Taaruf dari Kacamata Psikolog serta Dalilnya

oleh -38 views

ZETIZEN RADAR CIREBON – Pernikahan adalah puncak dari hubungan antara wanita dan lelaki. Kita sebagai umat muslim di anjurkan untuk menikah sebagai wujud ketaatan kita, bilamana sudah siap secara finansial dan emosional. Dalam Islam juga ada hukum dalam hubungan pernikahan, sepeti Taaruf. (herdi)

Taaruf adalah kegiatan berkunjung ke rumah seseorang untuk berkenalan dengan penghuninya. Taaruf dapat menjadi langkah awal untuk mengenalkan dua keluarga yang akan menjodohkan salah satu anggota keluarga.

Dalam pernikahan ta’aruf, kelompok pengajian, guru dan teman-teman di kelompok pengajian merupakan faktor struktural penting. Mereka berkontribusi sejak proses perkenalan, selama dalam perkawinan, bahkan pada saat pasangan sudah bercerai. Guru membantu mempertemukan pasangan dan menjadi penasehat, sementara  teman-teman pengajian menjadi sistem pendukung.

Taaruf dari sisi psikolog

Di lansir dari situs cantik.tempo. Menurut psikolog Kasandra Putranto siapa pun bisa menjalani proses ini untuk menentukan pendamping hidupnya. Namun, sebelum memutuskannya, seseorang harus mampu memiliki keyakinan kuat akan tujuan dan manfaat dari taaruf yang mereka lakukan. Tidak tergoda dengan faktor-faktor yang mampu menggoyahkan, sebenarnya taaruf baik saja.

Dalil taaruf dalam Al-Quran

Di Al Quran, kita bisa menemukan kata itu dalam surat Al Hujurat ayat 13. Allah berfirman, “Hai manusia sesungguhnya kami telah menciptakan kalian dari seorang pria dan seorang wanita, lalu menjadikan kalian berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kalian saling mengenal (li-ta’arofu)”.

Allah menjelaskan bagaimana manusia diciptakan berbeda. Mulai dari berbeda suku, bangsa, hingga berbeda jenis kelamin (pria dan wanita).

Pria dan wanita merupakan manusia ciptaan Allah yang memiliki perbedaan karakter. Perbedaan itu semakin jelas jika kita melihat kepribadian masing-masing secara mendalam. Setiap orang, baik pria maupun wanita, memiliki latar belakang, sifat, dan keinginan yang berbeda.

Dari Ibnu Abbas ra, Ia berkata: Aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam berkhutbah, ia berkata: Jangan sekali-kali seorang laki-laki berkhalwat dengan seorang perempuan kecuali beserta ada mahramnya, dan janganlah seorang perempuan melakukan musafir kecuali beserta ada mahramnya” (muttafaq alaihi)

Dalam hadist di atas tadi menjelaskan bahwa seorang yang taaruf tidak dibolehkan bertemu dengan pasangannya berdua saja. Kecuali ada mediator atau seseorang lain dari pihak keluarga atau teman yang menemaninya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.