3 Fakta yang Terjadi Saat Kepemimpinan Soeharto

oleh -65 views
Source: Google

ZETIZEN RADAR CIREBON – Siapa presiden Indonesia yang paling berjasa menurut kalian? Presiden Soekarno, Presiden Habiebie, atau Presiden Jokowi? Semua nya mempunyai jasanya di bidang masing-masing dan pasti ada kekurangannya juga dari setiap kepemimpinannya. Tapi di antara semua presiden pasti kita setuju kalau presiden Soeharto adalah yang “tergelap” di antara semuanya. (herdi)

Sosok Suharto belakangan diimpikan sebagian masyarakat Indonesia ketika kondisi ekonomi di nilai tidak membaik dan cita-cita reformasi di anggap tidak sesuai harapan.

Tidak ada yang tahu secara pasti sejak kapan kaos dan sticker bergambar Suharto mulai meramaikan lapak-lapak milik pedagang di kawasan Malioboro, Daerah Istimewa Yogyakarta.

Sesuatu yang sebenarnya tidak terbayang akan terjadi pada tahun 1998 atau sesaat setelah dia mengundurkan diri dan sempat di kucilkan.

Museum Memorial Jenderal Besar H.M Suharto banyak menghadirkan cerita dan diorama yang menggambarkan keberhasilan Suharto mulai dari perannya pada peristiwa tiga puluh September, Operasi Trikora di Irian Jaya hingga keberhasilan di masa pembangunan lima tahunan.

Namun anda tidak akan menemukan catatan kritis seputar Suharto saat dia masih berkuasa. Bagaimana dia memperlakukan orang-orang yang di tuduh sebagai antek komunis atau penjelasan seputar kasus penculikan sejumlah aktivis menjelang Suharto lengser.

Cerita seputar penghentian penyelidikan terkait sejumlah kasus yang di tuduhkan kepada Suharto juga tidak akan temui di tempat ini. Meskipun di sana tidak ada citra buruk tentangnya, tidak bisa menghapus cerita gelapnya yang sudah tertanam di masyarakat. Di lansir dari Idntimes, berikut adalah fakta yang terjadi saat kepemimpinan presiden Soeharto.

1.      Diskriminasi Terhadap  Masyarakat Papua

Di lansir dari laman Human Rights Watch, Soeharto berhasil mendapat kontrol penuh atas Papua setelah melakukan pemungutan suara palsu. Pemerintahan otoriter pun menyusul dan semua orang yang menunjukkan tanda nasionalisme Papua akan di kenakan hukuman penjara selama 15 tahun.

Pada saat yang sama, kebijakan transmigrasi di berlakukan, yang membawa begitu banyak orang Jawa ke Papua sampai melebihi jumlah penduduk asli di sana. Penduduk asli Papua hanya bisa menyaksikan ketika Orde Baru mengeruk semua kekayaan alam di tanah mereka.

Sampai hari ini, dua dekade setelah Soeharto di gulingkan, Papua tetap menjadi wilayah yang terpinggirkan dan menjadi korban diskriminasi dari mayoritas penduduk Indonesia.

2.      Pembunuhan massal simpatisan PKI

Setelah berhasil menumpas kudeta G30S, Soeharto segera memulai kampanye untuk menghilangkan para lawan politiknya. Pertama-tama, ia harus membersihkan Partai Komunis Indonesia (PKI) dengan pasukannya sendiri.

Nyatanya, sasaran pembersihan itu tidak hanya anggota PKI. Simpatisan, tertuduh PKI, dan siapa pun yang di anggap mengancam kekuasaannya akan di musnahkan pada saat itu juga. Selama lebih dari setahun, para intelektual dan etnis Tionghoa Indonesia terbunuh dalam peristiwa ini.

Perkiraan umum yang di ambil dari laman The Diplomat menyebutkan bahwa angka kematian mencapai 500 ribu-1 juta, walau beberapa orang mengklaim jumlahnya mungkin mencapai 2,5 juta.

Pembersihan ini sangatlah brutal karena satuan militer memaksa warga biasa untuk melakukan pembunuhan, termasuk teman dan kerabat mereka sendiri. Di beberapa provinsi, penduduk desa di perintahkan untuk memukuli ratusan tahanan hingga mati dengan linggis.

Setelahnya, banyak mayat yang tergeletak di sepanjang jalan, sampai bau darah menyebar di kota-kota dan sungai tersumbat dengan mayat yang di buang ke dalamnya. Saat peristiwa ini berakhir, tidak ada oposisi “kiri” yang tersisa untuk menentang sang diktator baru.

3.      Petrus

Sebagian besar masyarakat Indonesia mungkin setuju jika Orde Baru sangat sukses dalam menekan kejahatan. Nyatanya, keberhasilan tersebut berasal dari kebijakan yang mengerikan karena pada saat itu. Alih-alih memenjarakan para penjahat, Soeharto justru memerintahkan anak buahnya untuk membunuh mereka.

Di kenal dengan nama Penembakan Misterius (Petrus), operasi itu bertujuan untuk membuat teror ke dalam hati masyarakat Indonesia. Selama periode ini, militer, polisi, dan antek-antek pemerintah akan menangkap siapa pun yang di curigai telah melakukan kegiatan kriminal dan mengeksekusi mereka tanpa proses pengadilan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *