Duta Anti Perundungan SMK Wahidin Kota Cirebon

oleh -40 views

Zetizen Radar Cirebon – Perundungan bisa terjadi dimana saja. Begitu pula dalam lingkungan sekolah yang persentase kemungkinan terjadinya lebih besar pada anak-anak usia remaja. Untuk mencegah hal itu, hadirlah suatu komunitas di SMK Wahidin Kota Cirebon yang menciptakan sosialisasi tentang bentuk-bentuk perundungan dan bagaimana cara mencegah perundungan tersebut.

Baca juga : Aksi Sosial Komunitas Sukarelawan Cirebon

Beranggotakan 30 Orang

Komunitas Duta Anti Perundungan dan Tindak Kekerasan SMK Wahidin Kota Cirebon, yang di bina oleh Yuningsih SH dan Mia Noviani Spd di bentuk pada tanggal 5 Oktober 2021. Komunitas ini di bentuk sebagai wadah sosialisasi untuk mengenalkan dan mencegah terjadinya perundungan di sekolah. Anggotanya berjumlah 30 orang, di rekrut melalui survei awal dari kementerian melalui u-report Indonesia. Dengan sasarannya yakni siswa, guru, dan staf TU.

Kegiatan

Kegiatan dalam komunitas ini di antaranya memberikan bimbingan teknis oleh fasilitator guru, duta anti perundungan memberikan sosialisasi kepada teman-teman tentang sekolah bebas anti perundungan, dan memberikan informasi tentang bentuk-bentuk perundungan dan upaya pencegahannya.

“Tujuan di bentuknya komunitas agen perundungan ini untuk menjadikan SMK Wahidin sebagai sekolah ramah anak yang terbebas dari perundungan dan tindak kekerasan,” tutur Ibu Yuningsih dalam wawancara kepada Radar Cirebon.

Suka Duka

Dalam menjalankan sebuah kegiatan, tentunya ada tantangan yang di hadapi. Begitu pula dengan agen perundungan ini, seperti yang di katakan oleh Yuningsih bahwa masih kurang pahamnya siswa melapor jika terjadi perundungan di sekolah.

“Suka duka dalam agen perundungan ini, sukanya mendapat ilmu baru dan bisa kompak dalam mengurangi perundungan di sekolah. Untuk dukanya masih banyak yang menganggap bahwa perundungan/bully merupakan hal yang biasa dan lumrah,” ucap Ibu Yuningsih.

Pada akhir wawancara, terbesit harapan untuk agen perundungan ini. Di antaranya adalah tidak ada lagi perundungan yang terjadi dalam ranah sekolah. Sehingga, bisa menciptakan perlindungan HAM kepada para warga sekolah.

“Harapan untuk kedepannya. Semoga dengan adanya duta anti perundungan, di SMK Wahidin tidak terjadi lagi perundungan yang di lakukan oleh guru, siswa, ataupun warga sekolah lainnya, baik di lakukan secara fisik, verbal, bahkan sosial,” tutup Ibu Yuningsih mengakhiri wawancara. (Susan)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.