Catastrophizing! Akibat Salah Menarik Kesimpulan

oleh -76 views

ZETIZEN RADAR CIREBON – Catastrophizing adalah distorsi kognitif yang mendorong orang untuk melompat ke kesimpulan yang paling buruk, biasanya dengan informasi yang sangat terbatas atau alasan objektif untuk putus asa. Ketika situasinya mengecewakan, tetapi belum tentu bencana, mereka masih merasa seperti berada di tengah-tengah krisis. (herdi)

Berikut adalah beberapa contoh bencana:

  • “Jika saya gagal dalam ujian ini, saya tidak akan pernah lulus sekolah, dan saya akan gagal total dalam hidup.”
  • “Apabila saya tidak segera pulih dari prosedur ini, saya tidak akan pernah menjadi lebih baik, dan saya akan cacat seumur hidup saya.”
  • “Jika pasangan saya meninggalkan saya, saya tidak akan pernah menemukan orang lain, dan saya tidak akan pernah bahagia lagi.”

Dokter juga menyebut bencana sebagai “pembesar”, karena seseorang membuat situasi tampak jauh lebih buruk, mengerikan, atau parah daripada yang sebenarnya.

Bencana dapat menyebabkan depresi pada beberapa individu. Untungnya, ada beberapa metode untuk mengatasi kondisi tersebut dan menghindari bencana.

Mengapa catastrophizing membuat efek rasa sakit semakin parah?

Catastrophizing, yang kadang-kadang disebut “pembesar,” dapat dianggap sebagai beban kedua atau cedera yang mengikuti yang pertama, seperti rasa sakit yang berkobar. Pikiran yang memperbesar rasa sakit dan menekankan kemungkinan terburuk untuk masa depan, dapat memperburuk stres dan kecemasan. Bagi beberapa orang, bencana juga dapat menghambat aktivitas fisik, yang dapat menjadi bagian berharga dari pengelolaan bentuk-bentuk tertentu dari nyeri kronis.

Penyebab

  • Ambiguitas. Ambiguitas atau ketidakjelasan dapat membuka seseorang untuk berpikir bencana.
  • Nilai. Hubungan dan situasi yang dijunjung tinggi oleh seseorang dapat mengakibatkan kecenderungan untuk menimbulkan bencana. Ketika sesuatu sangat penting bagi seseorang, konsep kehilangan atau kesulitan bisa lebih sulit untuk dihadapi.
  • Takut. Ketakutan, terutama ketakutan irasional, memainkan peran besar dalam bencana. Jika seseorang takut pergi ke dokter, mereka bisa mulai memikirkan semua hal buruk yang bisa dikatakan dokter kepada mereka, bahkan jika mereka hanya pergi untuk pemeriksaan.

6 tips untuk mengelola catastrophizing

Mengakui bahwa hal-hal yang tidak menyenangkan terjadi

Hidup ini penuh dengan tantangan serta hari baik dan buruk. Hanya karena satu hari buruk tidak berarti semua hari akan buruk.

Mengenali ketika pikiran tidak rasional

 Catastrophic sering mengikuti pola yang berbeda. Seseorang akan mulai dengan pikiran, seperti “Saya sakit hari ini.” Mereka kemudian akan memperluas pemikirannya dengan kekhawatiran dan kecemasan, seperti, “Rasa sakitnya hanya akan bertambah buruk,” atau “Sakit ini berarti saya tidak akan pernah sembuh.”

Mengatakan “berhenti!”

Untuk menghentikan catastrophizing yang berulang-ulang, seseorang mungkin harus mengatakan dengan keras atau di kepala mereka “berhenti!” atau “tidak lebih!” Kata-kata ini dapat mencegah aliran pemikiran berlanjut dan membantu seseorang mengubah arah pemikirannya.

Memikirkan hasil lain

Alih-alih memikirkan hasil negatif, pertimbangkan yang positif atau bahkan pilihan yang kurang negatif.

Menawarkan afirmasi positif

Ketika datang ke catastrophizing, seseorang harus percaya pada diri mereka sendiri dan bahwa mereka dapat mengatasi kecenderungan mereka untuk takut akan yang terburuk. Mereka mungkin ingin mengulangi afirmasi positif untuk diri mereka sendiri setiap hari.

Mempraktikkan perawatan diri yang sangat baik

Catastrophizing lebih mungkin mengambil alih ketika seseorang lelah dan stres. Istirahat yang cukup dan melakukan teknik penghilang stres, seperti olahraga, meditasi, dan membuat jurnal, semuanya dapat membantu seseorang merasa lebih baik.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.