Empati Bisa Selamatkan Dunia? Bagaimana Bisa?

oleh -53 views

ZETIZEN RADAR CIREBON – Sulit untuk melihat seseorang yang menderita. Kita mungkin merasakan penderitaan mereka atau menyerap kesedihan mereka; kita mungkin khawatir bahwa kita tidak tahu apa yang harus dilakukan atau dikatakan. Saat-saat tidak nyaman itu mungkin membuat kita berpaling dari kesusahan mereka—untuk menjaga kesejahteraan kita sendiri atau untuk melanjutkan hidup kita. Tapi ini adalah pendekatan yang salah, kata psikiater dan peneliti Helen Riess, penulis buku baru efek empati. (herdi)

Kemampuan untuk terhubung secara empatik dengan orang lain—merasa bersama mereka, peduli dengan kesejahteraan mereka, dan bertindak dengan belas kasih—sangat penting bagi kehidupan kita, membantu kita bergaul, bekerja lebih efektif, dan berkembang sebagai masyarakat.

Apa itu empati?

Banyak yang mengacaukan empati (perasaan dengan seseorang) dengan simpati (merasa kasihan pada seseorang), dan bahkan para peneliti yang mempelajarinya telah mengaburkan air dengan banyak definisi. Begitu empati diaktifkan, tindakan welas asih adalah respons yang paling logis.

Mengapa kita merasa empati?

Ini memiliki dasar struktural dalam ilmu saraf. Ketika kita melihat seseorang menderita, ekspresi wajah, ukuran pupil, dan bahasa tubuh korban dapat secara langsung merangsang sistem “mirror neuron” untuk memicu respons empatik, terutama jika situasi orang tersebut mirip dengan yang kita hadapi di masa lalu. Tapi kimia otak saja tidak sepenuhnya menjelaskannya. Ada juga alasan psikologis mengapa orang merasa untuk orang lain.

Teori psikologis dan neurologis menunjukkan bahwa ada dua sistem mendasar dalam kognisi manusia: sistem pengalaman dan sistem analitik. Sistem pengalaman dipicu ketika kita melihat, misalnya, korban individu dari suatu kemalangan.

Ketika kita menyaksikan penderitaan, sistem pengalaman kita memicu bagian empatik dari otak, dan mungkin menggerakkan kita untuk menawarkan bantuan kepada orang yang membutuhkan. Tetapi sama mudahnya bagi kita untuk terhubung dengan individu, seringkali sulit bagi kita untuk berempati dengan banyak orang.

Bagaimana Ini bisa menyelamatkan dunia?

Di dunia kita yang penuh, di mana konflik berkecamuk, pengungsi terus menghadapi bahaya, dan politisi berdalih tentang hal-hal penting untuk kesejahteraan populasi, empati lebih penting dari sebelumnya.

Untuk menggerakkan jarum pada masalah yang paling penting bagi kesehatan — dari nasib Undang-Undang Perawatan Terjangkau, hingga pertanyaan kritis tentang perang dan perdamaian — kita harus menggunakan kisah pribadi untuk memicu rasa positif ini, tetap fokus pada efek keputusan besar terhadap kehidupan individu.

Kita ambil contoh yang mudah saja, jika kalian tahu kasus pelaporan yang di lakukan Nurhayati asal Cirebon menjadi senjata makan tuan. Bukannya Nurhayati yang menjadi pelapor karena atasannya melakukan korupsi, namun malah Nurhayati yang di tetapkan sebagai tersangka. Apabila ada rasa empati di sana, mereka tidak akan membalikan fakta yang ada, mereka tidak akan melakukan tindakan korupsi. Bayangkan saya ketika ada orang yang ingin melakukan tindakan korupsi, orang itu membayangkan hasil yang akan dia timbulkan, dia berpikir dampak buruknya pada orang lain. Lalu setelah itu, ia memutuskan untuk tidak korupsi.

Apabila orang lain dapat merasakan perasaan orang lain, maka tidak aka nada peperangan di luar sana. Rusia tidak akan memulai perang apabila presiden Vladimir Putin bisa merasakan perasaan korban perang.

Sumber: Medium

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.