa orang lain akan menemukan bahwa mereka tidak siap untuk tantangan.
  • Salah menafsirkan perasaan yang terkait dengan kesuksesan: Kegembiraan dan kecemasan memiliki banyak sinyal fisik yang sama. Karena itu, terkadang mudah untuk salah mengartikan perasaan gembira sebagai gugup atau cemas. Hal ini dapat menyebabkan orang menghindari situasi yang memicu emosi tersebut.
  • Takut akan reaksi balik: Terkadang orang takut sukses karena potensi dampak sosial atau hubungan yang di antisipasi. Peneliti menyebut fenomena ini sebagai penghindaran serangan balik. Misalnya, perempuan mungkin menghindari promosi diri karena mereka takut hal itu tidak sejalan dengan peran gender tradisional.
  • Pengalaman negatif: Orang-orang yang pernah mengalami beberapa hasil negatif di masa lalu setelah melakukannya dengan baik, seperti di cemooh karena “pamer” atau menanggung kesulitan karena kesuksesan ini—mungkin juga takut melakukannya dengan baik lagi di masa depan.
  • Efikasi diri yang buruk: Penelitian telah menemukan bahwa orang yang memiliki rasa takut akan sukses juga cenderung memiliki efikasi diri yang rendah. Self-efficacy mengacu pada keyakinan dan kemampuan seseorang untuk mencapai tujuan mereka
  • Rasa malu atau kecemasan sosial: Orang yang pemalu atau cemas secara sosial mungkin takut berhasil karena mereka tidak ingin menjadi sorotan.

Perawatan

Untungnya, terapi bisa menjadi pengobatan yang efektif untuk rasa takut akan kesuksesan. Beberapa pendekatan yang dapat di gunakan antara lain:

  • Terapi psikoanalitik: Jenis psikoterapi ini di fokuskan pada pemahaman pengaruh bawah sadar dan pengalaman masa kanak-kanak dan bagaimana mereka dapat berkontribusi pada masalah seseorang saat ini.
  • Terapi perilaku kognitif (CBT): CBT membantu orang belajar bagaimana mengidentifikasi pikiran negatif otomatis yang berkontribusi pada perilaku maladaptif.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.